Dinamika Hubungan Inggris – Rusia Pasca Percobaan Pembunuhan Agen Rusia

Dalam sejarah, hubungan diplomatik antara Inggris dan Rusia selalu berada dalam keadaan tidak baik, hubungan mereka dimulai pada masa Perang Dingin tahun 1991. Sebagian besar ketegangan kedua negara berasal dari perbedaan interpretasi peristiwa setelah jatuhnya Uni Soviet. Selain masa perang dingin, penyebab hubungan kedua negara memburuk yaitu karena adanya kasus Krimea pada tahun 2014, Rusia ikut campur dalam referendum Brexit pada tahun 2016. Ketegangan Inggris dan Rusia kembali berada pada titik terendah hubungan diplomatiknya pada bulan Maret 2018, hal tersebut terjadi karena adanya upaya pembunuhan terhadap seorang mantan mata-mata Rusia yaitu, Sergei Skripal beserta putrinya Yulia Skripal, di Salisbury, Inggris (Yacob, 2020).

Sergei Viktorovich Skripal lahir pada tanggal 23 Juni 1951 di Kaliningrad, Rusia. Sergei Skripal adalah seorang perwira di Direktorat Intelijen Militer (GRU), dan pernah menjabat sebagai direktur Departemen Personalia GRU. Ia merupakan mantan petugas Intelijen Militer Rusia (Main Intelligence Directorate) dan bekerja sebagai agen ganda untuk Badan Intelijen Inggris (Secret Intelligence Service/MI6) (Carthy, 2020). Skripal direkrut oleh Secret MI6 dan dianggap bekerja sama dalam membocorkan rahasia pemerintah Rusia. Akibatnya ia ditangkap dan di adili pada tahun 2006 atas tuduhan spionase oleh Pengadilan Militer Regional Moskow dan dijatuhi hukuman selama 13 tahun.

Selama kurang lebih 6 tahun Sergei Skripal mendekam di penjara karena telah membocorkan rahasia negara ke MI6. Sejak tahun tersebut, Sergei Skripal telah memberikan informasi ke Inggris dan badan intelijen barat secara terus menerus. Sebagai kesepakatan yang telah dilakukan antara Inggris dengan Sergei Skripal, Pemerintah Inggris memutuskan untuk memberikan suaka kepada Sergei Skripal dan Sergei Skripal dapat pindah ke Inggris dan membeli sebuah rumah pada tahun 2011 di Salisbury, Inggris.

Pada tanggal 4 Maret 2018 Sergei Skripal dan Yulia Skripal terlihat sedang menghabiskan waktu di pusat kota di Salisbury. Tidak lama setelah berjalan-jalan, Sergei Skripal beserta putrinya Yulia Skripal ditemukan tidak sadarkan diri di bangku taman kota Salisbury, Inggris. Menurut beberapa saksi yang melihat, mereka terduduk dengan mulut berbusa dengan mata terbuka yang hanya terlihat bagian putihnya saja. Sergei Skripal dan anaknya dibawa oleh paramedis ke Rumah Sakit Distrik Salisbury dan mengatakan bahwa mereka telah ditemukan racun di dalam tubuhnya. Dalam penyelidikan para korban, para ahli mengambil sampel yang kemudian akan diuji di Laboratorium Sains dan Teknologi Pertahanan di Porton Down, hasil uji tersebut diketahui bahwa adanya racun yang digunakan untuk membunuh korban, racun tersebut terindikasi racun A-234 atau yang biasa disebut racun Novichok. Setelah polisi mengumumkan peristiwa tersebut, banyak pihak dan lembaga yang ikut turun tangan untuk menyelidiki dan memecahkan kasus dugaan perencanaan peracunan dan pembunuhan.

Investigasi dilakukan segera oleh Pemerintah Inggris setelah penyerangan tersebut dan kasus ini ditetapkan sebagai kasus percobaan pembunuhan berencana terhadap Sergei Skripal dan putrinya, Yulia Skripal. Mengetahui adanya insiden tersebut, Kedubes Rusia di London mengundang otoritas Inggris untuk memastikan transparansi dalam informasi terkait penyelidikan dan perkembangan kondisi dari Sergei Skripal dan putrinya. Setelah mengetahui jenis racun yang digunakan dalam insiden tersebut adalah jenis racun Novichok buatan Rusia, Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson menyatakan bahwa sangat mungkin jika Rusia bertanggung jawab atas adanya serangan yang menimpa Sergei Skripal dan putrinya, Yulia Skripal. Racun gas Novichok ternyata telah lama dikembangkan oleh Uni Soviet (Rusia) yang digunakan untuk menyempurnakan bahan utama pembuatan nuklir.

Dalam pernyataan Perdana Menteri Inggris Raya, Theresa May, menyatakan besar kemungkinannya bahwa Rusia masih memproduksi dan menggunakan agen saraf Novichok. Rusia mempunyai sejarah dalam melakukan pembunuhan yang dibiayai oleh negara (state-sponsored assasinations). Pemerintah Inggris Raya menilai bahwa Rusia memandang para pengkhianat negara dijadikan target yang sah untuk pembunuhan. Presiden Vladimir Putin telah menginginkan Sergei Skipal terbunuh dan bersumpah untuk melakukan balas dendam karena adanya pengkhianatan yang diperbuatnya.

Kasus peracunan Sergei Skripal dan putrinya Yulia Skripal menjadikan hubungan antara Rusia dan Inggris kembali mengalami ketegangan. Hubungan diplomatik antara Rusia dan Inggris tidak dalam kondisi baik. Pemerintah Inggris langsung meminta Rusia untuk menjelaskan racun yang telah dikembangkan oleh Uni Soviet berada dalam tubuh Sergei Skripal. Namun pihak Rusia tidak cepat tanggap untuk menjelaskan sehingga pemerintah Inggris memiliki keputusan untuk mengusir diplomat Rusia yang sedang bertugas di Inggris. Sebanyak 23 diplomat Rusia diusir sebagai bentuk peringatan kepada Rusia agar memberikan keterangan mengenai racun Novichok yang berada di dalam tubuh Sergei Skripal dan putrinya.

Namun, Rusia menyangkal atas tuduhan yang telah diberikan oleh Inggris atas kasus peracunan terhadap Sergei Skripal. Sebagai bentuk menyangkal atas tuduhan yang diberikan, Rusia ikut melakukan kebijakan yang sama dengan Inggris dengan memulangkan diplomat Inggris sebanyak 23 orang. Tidak hanya mengusir diplomat Inggris, pemerintah Rusia juga menutup kantor British Council di Rusia Sehingga hubungan diplomatik Rusia dan Inggris menjadi tidak baik dan terganggu. Tindakan yang dilakukan oleh Inggris terhadap Rusia memicu beberapa negara untuk memulangkan pula diplomat Rusia yang sedang bertugas sebagai bentuk peringatan terhadap Rusia (Suastha, 2018). Citra Rusia di hadapan beberapa negara menjadi buruk.

Kasus Sergei Skripal ini berdampak bagi hubungan antara Inggris dan Rusia, salah satu nya pada bidang olahraga, yaitu sepakbola. Pemilik klub liga Inggris, Chelsea, yaitu Roman Abramovich merupakan seorang taipan/konglomerat asal Rusia yang terkena dampak dari kasus Sergei Skripal. Ia tidak bisa menghadiri klub nya, Chelsea saat berlaga di final FA Cup 2018 melawan Manchester United. Ia tidak diizinkan masuk ke wilayah Inggris karena kesulitan dalam urusan perpanjangan visa. Hal ini terjadi karena adanya pemeriksaan ketat bagi warga Rusia yang ingin memasuki wilayah Inggris menyusul kasus Sergei Skripal tersebut (“Rusia – Inggris Tegang, Pemilik Chelsea Tak Dapat Visa”, 2018).

Referensi

Carthy, D. (2020). The Skripal Files: The Life and Near Death of a Russian Spy. Intelligence and National Security, 35(7), 1–4. doi:10.1080/02684527.2020.1746127

Yacob, E. D. (2020). Dampak Percobaan Pembunuhan Mantan Mata – Mata Rusia Terhadap Hubungan Bilateral Inggris-Rusia. eJournal Ilmu Hubungan Internasional, 8(1), 124-135. https://ejournal.hi.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2020/10/11.%20Erick%20D%20Jacob_Publish%20(124-135)%20(10-05-20-06-02-34).pdf

Rusia – Inggris Tegang, Pemilik Chelsea Tak Dapat Visa. (2018, 21 Mei). Tempo.co. https://dunia.tempo.co/read/1091022/rusia-inggris-tegang-pemilik-chelsea-tak-dapat-visa/full&view=ok

Suastha, R. D. (2018, 27 Maret). Kasus Racun di Inggris, 22 Negara Usir Diplomat Rusia. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/internasional/20180327114402-134-286188/kasus-racun-di-inggris-22-negara-usir-diplomat-rusia

Author:

15 thoughts on “Dinamika Hubungan Inggris – Rusia Pasca Percobaan Pembunuhan Agen Rusia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *