Ancaman Keamanan Non Tradisional Penyeludupan Senjata Ilegal di Asia Tenggara

Negara-negara di kawasan Asia Tenggara secara geopolitik memiliki peluang yang sangat rentan untuk terjadinya konflik karena memiliki posisi yang sangat berdekatan satu sama lain. Selain itu, konflik bilateral dan multilateral seringkali sulit atau bahkan tidak dapat dihindari. Tetapi, seiring berjalannya waktu, konflik dan ancaman tradisional seperti perang antar negara mulai tergantikan kepada konsep keamanan yang lebih mengarah kepada kepentingan kemanusiaan. Peralihan ini mulai terlihat pasca perang dingin dan berkembang dengan cepat. Berbagai fokus kemanan yang awalnya selalu mengenai isu militer dan politik, lama kelamaan bergeser ke isu-isu yang lebih berhubungan dengan kondisi hidup masyarakat. Pasca terjadinya perang dingin, konsep keamanan dalam sistem internasional mulai mengalami pergeseran secara cepat. Pergeseran konsep keamanan ini berubah dari yang awalnya fokus pada isu keamanan dan isu militer menjadi isu mengenai kondisi hidup masyarakat, yang tadinya fokus pada konsep keamanan manusia kemudian bergeser menjadi konsep keamanan manusia. Keamanan non-tradisional merupakan konsep keamanan yang menekankan pada kepentingan keamanan aktor non negara. Pada konsep keamanan non-tradisional ini, aktor yang berperan bukan hanya negara dan isu yang dibahas bukan lagi hanya seputar keamanan militer atau politik melainkan membahas mengenai isu keamanan manusia, keamanan lingkungan hidup, keamanan ekonomi, keamanan energi, keamanan pangan, dan hingga isu keamanan kesehatan.

Ancaman keamanan non-tradisional (Non-Traditional Security/NTS) di Asia Tenggara harus mulai dipandang sangat penting, hal ini didasarkan oleh tiga alasan. Pertama, selama dekade terakhir keadaan lingkungan keamanan regional di Asia Tenggara terlah berubah secara drastis akibat dihadapkan oleh tantangan keamanan baru yang muncul dari berbagai ancaman transnasional. Kedua, keamanan non-tradisional merupakan hal yang tidak dapat dihindari oleh wilayah yang mengalami modernisasi secara cepat. Ketiga, ancaman keamanan non-tradisional memiliki jaringan yang sangat luas dan mampu menjerat banyak negara masuk ke kejahatan global. Dalam beberapa dekade terakhir ancaman terhadap keamanan manusia di kawasan Asia Tenggara juga semakin meningkat dalam berbagai isu seperti isu keamanan non tradisional salah satunya adalah penyeludupan senjata kecil dan senjata ringan (Othman et al., 2013).

Perdagangan senjata ilegal merupakan isu kejahatan transnasional yang cukup tinggi di kawasan Asia Tenggara. Perdagangan senjata ilegal awalnya terjadi karena beberapa negara di Asia Tenggara seperti Thailand, Kamboja, dan Myanmar berperan sebagai supplier senjata api murah. Bisnis perdagangan senjata ilegal ini kemudian meningkat dan melibatkan individu, kelompok serta aktor-aktor non negara tertentu. Penyeludupan senjata kecil dan ringan (Small Arms and Light Weapon/SALW) seringkali digunakan oleh aktor-aktor non negara sebagai cara untuk mempengaruhi pengambilan keputusan pemerintah melalui penggunaan atau ancaman kekerasan. Meningkatnya konflik penyeludupan senjata di kawasan Asia Tenggara dapat mengancam stabilitas politik, sosial, serta ekonomi. Penyeludupan senjata seringkali dilakukan oleh aktor non negara dengan tujuan pemberontakan atau revolusi, penyebaran senjata api kecil di negara yang lemah dapat menimbulkan ancaman bagi kelangsungan negara tersebut karena adnya kelompok-kelompok anti pemerintah yang ingin melakukan pemberontakan. Penyeludupan SALW juga berfokus pada pasar gelap Kamboja yang digunakan sebagai salah satu daerah transit utama transfer SALW (Wall, 2006).

Penyeludupan senjata ilegal yang terjadi di kawasan Asia Tenggara merupakan salah satu isu yang berbahaya bagi keamanan manusia karena dapat menimbulkan peningkatan terjadinya kriminalitas. Belum ada perjanjian regional yang mengontrol perdagangan senjata api karena perdagangan senjata merupakan hal yang sulit dikontrol karena memiliki kaitan dengan aktivitas perbatasan antar negara. Karena belum adanya perdagangan regional mengenai kontrol perdagangan senjata api maka tidak adanya landasan hukum bagi negara untuk melakukan tindakan lebih lanjut terhadap pelaku penyeludupan senjata api ilegal. Di kawasan Asia Tenggara, ASEAN melakukan upaya untuk menangani kasus perdagangan senjata ilegal. ASEAN melakukan upaya melalui pertukaran informasi serta membentuk ASEAN Chief of Police serta membuat legislasi untuk menanggulangi penyeludupan senjata di kawasan regional. ASEAN juga berupaya untuk melakukan kerjasama dengan organisasi-organisasi internasional untuk mendapatkan atau saling bertukar informasi mengenai kasus penyeludupan senjata dan negara-negara anggota ASEAN juga disarankan untuk selalu memberikan pertukaran informasi mengenai kasus penyeludupan senjata ilegal.

Referensi

Othman, Z., Jian, N. R. N. A., & Mahamud, A. H. (2016). Non-Traditional Security Issues and the Stability of Southeast Asia. Jurnal Kajian Wilayah, 4(2), 150-164. https://doi.org/10.14203/jkw.v4i2.265

Wall, H., K. (2006). The Dynamics of Small Arms Transfers in Southeast Asia Insurgency. [Thesis]. University of Canterbury. https://ir.canterbury.ac.nz/handle/10092/895

Author: Dyah Ronauly

10 thoughts on “Ancaman Keamanan Non Tradisional Penyeludupan Senjata Ilegal di Asia Tenggara

  1. Artikelnya sangat bagus, menambah pengetahuan. Perdagangan senjata illegal memang sangat berbahaya, senjata legal saja sering kali digunakan dengan sewenang-wenang sudah seringkali berita “viral” diindonesia tentang penyalahgunaan senjata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *