Soft Power Asia Timur Melalui Kebudayaan

Soft power hadir sebagai bentuk hubungan antar negara yang lebih mengutamakan pendekatan, peningkatan citra negara agar menjadi lebih baik, yang dilakukan melalui diplomasi dan negosiasi, pertukaran budaya, dan internasionalisasi budaya negara satu dengan negara yang lain. Penggunaan soft power di era kemajuan teknologi seperti sekarang ini semakin marak, dikarenakan batas-batas negara semakin bias. Soft power sendiri merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain untuk mendapatkan hasil yang diinginkan melalui daya tarik dan tanpa paksaan ataupun kekerasan. 

Unsur-unsur yang termasuk ke dalam soft power adalah sistem nilai, budaya, dan kebijakan (Nye, 2008). Soft power dapat berjalan sesuai dengan harapan apabila aktor – aktor yang terkait saling menghargai upaya tersebut, karena soft power tidak akan berjalan apabila masih ada pihak yang ingin mendominasi power secara paksa. Soft power harus dijalankan tanpa batas kreatifitas dalam pelaksanaannya (Nye, 2004).

Di kawasan Asia Timur, penggunaan soft power merupakan cara yang berpengaruh dalam mempertahankan eksistensi mereka di dalam dunia internasional, terutama soft power melalui kebudayaan. Negara-negara di kawasan Asia Timur yang di maksud yaitu Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok. Tujuan ketiga negara di kawasan Asia Timur tersebut menjalankan soft power tidak lain dan tidak bukan untuk memenuhi kepentingan mereka, juga kerja sama yang lebih erat antar negara. Menurut Joseph Nye, budaya adalah salah satu alat soft power, pengertian budaya itu sendiri yaitu seperangkat nilai dan praktek yang terdapat makna di dalamnya bagi masyarakat (Nye,2004). Ada dua jenis budaya, yaitu budaya modern atau popular culture dan budaya tradisional. 

Untuk soft power melalui budaya yang dilakukan oleh Tiongkok dominan di jalankan dengan budaya tradisional. Karena sumber utama soft power Tiongkok berasal dari budaya tradisionalnya. Dengan peningkatan ekonomi Tiongkok yang pesat, maka pasti akan semakin diperlukannya peningkatan soft power di bidang lain, salah satunya budaya. Penyaluran budaya Tiongkok dalam dunia internasional dilakukan melalui berbagai bidang budaya seperti pameran seni, pertunjukan musik, dan acara-acara besar lainnya seperti World Expo ditahun 2010 dan Olimpiade ditahun 2008. 

Budaya tradisional dilakukan melalui segi perayaan hari besar, populasi dan penyebaran bahasa. Bahasa Mandarin merupakan bahasa yang peling banyak dituturkan di dunia, hal tersebut membuat penggunaan dan pembelajaran Bahasa Mandarin di sekolah – sekolah di luar negeri Tiongkok juga semakin signifikan peningkatannya sebagai bahasa asing. Selain itu, dikarenakan masyarakat Tionghoa merupakan etnis yang senang melakukan penjelajahan dan perjalanan untuk berdagang ke berbagai negara, maka hal tersebut membuat etnis Tionghoa menyebar luas populasinya di negara yang dikunjunginya, hal tersebut juga yang menjadikan Bahasa Mandarin semakin luas dan banyak yang mempelajari. Selain itu, Tiongkok juga memiliki proyek pengembangan Bahasa Mandarin di seluruh dunia, yang dikenal dengan Confucius Institute (CI). Sedangkan budaya modern dilakukan melalui musik dan film. Tujuan penggunaan soft power tersebut untuk terjalinnya hubungan yang lebih erat dengan negara lain, dan agar masyarakat internasional semakin mengenal Tiongkok.

Selanjutnya, penggunaan soft power melalui kebudayaan Korea Selatan. Pemerintah Korea Selatan dapat dikatakan berhasil dalam memperluas dan mempromosikan budaya populernya melalui drama, film, dan musik atau lagu. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah Korean Wave atau Hallyu.   Korean Wave memberikan pengaruh budaya mengenai Korea Selatan yang kuat, tetapi selain memberikan pengaruh budaya, Korean Wave juga berpengaruh besar terhadap peningkatan ekonomi dan menciptakan citra bahwa Korea Selatan merupakan Negara yang ramah.

Globalisasi industri budaya Korea Selatan, terutama untuk alasan sosial, ekonomi dan politik dimulai pada tahun 1990-an dan terus berkembang eksistensinya hingga saat ini. Dari yang pasar awalnya hanya kawasan Asia, kini Korean Wave bagai udara, telah merambah kawasan Amerika dan Eropa. Sejak krisis keuangan Asia tahun 1997, pemerintah Korea Selatan telah mengkaji ulang secara menyeluruh proses modernisasi dan menargetkan ekspor budaya populer sebagai inisiatif pengembangan ekonomi baru. Korean Wave merupakan salah satu sumber utama pendapatan asing yang vital bagi kelangsungan ekonomi Korea Selatan. Korea Selatan dengan sumber daya alam yang terbatas, berusaha mengurangi ketergantungannya pada basis manufaktur di bawah ancaman persaingan dari Tiongkok. 

Korea Selatan telah mengalami pertumbuhan ekspor yang menakjubkan dalam produksi budayanya. Nilai ekonomi Korean Wave di industri musik mencapai 40 miliar Won pada tahun 2007 serta investasi sebesar 2 triliun Won pada tahun 2008 (Suryani, 2014). Korea telah menjadi “Hollywood of the East”, yang di dorong oleh media (televisi maupun internet), industri produk budaya (industri drama televisi, musik K – pop, film, animasi dan game online), industri produk komersial seperti LG dan Samsung.

Jepang sebagai salah satu negara di kawasan Asia Timur juga menggunakan kebudayaan sebagai soft power. Contoh dari budaya tradisional Jepang adalah pakaian tradisional kimono, olahraga bela diri seperti judo dan sumo, upacara minum teh, dan yang lainnya. Sementara untuk budaya modern Jepang, meliputi anime, manga, cosplay, musik dan film. Budaya modern Jepang saat ini digunakan sebagai sarana diplomasi. Seperti kegiatan yang diselenggarakan oleh Japan Foundation, yaitu Japan Film Festival di berbagai negara, seperti Indonesia. Lu Over the Wall dan Mary and the Witch Flower merupakan contoh film yang digunakan pemerintah Jepang sebagai ikon untuk membangun persepsi negara Jepang bagi masyarakat internasional. Japan Foundation terbentuk dikota Tokyo pada 1972. Japan Foundation merupakan organisasi yang bergerak mempromosikan kebudayaan Jepang kepada dunia internasional. Selain unsur industri budaya, penemuan teknologi Jepang juga memiliki pengaruh bagi negara-negara industri lain di dunia (Marsh, 2018).

Jepang, Tingkok, dan Korea Selatan merupakan tiga negara yang masuk dalam 20 besar negara di dunia dengan penggunaan soft power yang tinggi. Menurut data dari Brand Finance Global Soft Power Index dalam The World’s Top 20 Soft Power Nations 2021, Jepang adalah Negara Asia terbaik dan urutan dua secara global setelah Jerman dalam penggunaan soft power dengan skor Global Soft Power Index 60,6 dari 100. Sementara Tiongkok berada dalam urutan delapan dengan skor Global Soft Power Index 54,3 dari 100, dan Korea Selatan berada diurutan 11 dengan skor Global Soft Power Index 51,3 dari 100.

Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang sebagai negara-negara yang berada di kawasan Asia Timur, mempertahankan soft power melalui budaya. Selain untuk diplomasi publik juga untuk kerja sama antar institusi dan individu dalam jangka panjang. Soft power juga digunakan sebagai sarana komunikasi dan untuk mempengaruhi melalui promosi dengan publik di negara lain. 

Referensi

Nye, J. S. (2004). Soft Power: The Means to Success in World Politics. Public Affairs.

Nye, J. S. (2008). Public Diplomacy and Soft Power. The ANNALS of the American Academy of Political and Social Science, 616(1), 94-109. https://doi.org/10.1177%2F0002716207311699 

Suryani, E. P. (2014). Korean Wave sebagai Instrumen Soft Power untuk Memperoleh Keuntungan Ekonomi Korea Selatan. Jurnal Politik Internasional: Global, 16(1), 69-83. https://doi.org/10.7454/global.v16i1.8 

Marsh, J. (2018, 10 Desember). Earprints, Tail Therapy and Calorie Scanners: Japan’s Latest Inventions. CNN. https://edition.cnn.com/2017/11/16/asia/cea-tec-on-japan/index.html 

Author: Mudhy Azizah

Mahasiswi kelas HI di Asia Tenggara dan Asia Timur

7 thoughts on “Soft Power Asia Timur Melalui Kebudayaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *