Strategi Maritim India Dalam Membendung Agresivitas China’s Naval Presence di Kawasan Samudra Hindia

Kebangkitan China saat ini menandai adanya pergeseran kedudukan suatu negara dalam dunia internasional. Dengan reformasi yang diterapkan Deng Xiaoping pada tahun 1977, secara perlahan mulai merekonstruksi krisis ekonomi yang dihadapi oleh Tiongkok dan mulai mengantarkan China sebagai raksasa perekonomian baru, bukan hanya di Asia bahkan dunia. Perekonomian yang semakin pesat, disertai dengan anggaran militer yang semakin tinggi, akhirnya mendorong China dalam memperluas ekspansi dan hegemoninya ke wilayah-wilayah yang dinilai strategis, salah satunya adalah Samudra Hindia.

Samudra Hindia merupakan jalur vital bagi arus perdagangan negara-negara di dunia. Tidak dapat dipungkiri bahwa Samudra Hindia menjadi arena persaingan bagi kepentingan negara-negara besar dalam melindungi national interest mereka di wilayah tersebut. Namun, persaingan antara China dan India dapat dikatakan paling intensif dan menegangkan di Hindia. Pasalnya, kedua negara pernah terlibat konflik dalam perang Sino-India pada tahun 1962, dimana konflik tersebut akhirnya membawa India pada kekalahan. Lalu, keberpihakan China terhadap Pakistan memberikan tantangan tersendiri terhadap posisi India bukan hanya di Asia, tetapi juga di Samudra Hindia.

India sebagai negara yang pernah mengalami kekalahan dengan China, terus melakukan berbagai upaya dalam melakukan pembenahan dan memodernisasi militernya untuk menghadapi kekuatan China. Terlebih lagi, adanya kehadiran angkatan laut China (China’s naval presence) di Samudra Hindia mampu menggeser hegemoni dan keunggulan geografis India di Samudra Hindia. Diketahui China’s naval presence di Samudra Hindia mulai aktif pada tahun 2008, hal itu dilihat dari mulai dibangunnya pangkalan militer China dan pengerahan kapal angkatan laut China di Teluk Aden. Tentunya hal ini akan mengancam kepentingan nasional India itu sendiri, karena sejauh ini perdagangan India masih bergantung pada Samudra Hindia. Menurut Narendra Modi selaku Perdana Menteri mengatakan bahwa hampir 90% perdagangan India bergantung pada aset minyak, gas dan mineral yang diangkut melalui laut (Perwita, 2020).

Oleh karena itu, jika Samudra Hindia berada dalam kekuasaan China, maka akan menghambat India dalam mengembalikan lagi kekuatan perekonomiannya di Samudra Hindia. Untuk menjaga keamanan kepentingan nasionalnya di Samudra Hindia, India menerapkan beberapa strategi, khususnya dalam memperkuat aspek maritim negaranya di Samudra Hindia. Beberapa strategi ini diimplementasikan sebagai bentuk balance of power India dalam membendung agresivitas China’s naval presence di Samudra Hindia.

Strategi pertama India adalah melakukan pengembangan kekuatan dan kapabilitas maritim nasional, dalam hal ini India mulai mengubah doktrin maritimnya menjadi ‘blue water maritime’ sejak tahun 2005. Perubahan doktrin ini dikarenakan India mengetahui bahwa angkatan lautnya jauh lebih kecil dibandingkan angkatan laut China. China memiliki total kapal perang permukaan di Samudra Hindia sebanyak 283 kapal, sedangkan India hanya 66 kapal perang (Sethi, 2017). Dari adanya gap ini, India mulai memperluas armada permukaannya melalui pengerahan sekitar 50 armada kapal perang siap tempur di bawah program “Mission based development” Angkatan Laut India di Samudra Hindia. Selain itu, India meluncurkan sebuat satelit pertamanya GSAT-7 untuk meningkatkan kemampuan dalam hal pengawasan angkatan laut India. Kemudian, India juga memiliki integritas jaringan dan informasi dengan bandwith yang memadai untuk mengawasi keamanan sektor maritim (Ministry Of Defence (Navy) India, 2015).

Strategi kedua dengan melakukan pendekatan diplomasi dengan negara-negara ekstra power dalam mendukung keamanan maritimnya di Samudra Hindia. Dalam hal ini, India melakukan penguatan coast guard melalui naval exercise MALABAR dengan Amerika Serikat dan Jepang tahun 2015 dan 2017, pelatihan itu dilakukan guna mendukung pemahaman mengenai masalah maritim dan memperkuat interperabilitas bersama. India juga melakukan kerjasama dengan Amerika Serikat dalam pembuatan kapal induk yang dapat mengangkut batalion dan 1000 personil bersenjata lengkap pada tahun 2011. Kedua negara juga berhasil dalam membangun Fregat Siluman dalam mendukung pengembangan blue water navy di Samudra Hindia, kemudian AS juga melengkapi kapal perang India dengan sistem radar aegis untuk mendeteksi dan memperkuat pengawasan laut (Fitri, 2016). Selain AS, India juga melakukan pendekatan bilateral dengan Rusia. Pasalnya, India dan Rusia memiliki hubungan kerjasama bukan hanya sebatas sains dan teknologi, namun juga diperluas dalam bidang nuklir sipir. India diketahui sebagai pembeli senjata terbesar Rusia tahun 2007 mengalahkan China. India juga telah memesan sistem pertahanan rudal balistik sekitar $10 miliar kepada Rusia (Upadhyaya, 2018).

Ketiga, strategi India dengan melakukan pendekatan regional dalam memperkuat keamanan maritim di Samudra Hindia. Salah satunya melalui pembentukan Indian Ocean Naval Symposium (IONS) tahun 2008. IONS merupakan inisiasi India dalam meningkatkan kerjasama maritim di kawasan Samudra Hindia (Upadhyaya, 2018). Dalam IONS ini terbuka forum untuk diskusi terhadap isu-isu maritim yang ada. IONS terdiri dari 35 negara anggota yang memiliki visi dan misi yang sama dalam membendung agresivitas Tiongkok di Samudra Hindia. Bahkan keinginan Tiongkok untuk bergabung dalam IONS ini ditolak oleh India, dikarenakan India tidak ingin Tiongkok mengganggu kepentingannya dalam IONS ini.

Berdasarkan pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwasannya ketiga strategi diimplementasikan India sebagai usaha membendung China’s naval presence di Samudra Hindia. Kehadiran angkatan laut China ini menimbulkan kekhawatiran bagi India karena bisa menggeser posisi India sebagai aktor penting di Kawasan Samudra Hindia. Strategi India berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bukan hanya sebatas strategi defensif saja, namun dibalik itu semua India juga ingin diakui sebagai kekuatan utama yang memiliki peran penting di Samudra Hindia.

REFERENSI

Fitri, P. (2016). Look East Policy India dan Usaha Pembendungan Tiongkok. Jurnal Hubungan Internasional, 9(2), 217-238. http://journal.unair.ac.id/JHbI@look-east-policy-india-dan-usaha-pembendungan-tiongkok-article-10998-media-89-category-8.html

Ministry Of Defence (Navy) India. (2015). Ensuring Secure Seas: Indian Maritime Security Strategy. https://www.indiannavy.nic.in/sites/default/files/Indian_Maritime_Security_Strategy_Document_25Jan16.pdf

Perwita, A. (2020). The Implementation of India’s Maritime Doctrine to Respond China Naval Presence in Indian Ocean Region. Indonesian Journal of Peace and Security Studies, 2(1), 31-48. https://doi.org/10.29303/ijpss.v2i1.38

Upadhyaya, S. (2018). Maritime Security Cooperation in the Indian Ocean Region: Assessment of India’s Maritime Strategy to be the Regional “Net Security Provider” [Doctor of philosophy thesis, University of Wollongong]. UOW. https://ro.uow.edu.au/theses1/297/

Sethi, S. (2017, 08 Juli). New Chinese Naval Deployments In Indian Ocean, Indian Navy Outgunned One To Four. Bloombergquint. https://www.bloombergquint.com/politics/new-chinese-naval-deployments-in-indian-ocean-indian-navy-outgunned-one-to-four

Author:

Silvia Nur Khalifah mahasiswa Hubungan Internasional IISIP jakarta

24 thoughts on “Strategi Maritim India Dalam Membendung Agresivitas China’s Naval Presence di Kawasan Samudra Hindia

  1. such a well written article!! can’t wait for your another working article to publish ~~ good luck

  2. Menarik sekali melihat bagaimana anda menuliskan tentang isi dari artikel ini, dan cukup memuaskan informasinya.. terima kasihh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *