Normalisasi Hubungan Uni Emirat Arab dengan Israel.

Secara geografis, letak Uni Emirat Arab berada jauh dari Israel. Uni Emirat Arab teletak di pantai selatan teluk dan Israel teletak di ujung timur laut mediteriana. Dengan kondisi yang berjauhan, maka kemungkinan terjadinya konflik di antara mereka menjadi kecil (Wicaksono, 2020). Namun, karena konflik Israel dengan Palestina, sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina, kebijakan dan sikap Uni Emirat Arab mencerminkan perlawanan terhadap Israel. Uni Emirat Arab menentang kebijakan Israel atas Palestina.

Uni Emirat Arab merupakan salah satu dari anggota Gulf Cooperation Council (GCC) yang didirikan pada tahun 1981 selain Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, dan Arab Saudi yang turut mengupayakan penyelesaian konflik Israel-Palestina. Keenam negara anggota GCC termasuk Uni Emirat Arab menentang pendudukan Israel atas Palestina dan terus berupaya untuk menyelesaikan konflik antara Israel dan Palestina. Kemudian, Uni Emirat sebagai anggota dari Liga Arab juga mendukung kebijakan boikot Israel oleh Liga Arab. Uni Emirat Arab UEA menolak untuk mengakui Israel sebagaimana yang tertulis dalam UEA Federal Law No. 15/1972,1972, dan secara resmi melarang masuknya warga negara Israel ke dalam wilayah Uni Emirat Arab (Wicaksono, 2020).

Emirat Arab juga memberikan dukungan terhadap Arab Peace Initiative atau Proposal Damai Arab yang diinisiasi oleh Arab Saudi pada tahun 2002. Pada proposal itu, Arab Saudi memberikan sebuah penawaran, yaitu Israel akan diberikan pengakuin diplomatik secara penuh dari negara-negara Arab. Namun sebagai gantinya, Israel harus menarik pendudukannya dari tanah Arab dan mengakui penetapan negara Palestina.

Dengan dukungan Uni Emirat Arab terhadap Liga Arab, GCC, dan juga Arab Peace Initiative, maka sudah jelas bahwa Uni Emirat tidak akan memberikan pengakuan diplomatik kepada Israel sampai Israel melepaskan Palestina. Namun, Uni Emirat Arab mengubah kebijakannya terhadap Israel. Uni Emirat Arab akhirnya memutuskan untuk melakukan normalisasi hubungan dengan Israel.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, normalisasi berarti tindakan menjadikan normal (biasa) kembali; tindakan mengembalikan pada keadaan, hubungan, dan sebagainya yang biasa atau normal. Sebelum suatu normalisasi hubungan antar negara dilakukan, normalisai pasti diawali dengan keadaan yang abnormal. Keadaan abnormal ini ditandai dengan adanya perubahan relasi antara dua pihak atau lebih yang disebabkan oleh sebuah peristiwa atau konflik yang memicu ketegangan. Sehingga normalisasi dapat dimaknai sebagai kebalikan dari hubungan abnormal, yaitu suatu proses yang dilakukan untuk meredakan ketegangan atau perpecahan dengan menyelesaikan dan mengatasi penyebabnya (Barston, 2013).

Kesepakatan ini menunjukkan perubahan sikap arah kebijakan Uni Emirat Arab terhadap Israel kerena dengan dilakukannya normalisasi hubungan antara kedua negara, maka Uni Emirat Arab memberikan pengakuan diplomatik terhadap Israel. Kesepatakan normalisasi hubungan UEA dan Israel ini menuai banyak tanda tanya juga kecaman dari berbagai negara pendukung Palestina. Lantas kepentingan apa yang melatabarbelakangi keputusan Uni Emirat Arab melakukan normalisasi Hubungan dengan Israel?

Kepentingan Dalam Bidang Ekonomi.

Salah satu dari empat poin kesepakatan normalisasi hubungan antara Uni Emirat Arab dengan Israel adalah diperluasnya hubungan perdagangan. Uni Emirat Arab sebenarnya sudah sejak lama ingin membangun hubungan ekonomi dengan Israel, khususnya dibidang teknologi. Bahkan sektor ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong UEA membuka hubungan diplomatic resmi dengan Israel meskipun isu Palestina masih jauh dari selesai (Muhamad, 2020). UEA dan Israel juga meningkatkan kegiatan ekspor-impor dan juga investasi. Menurut pernyataan dari Ziva Eger, selaku Kepala Eksekutif Investasi Israel, ekosistem Israel memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada ekonomi UEA dalam hal inovasi, khususnya di bidang ilmu hayati, teknologi kebersihan, teknologi agrikultur, dan energi (Wicaksono, 2020).

Kepentingan Dalam Bidang Keamanan.

Selain kepentingan ekonomi, motivasi lain yang melatarbelakangi keputusan Uni Emirat Arab melakukan normalisasi hubungan dengan Israel adalah kepentingan keamanan. Uni Emirat Arab memiliki keinginan untuk meningkatkan kekuatan militernya khususnya dalam hal persenjataan. Uni Emirat Arab merupakan salah satu negara penimpor senjata dari Amerika Serikat. Uni Emirat Arab (UEA) belum lama menandatangani perjanjian dengan AS untuk membeli 50 Jet F-35 dan 18 drone bersenjata canggih sebagai bagian dari paket pembelian senilai 23 miliar dolar AS atau Rp 331,5 triliun (“AS dan Saudi Jadi Eksportir-Importir Senjata Terbesar”, 2021). Dengan dilakukannya normalisasi dengan Israel yang merupakan sekutu dekat Amerika Serikat, Uni Emirat Arab akan mendapatkan akses yang lebih besar untuk memperoleh teknologi persenjataan militer. Apalagi Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, dan Israel telah sepakat untuk memperkuat kerjasama militer untuk mengimbangi pengaruh kekuatan militer Iran di Timur Tengah.

Referensi

AS dan Saudi Jadi Eksportir-Importir Senjata Terbesar. (2021, 15 Maret). Deutsche Welle. https://www.dw.com/id/as-dan-saudi-jadi-eksportir-importir-senjata-terbesar/a-56873819

Barston, R. (2013). Modern Dilomacy: Fourth Edition. Routledge.

Muhamad, S. V. (2020). Normalisasi Hubungan Uni Emirat Arab-Israel dan Isu Palestina. Kajian Singkat Terhadap Isu Aktual, 8(17), 7-12. http://berkas.dpr.go.id/puslit/files/info_singkat/Info%20Singkat-XII-17-I-P3DI-September-2020-183.pdf

Wicaksono, R. M. (2020). The Normalization of UAE-Israel Relations. Jurnal ICMES, 4(2), 171-194. https://doi.org/10.35748/jurnalicmes.v4i2.86

Author: Theresia Dewi Ekaristi

International Relation Student

3 thoughts on “Normalisasi Hubungan Uni Emirat Arab dengan Israel.

  1. Pingback:Black Market

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *