Manifestasi Keamanan Kawasan Melalui ASEAN Regional Forum (ARF)

Perkembangan segala bentuk sistem baik itu politik, ekonomi, dan sosial dalam dunia internasional yang membawa kita kepada era yang dinamis seperti sekarang ini, telah menunjukan bahwa kerja sama bilateral tidak lagi dianggap cukup untuk mengurangi intensitas konflik dan peningkatan interdependensi yang terjadi di suatu kawasan. Apabila sebuah konflik terjadi diantara suatu negara, maka diperlukan respon sebagai wujud multilateralisme, dikarenakan lingkungan regional yang berubah, negara-negara yang saling berdekatan diharuskan menciptakan kerja sama secara kolektif yang lebih erat, dan itu menjadi tantangan tersendiri bagi suatu kawasan. Negara-negara yang berada dalam satu kawasan harus bisa menjamin kemanan regionalnya, tidak terkecuali di kawasan Asia Tenggara. Negara-negara yang tergabung dalam Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) atau perhimpunan bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara membentuk ASEAN Regional Forum sebagai wujud multilateralisme demi tercapainya stabilitas keamanan regional, tetapi pada faktanya ASEAN Regional forum ini menjalin kerja sama dan konsultasi juga dengan negara-negara yang termasuk dalam kawasan Asia Pasifik dan negara-negara mitra wicara lainnya.

ASEAN Regional Forum (ARF) sendiri merupakan forum yang tujuan utamanya adalah sarana diskusi dan konsultasi, ARF dibentuk oleh ASEAN pada tahun 1994. Atas dasar diperlukannya kerja sama multilateral. Diskusi yang dominan dibahas dalam forum ini mencakup mengenai bidang politik dan stabilitas keamanan regional. Forum ini hadir sebagai bentuk upaya meminimalisir intensitas ketidakstabilan politik, seperti dalam bentuk sengketa wilayah, ARF hadir sebagai resolusi konflik, seperti dalam konflik Laut China Selatan di mana ARF berperan membentuk sebuah Confidence Building Measures (CBMs), Preventive Diplomacy (PD), dan Conduct of Parties in the South China Sea. Konflik sengketa wilayah yang terjadi diantara negara-negara satu kawasan, akan lebih baik diselesaikan secara multilateral, karena penyelesaian secara bilateral cenderung hanya akan meningkatkan ketegangan antar negara tanpa ada penengah dan gagasan logis mengenai keamanan kawasan.

Keanggotan ARF terdiri 10 negara yang tergabung dalam ASEAN, yaitu Indonesia, Kamboja, Brunei Darussalam, Myanmar, Laos, Filipina, Malaysia, Vietnam, Thailand dan Singapura. Serta 7 negara di kawasan, yaitu Bangladesh, Mongolia, Korea Utara, Papua Nugini, Pakistan, Timor Leste dan Sri Lanka. Keangggotan juga meliputi negara-negara mitra ASEAN seperti Amerika Serikat, China, Australia India, Selandia Baru, Kanada, Jepang, Rusia, Korea Selatan, dan negara-negara anggota Uni Eropa. Negara-negara yang termasuk dalam keanggotan ARF disebut dengan participant.

ARF juga tentunya memiliki tujuan, di mana tujuan dari hadirnya ARF diuraikan dalam First ARF Chairman’s Statement tahun 1994, yaitu untuk mendorong dialog dan konsultasi yang konstruktif tentang masalah politik dan keamanan yang menjadi kepentingan dan perhatian bersama, dan untuk memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya membangun kepercayaan dan diplomasi preventif di kawasan Asia Pasifik. Dalam The 27th ASEAN Ministerial Meeting tahun 1994 juga menyatakan bahwa ARF dapat menjadi forum Asia Pasifik konsultatif yang efektif untuk mempromosikan dialog terbuka tentang kerja sama politik dan keamanan kawasan. Dalam konteks ini, ASEAN harus bekerja dengan negara-negara mitra ARF untuk mewujudkan pola hubungan yang lebih dapat di prediksi dan konstruktif.

Perkembangan situasi strategis global dan regional dewasa ini telah membawa rasa legal atas dugaan meredakan ketegangan internasional. Namun tetap saja, rasa ketidak pastiaan pasti masih ada dalam sebuah situasi konflik. Ketidak stabilan ideologi di antara kekuatan besar selama perang dingin telah memberi jalan pada ambiguitas bagi negara bangsa. Maka dari itu, para pemimpin ASEAN dan pembentuk kebijakan lainnya, serta sejumlah mitra wicara ASEAN bertekad untuk memastikan adanya sebuah forum bagi negara-negara yang berkepentingan di kawasan Asia, berpusat pada ASEAN untuk menangani situasi baru melalui cara yang bersahabat. Di mata ASEAN dan negara-negara kekuatan menengah lainnya, situasi baru tersebut memberikan peluang untuk mewujudkan lingkungan kawasan yang tidak didominasi oleh satu kekuatan (Severino, 2009).

Lingkungan keamanan kawasan yang baru merupakan titik nyala dan ketegangan yang terus mengancam stabilitas kawasan. Fenomena yang dapat dilihat adalah seperti Korea Utara yang sedang mengembangkan persenjataan nuklir, meskipun populasinya disana masih kekurangan. Selain itu Laut China Selatan yang terus menjadi subyek sengketa yurisdiksi, dan China juga dianggap menjadi lebih tegas di daerah tersebut. Situasi di seberang selat Taiwan, perselisihan wilayah yang timbul dari masalah Perang Dunia II telah mengganggu hubungan Jepang, China dan semenanjung Korea. Konflik domestik seperti masalah Timor Timur dan Myanmar yang melibatkan dan di proyeksikan media dan organisasi non pemerintah juga sebagai sumber ketidakstabilan regional (Severino, 2009).

Terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan ASEAN dalam menghadapi masalah ataupun perkembangan melalui ARF. Pertama, negara-negara anggota ASEAN harus terus meningkatkan pembangunan politik, untuk mencapai kesamaan visi, stabilitas, demokrasi, kesejahteraan wilayah, dan perdamaian. Kedua, membentuk norma, yang bertujuan untuk memperkuat solidaritas ASEAN, dan menjadikan masyarakat yang transparan dan partisipatif. Ketiga, pencegahan konflik yang terus di tingkatkan antara negara ASEAN ataupun intra ASEAN. Keempat, mengadakan pertemuan antar Menteri Luar Negeri secara berkala sebagai perwakilan pemerintah. Kelima, mengedepankan rasa saling menghargai, apabila suatu negara hanya mementingkan dirinya sendiri, akan menghambat terjalinnya kerja sama (Kanan & Nuradhawati, 2020).

Referensi

Severino, R. (2009). The ASEAN Regional Forum. Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS).

Kanan, N. N., & Nuradhawati, R. (2020). Optimalisasi Sentralitas ASEAN dalam Rangka Menghadapi Isu Keamanan Kawasan saat ini dan di Masa Depan. Jurnal Academia Praja, 3(2), 305-321. https://doi.org/10.36859/jap.v3i2.171

Author: Mudhy Azizah

Mahasiswi kelas HI di Asia Tenggara dan Asia Timur

6 thoughts on “Manifestasi Keamanan Kawasan Melalui ASEAN Regional Forum (ARF)

  1. topik yang menarik , jadi apakah dengan adanya ARF ini manifesatasi keamaan ASEAN dapat terjammi kedepannya ? terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *