Bayang-Bayang Krisis Lingkungan Global Akibat Pandemi Covid 19

COVID 19 pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada akhir tahun 2019. China melaporkan kepada World Health Organization (WHO) mengenai 44 kasus pneumonia berat di Kota Wuhan. Setelah diteliti, virus tersebut memiliki hubungan dekat dengan virus corona penyebab Severe Acute Respitatory Syndrome (SARS) yang pernah mewabah di Hongkong pada tahun 2003. WHO kemudian menamai virus tersebut dengan novel corona virus (nCov-19). Kemudian muncul laporan-laporan lain dari provinsi lain di China dan juga dari 25 negara yang terdiri dari Amerika, Asia, dan juga Eropa. Laporan ini berasal dari orang-orang yang memiliki riwayat perjalanan dari Kota Wuhan dan China. Pada akhir Januari 2020, WHO menetapkan status Global Emergency pada kasus virus Corona ini dan pada 11 Februari 2020 WHO menamakannya sebagai COVID-19 (Handayani et al., 2020).

Per tanggal 16 Mei 2021 terdapat 223 negara yang memiliki kasus positif Covid 19, sebanyak 161.513.458 individu terkonfirmasi positif Covid 19, dan sebanyak 3.352.109 individu dinyatakan meninggal dunia akibat Covid 19 (Worlddometer, 2021). Saat ini Amerika Serikat menduduki posisi pertama sebagai negara dengan kasus positif Covid 19 terbanyak di dunia dengan total kasus positif sebanyak 33,695,883 (Wolddometer, 2021).

Pandemi Covid 19 telah mengubah cara hidup masyarakat global. Segala bentuk aktivitas masyarakat di seluruh dunia diadaptasikan untuk menciptakan kondisi dan situasi yang dapat mencegah penyebaran virus Covid 19 seperti pembatasan jumlah pengunjung pada area wisata dan pusat perbelanjaan, pembatasan jumlah pengguna fasilitas umum seperti perpustakaan kota dan transportasi umum bahkan aktivitas penerbangan di hampir seluruh bandara internasional juga dibatasi. Sekolah dan Universitas melakukan sistem pembelajaran dari rumah secara online, begitu juga dengan Instansi dan perkantoran yang melakukan pekerjaan dengan sistem work from home (WFH). Hal-hal tersebut dilakukan untuk mencegah adanya kerumunan masyarakat yang dapat berpotensi menambah penyeberan virus Covid 19. Selain itu, masyarakat di seluruh dunia juga diwajibkan untuk selalu menggunakan masker ketika melakukan aktivitas.

Selain memberikan perubahan pada cara hidup masyarakat global, pandemi Covid 19 juga berpotensi menimbulkan krisis lingkungan global karena pandemi Covid 19 menghasilkan banyak limbah medis yang terdiri dari alat perlindungan diri, masker, dan juga sarung tangan. Selain itu, limbah medis Covid-19 juga dapat berupa spesimen, bahan farmasi bekas, alat kesehatan bekas, dan kemasan bekas makanan/minuman pasien Covid-19 (Prasetiawan, 2020). Limbah medis ini rata-rata berbahan dasar plastik yang berpotensi mencemari lingkungan jika sembarang dibuang.

Pada rentang bulan Maret hingga September 2020, jumlah timbunan limbah medis termasuk masker dan APD (Alat Pelindung Diri) diperkirakan berjumlah 1.662,75 ton (Putra, 2021). Akibat merebaknya virus Covid 19, penggunaan masker medis sekali pakai mengalami peningkatan. Penelitian dilakukan oleh Universitas Denmark Selatan dan Universitas Princeton menemukan bahwa hampir 130 miliar masker medis digunakan secara global setiap bulan, atau juga sekitar 3 juta per menit (Sulaiman, 2021).

Sebelum pandemi Covid 19 melanda, sampah plastik memang sudah menjadi masalah global. Jika masalah lingkungan akibat pandemi Covid 19 tidak segera mendapat perhatian, masalah mengenai sampah plastik akan bertambah besar. Menurut data kelompok lingkungan OceansAsia, lebih dari 1,5 miliar masker masuk ke lautan dunia pada tahun 2020 (Putri, 2021). Hewan-hewan di laut bisa menyalahartikan sampah medis itu sebagai makanan. Tentu saja sampah medis terrsebut menggangu dan juga mengancam kelestarian ekosistem laut. Menurut Macarthur (Koalisi Pemuda Hijau Indonesia, 2020) pada tahun 2050 sampah plastik akan lebih banyak jumlahnya dibanding ikan di lautan, jika ini terjadi maka akan mengganggu rantai makanan dan ekosistem. Oleh karena itu, masalah limbah medis akibat pandemi Covid 19 perlu segera mendapat perhatian. Jika tidak, bukan tidak mungkin perkiraan Macarthur akan terjadi lebih cepat.

Masalah lain yang dapat mengancam lingkungan adalah proses pengolahan limbah medis yang justru berpotensi merusak lingkungan. Limbah medis hasil penanganan terhadap pasien Covid 19 disebut juga dengan limbah infeksus, Limbah ini masuk kategori Limbah B3 (Bahan berbahya dan beracun) karena dapat memicu penularan dan juga penyebaran virus. Oleh karena itu, limbah medis Covid 19 memerlukan penanganan khusus. Menurut ketentuan yang dibuat oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, limbah infeksus harus disimpan ke dalam kemasan yang tertutup maksimal 2 hari sejak dihasilkan (“Memilah Limbah Penyebar Wabah”, 2021). Kemudian limbah infeksis harus dibakar menggunakan insinerator dengan suhu minimal 800 derajat celsius. Yang menjadi masalah adalah penggunaan insinerator secara berlebihan dapat mencemari lingkungan. Proses insinerasi atau pembakaran limbah material yang tidak sesuai akan melepaskan polutan ke udara dan pembakaran material kesehatan dengan kandungan logam berat juga dapat menyebabkan penyebaran logam beracun di lingkungan (Violleta, 2020). Prigi Arisandi, Direktur Eksekutif Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) mengatakan bahwa penggunaan insinerator untuk pengolahan limbah infeksus memiki potensi untuk meningkatkan emisi pencemaran udara berupa dioksin dan furan yang dapat menyebabkan kanker pada manusia (Zuraya, 2020).

Karena pandemic Covid 19, masker menjadi kebutuhan wajib masyakarat jika ingin melakukan aktivitas, khususnya aktivitas di luar rumah. Oleh karena itu, untuk mengurangi resiko kerusakan lingkungan akibat limbah medis, gunakanlah masker yang dapat dipakai atau dicuci secara berulang. Masker medis sekali pakai sebaiknya hanya digunakan oleh para tenaga medis saja. Kemudian untuk mengurangi penggunaan insinerator, limbah medis dapat ditangani dengan autoclave. Autoclave merupakan alat pemanas tertutup yang memiliki fungsi sterillisasi dengan menggunakan uap bersuhu dan bertekanan tinggi. Setelah itu limbah medis dapat dicacah sebelum diolah di tempat pengolahan limbah khusus.

Referensi

Handayani, D. H., Hadi, R. D., Isbaniah, F., Burhan, E., & Agustin, H. (2020). Penyakit Virus Corona 2019. Jurnal Respirologi Indonesia, 40(2), 119-129. https://doi.org/10.36497/jri.v40i2.101

Koalisi Pemudah Hijau Indonesia. (2020). Dampak Merebaknya Pandemi Covid-19 Terhadap Lingkungan. https://kophi.or.id/dampak-merebaknya-pandemi-covid-19-terhadap-lingkungan/#

Memilah Limbah Penyebar Wabah. (2021, 9 Febuari). Voi. https://voi.id/tulisan-seri/32018/memilah-limbah-penyebar-wabah

Prasetiawan, T. (2020). Permasalahan Limbah Medis Covid-19 di Indonesia. Kajian Singkat Terhadap Isu Aktual dan Strategis, 8(9), 13-18. https://berkas.dpr.go.id/puslit/files/info_singkat/Info%20Singkat-XII-9-I-P3DI-Mei-2020-223.pdf

Putra, R. A. (2021, 18 Febuari). Limbah Medis Meningkat Selama Pandemi, LIPI Tawarkan Metode Rekristalisasi. Deutsche Welle. https://www.dw.com/id/metode-rekristalisasi-untuk-solusi-penanganan-limbah-medis/a-56606464

Putri, M. A. (2021, 6 Febuari). Limbah Masker Sekali Pakai Ancam Habitat Hewan. Kompas. https://lifestyle.kompas.com/read/2021/02/06/131705720/limbah-masker-sekali-pakai-ancam-habitat-hewan?page=all

Sulaiman, M. R. (2021, 21 Maret). Penelitian: 3 Juta Masker Medis Terbuang Tiap Menit karena Pandemi Covid-19. Suara.com. https://www.suara.com/health/2021/03/21/185402/penelitian-3-juta-masker-medis-terbuang-tiap-menit-karena-pandemi-covid-19?page=all

Violleta, P. T. (2020, 19 April). Pandemi Covid-19 Meningkatkan Kekhawatiran Soal Dampak Limbah Medis. Antara News. https://www.antaranews.com/berita/1430504/pandemi-covid-19-meningkatkan-kekhawatiran-soal-dampak-limbah-medis

Worlddometer. (2021). Covid-19 Coronavirus Pandemic. https://www.worldometers.info/coronavirus/

Zuraya, N. (2020, 16 April). Tak Semua Limbah Medis Harus Diolah dengan Insinerator. Republika. https://republika.co.id/berita/q8w3dt383/tak-semua-limbah-medis-harus-diolah-dengan-insinerator

Author: Theresia Dewi Ekaristi

International Relation Student

3 thoughts on “Bayang-Bayang Krisis Lingkungan Global Akibat Pandemi Covid 19

  1. Pingback:Local SEO
  2. Pingback:world market url

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *