Dinamika Hubungan Jepang dan ASEAN Pasca Perang Dunia II

Dalam konteks sejarah, kekalahan Jepang pada Perang Dunia II telah membuat negara ini kehilangan supremasi politik dan kedigdayaan ekonomi. Meskipun dalam penerapan kebijakan politik internasionalnya terdapat pengaruh dan tekanan internasional dari Amerika Serikat, namun Jepang menunjukkan berbagai upaya dalam orientasi kebijakan ekonomi politik internasionalnya. Salah satunya yaitu politik luar negeri Jepang di kawasan Asia Tenggara, di mana Jepang semakin meningkatkan keperduliannya melalui Association of South-east Asian Nations (ASEAN). Demikian pasca Perang Dingin, ketika persaingan antara dua kekuatan dalam politik internasional berakhir, keperdulian Jepang mulai melampaui kepentingan ekonomi. Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri (PM) Junichiro Koizumi, Jepang telah membangun kembali mimpi-mimpi politik di dunia internasional, serta berhasil menempatkan dirinya sebagai aktor independen dan dominan yang diterima oleh hampir seluruh negara di kawasan Asia Tenggara. (Al-Fadhat, 2019).  

Pada tahun 1970-an, negara-negara di kawasan Asia Tenggara merasa khawatir terhadap kemunculan Jepang sebagai pemain utama dalam perekonomian global. Hal ini terlihat dengan munculnya gerakan anti-Jepang di Indonesia dan Thailand, di mana gerakan tersebut mengarah kepada penolakan terhadap perusahaan multinasional milik Jepang yang dianggap dapat mengambil alih pasar lokal. (Purbantina, 2013). Melihat kondisi tersebut, Jepang meluncurkan berbagai program bantuan sebagai upaya dalam mengatasi kekacauan-kekacauan anti-Jepang. Kemudian di bawah kepemimpinan PM Fukuda Takeo Fukuda pada tahun 1977, Jepang kembali memperluas hubungan politiknya dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara melalui penetapan Japan-ASEAN Forum for Economic Dialogue serta penawaran bantuan sebesar US$ 1.5 miliar. Fukuda juga mengumumkan kebijakan “Pengertian dari Hati ke Hati” yang dikenal dengan Doktrin Fukuda, di mana doktrin ini menekankan perlunya dijembatani hubungan antara ASEAN dan negara-negara Indo-China, sehingga secara signifikan dapat memperkuat hubungan perdagangan dan investasi Jepang dan ASEAN. (Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, 2002). 

Sebelumnya Radius Prawiro menegaskan bahwa pasca Perang Vietnam, ASEAN menjadikan pembangunan ekonomi sebagai prioritas utamanya serta ASEAN membutuhkan bantuan ekonomi Jepang dalam meningkatkan kerja sama kawasan. Bantuan berupa dana dan teknis kepada negara-negara anggota ASEAN sendiri telah lama digunakan sebagai alat untuk mengurangi konflik perdagangan dan memfasilitasi investasi Jepang di kawasan tersebut. Sejak tahun 1975 hingga 1987, sebesar 65 persen bantuan luar negeri Jepang diberikan ke Asia. Meskipun begitu, bantuan-bantuan yang masuk ke negara-negara anggota ASEAN turun menjadi 32 persen dari sebelumnya 44.7 persen.  (Akrasanee et al., 2003). 

Pada tahun 1985, Perjanjian Plaza atau Plaza Accord ditandatangani oleh negara-negara G-5 (termasuk didalamnya Jepang) untuk memanipulasi nilai tukar dengan mendepresiasi dolar AS terhadap yen Jepang dan deutsche Jerman. (Hargrave, 2021). Jepang kemudian menyatukan perubahan dalam struktur manufakturnya untuk membuat perusahaan-perusahaan Jepang tertarik untuk berinvestasi dengan negara-negara ASEAN. Bahkan beberapa produsen di NIC turut mengalihkan sebagian kegiatan produksinya ke negara-negara ASEAN. Meskipun begitu, Perjanjian Plaza menyebabkan yen Jepang menguat terhadap dolar AS sehingga Foreign Direct Investment (FDI) Jepang di negara-negara mencapai lebih dari US$ 22 miliar. Sekretaris Jenderal ASEAN pada tahun 2000, melaporkan bahwa dalam dekade terakhir Jepang telah menginvestasikan lebih dari US$ 52 miliar di kawasan tersebut. 

Kemudian penguatan yen, pembukaan rekening modal dan perkembangan pasar modal di sebagian besar negara anggota ASEAN pada awal tahun 1990-an telah berdampak pada ketidaksesuaian mata uang serta arus dana masuk dalam bentuk pinjaman dan investasi yang cukup luar biasa ke ASEAN. Melihat krisis finansial yang semakin meningkat di kawasan Asia Tenggara membuat Jepang akhirnya ikut mengambil peran dalam mengatasi dampak krisis tersebut. Dalam KTT ASEAN+3 tahun 1977, Jepang mengumumkan Special Yen Loan Facility sebesar ¥600 miliar untuk melakukan pembangunan infrastruktur sebagai langkah menuju reformasi ekonomi di negara-negara Asia. Selain itu, Jepang juga memfokuskan Official Development Assistance (ODA) kepada negara-negara anggota ASEAN dalam memulihkan perekonomiannya pasca krisis serta sebagai sarana pengembangan sumber daya manusia.  

Dalam menghadapi perkembangan regionalisme di Eropa dan Amerika Utara, kerja sama antara Jepang dan ASEAN sangat diperlukan untuk mendapatkan kenggulan komparatif internasional. Sehingga, Jepang dalam KTT ASEAN+3 di Manila tahun 1999 meluncurkan Inisiatif Obuchi yang menekankan pada peningkatan dan pertukaran sumber daya manusia di Asia Timur, serta kerja sama dalam memperkuat revitalisasi ekonomi. Kemudian Menlu Jepang, Tanaka Makiko pada ASEAN Post-Ministerial Conference tahun 2001 menegaskan bahwa terdapat empat bidang kerja sama dalam hubungan Jepang-ASEAN yaitu pengembangan sumber daya manusia, teknologi informasi dan komunikasi, pengembangan Mekong River Basin dan terkait permasalahan lintas batas.  

Referensi 

Akrasanee, N. & Prasert, A. (2003). The Evolution of ASEAN-Japan Economic Cooperation. Japan Center for International Exchange, 63-74. https://www.jcie.org/researchpdfs/ASEAN/asean_narongchai.pdf 

Al-Fadhat, F. (2019). Ekonomi Politik Jepang di Asia Tenggara: Dominasi dan Kontestasi Aktor-Aktor Domestik. Pustaka Pelajar. 

Purbantina, A. P. (2013). Dari Yoshida Doctrine ke Fukuda Doctrine: Politik Luar Negeri Jepang di Asia Tenggara Pasca-Perang Dunia II. Global and Policy, 1(1), 39-46. http://eprints.upnjatim.ac.id/4445/1/9._Halaman_39-46%2C_Adiasri_Putri_P..pdf 

Hargrave, M. (Apr 8, 2021). Plaza Accord. Investopedia. https://www.investopedia.com/terms/p/plaza-accord.asp 

Kedutaan Besar Jepang di Indonesia. (2002). Bertindak Bersama dan Maju Bersama Japan-ASEAN Commemorative Summit. https://www.id.emb-japan.go.jp/aj304_02.html 

Author: Iqlima Putri Chaerani

International relations student. //

10 thoughts on “Dinamika Hubungan Jepang dan ASEAN Pasca Perang Dunia II

  1. The bitcoin price, after nudging $65,000 per bitcoin in April, dropped to just under $30,000 this week before rebounding slightly.

    If you have been considering to buy bitcoins but found it too expensive, your chance to buy bitcoin at 50% off is here!

    The SEC in the US classifies Bitcoin as a digital asset and Bitcoin is here to stay. If you fear Bitcoin’s price going down, please take a look at Bitcoin’s chart over the last 10 years, each time it crashes 50%, it has always gone on to make new all time high!

    And Bitcoin is not the only cryptocurrency on discount! Most cryptos are down in prices too!

    If you want profits, we buy when prices are low and sell when prices are high!

    Sure, cryptos might drop a little more from current prices, and if you are new, you can buying a little cryptocurrency over a few days or weeks by using the dollar cost averaging method.

    For example, instead of buying $1000 worth of cryptocurrencies in a single day, buy $100 per day over 10 days. In this way you can get a good average price.

    If you want to take advantage of the crazy discounts now, you can buy cryptocurrecncies at Binance here (biggest crypto exchange in the world).

    https://bit.ly/33yXOqz -> Use this link to sign up at Binance for free and get 10% off ALL your trades in Binance forever!

  2. Pingback:these details

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *