Tantangan Asia Tenggara: Perebutan Pengaruh Major Power

Kedekatan antar negara di kawasan Asia Tenggara bukan merupakan hal yang baru. Negara-negara yang tergolong masuk ke dalam kawasan Asia Tenggara antara lain yaitu Indonesia, Vietnam, Singapura, Thailand, Filipina, Myanmar, Malaysia, Laos, Kamboja, Brunei Darussalam, dan Timor Leste. Kawasan Asia Tenggara adalah satu kesatuan daerah atau wilayah di benua Asia yang berada di antara India dan Tiongkok (Wiharyanto, 2004). Kedekatan Negara di kawasan Asia Tenggara dapat dilihat dari hadirnya organisasi regional yaitu Associations of Southeast Asian Nations (ASEAN) dan berbagai kerja sama bilateral ataupun multilateral dalam berbagai bidang seperti ekonomi, sosial, keamanan, dan yang lainnya.

Namun dengan kedekatan geografis yang menimbulkan kedekatan antar negara tersebut tidak menutup kemungkinan untuk hadirnya sebuah ketegangan di kawasan Asia Tenggara, ketegangan di Kawasan Asia Tenggara dapat muncul dari satu rumpun kawasan sesama Asia ataupun ketegangan konflik dari luar kawasan Asia. Salah satu ketegangan yang terjadi di sebabkan oleh semakin tingginya tingkat dominasi power atau kekuatan negara-negara besar. Untuk di kawasan Asia sendiri, negara besar yang paling menonjol dan sedang mengembangkan eksistensinya agar posisinya dominan di kawasan adalah Tiongkok. Selain Tiongkok, Jepang juga merupakan negara maju yang sedang mengepakan sayapnya untuk menjadi negara industri terbesar di kawasan Asia dan Jepang menganggap Tiongkok ancaman bagi negaranya.

Ketegangan antara Tiongkok dan Jepang tentu menjadi tantangan bagi kawasan Asia Tenggara. Seperti yang terjadi di sengketa wilayah maritim laut Tiongkok selatan, dengan adanya konflik ini jelas dapat mempengaruhi stabilitas keamanan dan politik Asia Tenggara. Bagi Tiongkok, klaim nya merupakan yang paling akurat apabila dilihat dari sejarah, Tiongkok juga tanpa segan melakukan eksplorasi sumber daya alam di wilayah konflik ini. Vietnam juga tidak mau kalah dengan mengklaim laut Tiongkok selatan dengan menggunakan aspek sejarah. Ketegangan yang terjadi dalam konflik laut Tiongkok selatan ini melibatkan Tiongkok dengan negara-negara di Kawasan Asia Tenggara seperti Brunei Darussalam, Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Taiwan. Melihat hal ini Jepang juga meningkatkan keamanan militernya sebagai tanggapan atas tindakan-tindakan Tiongkok. Dengan adanya ketegangan antara Tiongkok dan Jepang sesama negara yang memiliki power menjadikan konflik laut Tiongkok selatan sulit untuk diselesaikan. Konflik laut Tiongkok selatan dalam regionalisme jelas dapat memunculkan tantangan bagi stabilitas keamanan kawasan Asia Tenggara. Hal ini disebabkan oleh adanya benturan diplomasi, di mana Asia Tenggara yang tergabung ke dalam ASEAN lebih mengedepankan “ASEAN way” dan non intervensi, sehingga konflik antara negara Asia Tenggara dan Tiongkok lebih menjadi isu bilateral, dan negara lain tidak bisa mengganggu gugat karena adanya prinsip non intervensi tersebut (Maksum, 2017).

Selain Tiongkok dan Jepang, negara super power lain yang kuat pengaruh kekuatannya di kawasan Asia Tenggara adalah Amerika Serikat. Semakin agresifnya sifat Tiongkok yang ingin menghilangkan tingkat pengaruh hegemoni Amerika Serikat di kawasan Asia dan Tiongkok juga ingin meningkatkan keunggulan regionalnya, tentunya hal tersebut menimbulkan kekhawatiran bagi Amerika Serikat, perhatian Amerika Serikat terhadap laut Tiongkok selatan membuat eskalasi konflik semakin meningkat, selain ketegangan antara Tiongkok dan ASEAN (Maksum, 2017).

Salah satu kepentingan Amerika Serikat yang paling menonjol di kawasan Asia Tenggara adalah kepentingan dalam geo strategi, faktor utama kepentingan geo strategi Amerika Serikat ini disebabkan karena letak kawasan Asia Tenggara yang strategis, di mana kawasan Asia Tenggara terletak di antara dua benua sehingga terdapat tiga jalur pelayaran utama. Sehingga letak Asia Tenggara yang strategis mewakilkan kepentingan politik dan keamanan Amerika Serikat (Sormin, 2018). Pada tahun 2019 Amerika juga pernah merumuskan Undang-Undang Asia Reassurance Initiative Act. Di mana undang-undang tersebut menunjukan bahwa Amerika Serikat ingin hubunngannya dengan kawasan Asia di perkuat, bahkan ingin menggerus posisi Tiongkok (Bhaskara, 2019).

Ketegangan dominasi power di kawasan Asia Tenggara antara Tiongkok, Jepang dan Amerika Serikat jelas menjadi tantangan bagi integrasi kawasan dan juga kerja sama regional Asia Tenggara yang menyebabkan terbelahnya sikap para pemimpin dan tokoh-tokoh ASEAN. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara harus bisa menjaga otonominya agar aspek politik dan keamanan regional tetap stabil. Peran ASEAN juga sebagai institusi regional sangat diperlukan untuk mempertahankan otonomi negara-negara konstituennya, hal ini sebagai bentuk strategi bagi kawasan Asia Tenggara yang negara-negaranya beragam bahkan negara-negara yang relatif lemah di antara ketegangan negara-negara yang memiliki kekuatan besar.

Referensi

Maksum, A. (2017). Regionalisme dan Kompleksitas Laut China Selatan. Jurnal Sosial Politik, 3(1), 1-25. https://doi.org/10.22219/sospol.v3i1.4398

Sormin, P. A. (2018). Hegemoni Amerika Serikat di Asia Tenggara. Jurnal Education and Development, 6(3), 24-27. http://journal.ipts.ac.id/index.php/ED/article/view/733/325

Wiharyanto, A. K. (2004). Pergulatan Pengaruh Asing di Asia Tenggara. Universitas Sanata Dharma.

Bhaskara, A. L. (2019, 10 Januari). Saat Cina dan Amerika Berebut Pengaruh di Asia Tenggara. Tirto.id. https://tirto.id/saat-cina-dan-amerika-berebut-pengaruh-di-asia-tenggara-ddxg

Author: Mudhy Azizah

Mahasiswi kelas HI di Asia Tenggara dan Asia Timur

19 thoughts on “Tantangan Asia Tenggara: Perebutan Pengaruh Major Power

  1. Artikelnya sangat mudah dipahami, baik dari sisi penulisannya dan referensinya sesuai dengan apa yang ingin disampaikan. Good job. Terima kasih, Mudhy⚡💫

  2. Pingback:elojob lol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *