Usaha-Usaha yang dilakukan ASEAN dalam Menyikapi Konflik Laut Cina Selatan

ASEAN adalah organisasi gabungan dari beberapa negara di kawasan Asia tenggara. Dapat dikatakan kuatnya integrasi di kawasan Asia Tenggara ialah karena adanya nilai-nilai tersendiri yaitu ASEAN way. Dengan segala kekurangan dan kelebihan nilai-nilai ASEAN ini. Cukup memberikan dampak yang signifikan seperti stabilnya kawasan Asia Tenggara hal ini menjadi bukti bahwa aturan-aturan tersebut dapat memberikan dampak cukup baik. ASEAN way merupakan konsep lingkungan sosial yang menitikberatkan kepada keakraban, konsensus, konsultasi, non-intervensi dan berupaya semaksimal mungkin untuk menghindari konflik dan masalah. (Maksum, 2017)

Dalam konteks Laut Cina Selatan atau yang lebih dikenal dengan LCS, sepertinya ASEAN way memunculkan dilema tersendiri dimana disaat masuknya Cina harus berbenturan dengan nilai-nilai ASEAN way itu sendiri. Hal itu dapat menjadi isu panas yang setiap saat bisa muncul dan lama kelamaan dapat berubah menjadi sebuah konflik kawasan. Awal mula dari konflik ini terjadi ketika Cina mengakuisisi secara sepihak hampir seluruh wilayah Laut Cina Selatan dengan menerbitkan peta yang memberi tanda sembilan garis putusputus di seputar wilayah itu

Klaim sepihak yang dilakukan Cina tersebut menimbulkan banyaknya reaksi muncul dari negara-negara anggota ASEAN karena dinilai mereka memiliki hak atas wilayah itu. Kurang lebih enam negara yang berselisih di wilayah Laut Cina Selatan. Wilayah tersebut di antaranya adalah Cina, Vietnam, Taiwan, Filipina, Malaysia, dan Brunei. Setiap negara yang berselisih mempunyai pandangannya sendiri terkait kepemilikan atas wilayah tersebut

ASEAN merupakan organisasi regional negara-negara Asia Tenggara dinilai harus menjembatani negara-negara anggotanya dengan Cina untuk menyelesaikan konflik Laut Cina Selatan ini. ASEAN harus mampu untuk membela dan melindungi negara-negara anggotanya. Sudah berbagai macam cara

ditempuh untuk menyelesaikan sengketa ini mulai dari penggunaan mekanisme informal seperti ASEAN way, mekanisme formal melalui Treaty of Amity and Cooperation dan mekanisme semi-formal melalui ARF, tentu saja mekanisme-mekanisme yang digunakan tersebut memiliki kelemahan dan keunggulannya masing-masing.

ASEAN way dinilai mampu menjembatani negara-negara anggota untuk meyelesaikan konflik ini dengan jalur damai, konsep ini dijadikan pedoman agar tidak menggunakan paksaan melalui senjata dan militer melainkan menggunakan diplomasi dan negosiasi dalam rangka mengurangi efek permasalahan tersebut. Treaty of Amity and Cooperation telah memberikan akses bagi Cina untuk ikut andil dalam menyuarakan kerjasama dengan menggunakan jalur perdamaian dan perlahan-lahan mau untuk membuka diri. Peranan (ARF) sendiri yaitu, Cina mau melakukan diskusi melalui forum ini. Dengan tiga tahapan yaitu confidence building, preventive diplomacy, dan conflict resolution forum ini diharapkan mampu untuk menyelesaiakan permasalahan ini dan juga diharapkan mampu membuat pihak-pihak terkait untuk mau melakukan kerjasama kembali. (Kusumah, 2018)

Dalam rangka mewujudkan perdamaian di kawasan Asia Tenggara, ASEAN harus lebih berani dalam menghadapi Cina tentang LCS, termasuk didalam penyusunan Code Of Conduct. ASEAN harus dapat memastikan CoC yang akan diimplementasikan nantinya bisa menangkal terjadinya ketegangan, tidak hanya antara Cina dan negara-negara anggota ASEAN di LCS, tetapi juga secara lebih luas kepada para pihak lain yang berkepentingan di LCS. ASEAN perlu menitik beratkan betapa pentingnya multilateralisme dalam menyelesaikan konflik ini, hal ini perlu untuk dilakukan agar tidak menimbulkan penguasaan kekuasan antara negara yang satu terhadap negara lainnya. Dalam kasus ini, upaya penyelesaian yang dapat diambil sebaiknya menghormati hukum internasional, terutama Konvensi PBB tentang hukum laut atau UNCLOS 1982 (Roberts, 2018).

Referensi

Kusumah, R., W. (2018). Jalan Damai Menuju Keamanan Regional: Pendekatan ASEAN dalam Upaya. Factum, 7(2) 1-14. https://ejournal.upi.edu/index.php/factum/article/view/15321

Maksum, A. (2017).  Regionalisme dan Kompleksitas Laut Cina Selatan. Jurnal Sospol, 3(1). 1-25. http://ejournal.umm.ac.id/index.php/sospol/article/download/4398/4857

Roberts, C. B. (2018).  ASEAN, the “South China Sea”Arbital Award, and the Code of Conduct: New Challenges, New Approaches. Asian politics &policy, 10(2). 190-218. https://doi.org/10.1111/aspp.12391

Author:

3 thoughts on “Usaha-Usaha yang dilakukan ASEAN dalam Menyikapi Konflik Laut Cina Selatan

  1. Pingback:HP Servis
  2. Pingback:hackear whatsapp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *