Rivalitas Jepang dan China dalam Kawasan ASEAN melalui ASEAN+3 (ASEAN Plus Three)

Doktrin Fukuda pada tahun 1977 telah menandai hubungan positif bagi Jepang dengan Asia Tenggara yang sebagian besar negara-negara di Asia Tenggara tergabung dalam anggota ASEAN. Dalam kebijakan luar negeri Jepang, dikenal istilah Seikei-bunri, berarti keinginan Jepang untuk memainkan peran politik terkait erat dengan kepentingan ekonominya di kawasan. Adriani (2010) menyatakan dalam peran politik, Jepang memainkan peran penting dalam konflik Indo-China. Keterlibatan Jepang dalam penyelesaian konflik Indo-China terkait dengan upayanya menjaga ASEAN dari pengaruh komunis serta menciptakan stabilitas politik regional. Jepang berkontribusi membantu rekonstruksi negara-negara Indo-China yang diantaranya: pertama, mengirimkan 1800 personil tentara Jepang untuk bergabung dengan pasukan perdamaian PBB di daerah konflik. Kedua, Jepang memainkan peran penting sebagai mediator dalam proses penarikan pasukan Vietnam di Kamboja. Ketiga, Jepang mengajak Vietnam untuk berdialog agar menarik pasukannya di Kamboja, sebagai gantinya Jepang menjanjikan bantuan ekonomi. Dalam peran ekonomi, ASEAN bagi Jepang menjadi kawasan tujuan ekspor, investasi dan sumber bahan baku bagi industri Jepang. Untuk mendukung tujuan Jepang tersebut, Jepang meningkatkan peran ekonominya dalam perdagangan, bantuan pembangunan pemerintah (Official Development Aid /ODA) dan sumber investasi langsung (Foreign Direct Investment /FDI).
Kebijakan Jepang di Asia sebagian besar dipandu oleh peningkatan reputasi China di wilayah tersebut. Jepang merupakan salah satu negara pertama yang memberikan bantuan ke China pada tahun 1978. Pinjaman yang diberikan Jepang ke China selama periode 1976-1996 berjumlah 1.851.384 milyar yen, sedangkan hibah berjumlah 98.168 yen. Jepang juga berkontribusi dalam pembangunan pabrik baja Baoshan, proyek petrokimia di Daqing dan Nangjing serta beberapa proyek infrastruktur lainnya di China. Pada tahun 1972-1995, China menerima kerjasama teknik senilai 2.028.397 yen (Varma, 2006). Namun, sejak beberapa tahun terakhir Jepang telah mengulas ODA-nya ke China, perkembangan perekonomian dan kekuatan militer China yang sangat pesat tidak lagi membutuhkan bantuan Jepang. Perkembangan ekonomi China yang pesat diiringi juga dengan semakin besarnya pengaruh China di kawasan Asia Tenggara. Untuk megimbangi pengaruh China di kawasan, ASEAN perlu meningk atkan hubungan dengan negara lain, seperti Jepang. Persaingan antara Jepang dan China dalam memperebutkan kepemimpinan dan pengaruh di kawasan Asia terlihat dalam keterlibatan kedua negara tersebut untuk memainkan peran penting diberbagai forum multilateral, salah satunya ASEAN Plus Three (APT).
Pada tahun 1997, terbentuk sebuah kerjasama bernama ASEAN Plus Three (APT) yaitu kerjasama dalam bidang sosial dan ekonomi wilayah Asia Tenggara bersama ketiga negara terkuat, yakni Jepang, China dan Korea Selatan, mulanya forum ini bertujuan untuk mengatasi krisis yang terjadi di wilayah Asia. APT bukan hanya menyentuh bidang sosial-ekonomi namun juga menumbuhkan makna strategis dalam bidang keamanan dan politik. Keterlibatan China dalam APT bermula pada tahun 2001, ketika China dan ASEAN mengumumkan akan menandatangani perjanjian Free Trade Agreement (FTA) yang akan diberlakukan pada tahun 2010. APT menjadi jembatan bagi China untuk memperkuat hubungannya dengan ASEAN. Peran penting China yang berhasil meningkatkan kepercayaan ASEAN, yaitu pada masa krisis moneter Asia tahun 1997 ketika negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara mengalami kejatuhan ekonomi dan memerlukan bantuan dana. China yang tidak terdampak oleh krisis tersebut berhasil memanfaat kondisinya dengan memberi bantuan pinjaman dengan bunga rendah kepada negara-negara tersebut dan tidak melakukan devaluasi mata uangnya (Veronica, 2015). Sementara itu, bagi Jepang, APT merupakan salah satu sarana untuk mengimbangi pengaruh China di Asia Tmur dan Asia Tenggara serta meningkatkan profil politik ekonominya di kawasan setelah kegagalan Jepang dalam membantu negara-negara di Asia Tenggara mengatasi krisis ekonomi tahun 1997. Dalam perkembangannya, Jepang lebih unggul dalam persaingan soft power melalui penyebaran budaya Jepang di Asia Tenggara dan peningkatan peran dalam misi kemanusiaan seperti patroli bersama untuk pengamanan selat Malaka, International Monitoring Team untuk konflik intra-state seperti di Aceh dan Mindanau serta keterlibatan dalam peace-keeping operations. Upaya Jepang lainnya untuk mempertahankan serta meningkatkan perannya dalam ASEAN yaitu dengan membentuk Initiative for ASEAN Integration (IAI). Proposal tersebut meliputi pendidikan, kerjasama pengembangan sumber daya manusia, inisiatif untuk kemitraan ekonomi komprehensif Jepang-ASEAN yang bertujuan untuk memperkuat kemitraan ekonomi dan pembangunan di berbagai bidang (Initiative for Development in East Asia/IDEA).
Perbedaan karakteristik antara Jepang, China dan Korea Selatan membuat masing-masing negara memiliki platform ekonomi yang berbeda. China memiliki kecenderungan mengarahkan kebijakan APT agar memihak kepentingan perusahaan berskala kecil-menengah, sementara Jepang dan Korea Selatan memilih mengarahkan kebijakan APT memihak kepentingan keiretsu dan chaebol (Kaka, 2018). Perbedaan tersebut menjadi tantangan bagi ASEAN+3. Keberagaman pola ekonomi dari anggota APT menjadi hambatan nyata bagi keberhasilan forum kerjasama ini. Ringga et.al (2018) menyatakan terdapat beberapa alasan mengapa integrasi APT memiliki hambatan dan kekurangan, yakni: Pertama, APT memiliki anggota terkaya kedua di dunia, pendukung cadangan dan dana bantuan terhadap negara-negara berkembang, yaitu Jepang. Kedua, solidaritas ekonomi dan kolaborasi di antara 3 ekonomi terbesar di Asia, persaingan atau hubungan yang kompetitif dapat kembali ke beberapa dekade (Korea Selatan) atau berabad-abad (China). Hal ini merupakan warisan lama dari hubungan negara-negara tersebut yang mana dapat dilihat kepedulian Jepang terhadap kebangkitan China dan Korea dalam perdagangan dan pembangunan dunia yang mungkin saja berdampak pada kerja ASEAN +3. Ketiga, tren perdagangan internasional APT dengan blok dunia tidak mendukung dalam jangka panjang. Impor ASEAN ke 3 negara Asia (China, Jepang dan Korea Selatan) telah meningkat 10 persen selama 34 tahun terakhir. Angka tersebut masih lebih kecil dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa. Keempat, tren komoditas yang dapat diperdagangkan. Berdasarkan data perdagangan internasional CHELEM-CEPII, perdagangan APT dengan AS dan UE perlu melibatkan komoditas yang berteknologi tinggi (misalnya, produk logam dan bahan kimia). Implikasinya, untuk mendukung perdagangan APT diperlukan transfer teknologi terbaru dari AS dan UE.
Doktrin Fukuda menandai hubungan baru yang positif bagi Jepang dengan Asia Tenggara. Keberadaan Jepang dan Asia Tenggara sangat penting bagi satu sama lain. Untuk meningkatkan pengaruhnya, Jepang ikut terlibat dalam berbagai misi kemanusiaan. Bukan hanya itu, Jepang juga memberi ODA dan FDI yang sangat membantu perekonomian negara-negara di ASEAN. Kebangkitan perekonomian China juga tak lepas dari bantuan dana Jepang. Namun, perkembangan perekonomian China yang sangat pesat tersebut mengancam posisi Jepang di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Persaingan tersebut kemudian berkembang hingga forum-forum multilateral seperti ASEAN+3. Kedua negara tersebut memegang peran penting bagi ASEAN. Keduanya memiliki keunggulan pada bidang tertentu, misalnya China dengan keunggulan bantuan dana bagi negara-negara dan Jepang unggul dalam penyebaran budaya Jepang dan misi kemanusiaan. Perbedaan karakteristik setiap anggota APT serta persaingan kedua negara besar yaitu Jepang dan China menimbulkan tantangan dan hambatan bagi keberhasilan forum kerjasama ini. Untuk mencapai keberhasilan, anggota APT khususnya Jepang dan China perlu menemukan solusi atas perbedaan anggota APT. Selain itu, Jepang-China perlu memilih mengesampingkan rasa persaingan kedua negara guna menjaga keberlangsungan FTA di kawasan.

Referensi
Adriani. (2010). Peran Jepang dalam kerjasama finansial regional chiang mai initiative kesinambungan kebijakan ekonomi luar negeri Jepang di Asean pada masa krisis Asia 1998 dan krisis global 2008. [Master Thesis, Universitas Indonesia]. Universitas Indonesia Library. http://lib.ui.ac.id/detail?id=131392&lokasi=lokal

Varma, L. (2006). Japan’s Policy Towards East and Southeast Asia: Trends in Re-Asianization. International studies, 43(1), 33-49. https://doi.org/10.1177/002088170504300102

Veronica, N. W. (2015). Rivalitas Cina dan Jepang dalam Institusi Regional Asia Timur. Global: Jurnal Politik Internasional, 16(1), 19-33. https://doi.org/10.7454/global.v16i1.9

Kaka, Y. (2018). Tantangan ASEAN +3. Cakrawala, 6(2), 185-198. https://ejournal.uksw.edu/cakrawala/article/view/1897

Ringga, D. S. M., Fadillah, R. N., & Ali, T. (2018). Efektivitas ASEAN+ 3 dalam Pengakomodasian Kerja Sama Regional Asia Tenggara dan Asia Timur. Jurnal Ilmu Politik dan Pemerintahan, 4(2), 119-129. http://jurnal.unsil.ac.id/index.php/jipp/article/view/DSMR

Author:

3 thoughts on “Rivalitas Jepang dan China dalam Kawasan ASEAN melalui ASEAN+3 (ASEAN Plus Three)

  1. Pingback:mega888

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *