Jepang pasca tragedi fukushima, opini masyarakat dan transisinya menuju energi terbarukan

Peristiwa bencana nuklir Fukushima adalah kecelakaan energi pembangkit listrik tenaga nuklir yang terjadi di fukushima, pada tanggal 11 maret 2011 bencana tersebut dimulai oleh gempa bumi yang diikuti oleh tsunami yang melanda di pantai timur Jepang, kejadian ini membuat reaktor aktif mematikan reaksi fisi berkelanjutan. Namun karna terjadinya tsunami, hal tersebut mematikan generator darurat untuk mengendalikan dan mengoperasikan pompa untuk mendinginkan reaktor. Pendinginan yang tidak dapat berjalan menyebabkan krisis nuklir yang terjadi, ledakan kimia hidrogen, pelepasan radioaktif pada unit 1, 2 dan 3. 

Sangat sederhana untuk mengatakan bahwa krisis nuklir di Jepang sendiri telah menimbulkan ketakutan akan teknologi nuklir di antara orang-orang dan karenanya mereka sangat menentangnya.  Setelah insiden ini terjadi, kemudian masyarakat mulai menolak penggunaan energi nuklir. Salah satunya adalah aksi protes pada tahun 2012 yang memprotes pembukaan kembali pembangkit listrik tenaga nuklir, mengingat bahwa masyarakat Jepang tidak suka berunjuk rasa, namun untuk isu ini masyarakat turun kejalan menyampaikan penolakannya aksi tersebut bahkan diikuti hampir 200.000 warga (“Ribuan orang di Tokyo memprotes PLTN”, 2012). 

Ada beberapa insiden di masa lalu yang melibatkan kebocoran uap radioaktif dan pekerja terkontaminasi yang sebagian besar tidak tertangani. Selain TEPCO utilitas bertanggung jawab atas Fukushima Daiichi juga memiliki sejarah pelanggaran keamanan yang terus berlanjut dekade dan termasuk insiden termasuk kebocoran dan kurangnya pelaporan. setelah insiden nuklir di Fukushima, pemerintah gagal mendapatkan kembali kepercayaan dari orang-orang yang seharusnya didapat jika itu dengan membubarkan regulator nuklir yang ada NISA dan segera menggantinya dengan pengawas yang lebih mandiri dan efisien, sesuai permintaan oleh banyak orang termasuk Partai Demokratik Jepang  setelah bencana 2011. (Niazi, 2013) 

Bencana sebelumnya di Jepang: (Kageyama, 2011) 

  1. Pada tahun 1999, pekerja pemrosesan ulang bahan bakar dilaporkan menggunakan ember baja tahan karat untuk mencampur uranium dengan tangan, melanggar standar keselamatan di pabrik pemrosesan di Tokai. Dua pekerja meninggal dalam kecelakaan industri. 
  1. Pada 1997, terdapat pekerja yang terpapar radiasi dosis rendah dalam kebakaran dan ledakan tahun 1997 di pabrik nuklir di Tokai. 
  1. Tahun 1999, terdapat ratusan orang terpapar radiasi dan ribuan orang dievakuasi dalam kecelakaan Tokai. Pemerintah menetapkan peringkat tingkat 4 pada skala peristiwa nuklir internasional. 
  1. Tahun 2007, gempa bumi yang menghantam pantai barat laut Jepang, menewaskan 8 orang dan menyebabkan kerusakan pembangkit listrik nuklir Kashiwazaki-Kariwa, termasuk juga tumpahan air radioaktif, semburan pipa dan kebakaran. 

Akibat dari kecelakaan Fukushima, minat masyarakat Jepang terhadap hal-hal yang menyangkut dengan energi telah meningkat di Jepang, dan situasi mengenai penggunaan energi terus bertumbuh. Menurut Naoto Kan (Kan, 2018) Konsumsi energi secara umum di Jepang pada saat ini telah turun sebesar 10 persen dari awal 2010. Masyarakat memiliki kesadaran yang lebih besar mengenai pentingnya menghemat energi, dan hal tersebut menghasilkan tindakan yang dilakukan di tempat kerja, bangunan besar, dan tempat tinggal pribadi untuk mengurangi penggunaan pada energi. Salah satu contohnya adalah pada rumah pribadi, pada rumah pribadi banyak rumah di Jepang sekarang sudah menggunakan panel surya sebagai energi, memasang dua atau tiga lapis kaca di jendela rumah untuk menghemat panas. 

Energi terbarukan pada saat sebelum terjadinya insiden Fukushima sama sekali tidak dipromosikan. Hal tersebut dikarenakan kepentingan pribadi dalam energi nuklir, yang kemudian menghambat pengembangan sumber energi terbarukan. 

3 bulan sejak insiden Fukushima kemudian Naoto Kan yang merupakan Perdana Menteri saat itu mulai mengusulkan sistem FIT (Feed In Tariff) dimana FIT memungkinkan konsumen menghasilkan energi terbarukan yang akan dibayar untuk memberi energi kembali ke jaringan listrik (Kan). Sejak diperkenalkannya sistem FIT, penggunaan energi terbarukan, salah satunya tenaga surya, telah berkembang. Pada tahun 2015, pembangkit listrik energi solar pada setiap prefektur menghasilkan jumlah energi yang sama dengan lima reaktor nuklir (Kan, 2018)  

5 tahun setelah menjalankan sistem FIT terdapat beberapa efek yaitu: (Kimura, 2017) 

  1. Menurunkan biaya untuk pembangkit 

Biaya pembangkit listrik menjadi menurun dikarenakan energi terbarukan telah berjalan, 5 tahun setelah menjalankan FIT, ketiga jenis energi dengan kapasitas yang relatif besar terpasang yaitu: tenaga surya, tenaga angin, dan biomassa kayu telah mengalami biaya pembangkitannya berkurang 

  1. Kontribusi penurunan emisi CO2 

Pengurangan sektor kelistrikan adalah sektor dari penghasil CO2 terbesar di Jepang. Terhitung skitar 40% dari total emisi CO2. Dengan insiden Fukushima, emisi CO2 dari sektor listrik telah meningkat sementara. Namun jumlah CO2 terus menurun sejak 2013 dikarenakan penyebaran energi terbarukan yang tumbuh dengan cepat. Penggunaan tenaga nuklir pada 2015 telah mengalami penurunan yang mengakibatkan penurunan emisi. Dan pada pembangkitan energi terbarukan telah meningkat sebesar 39,1 TWh yang bisa dikatakan telah memberi kontribusi besar dalam mengurangi emisi CO2 di sektor kelistrikan. 

  1. Industri energi terbarukan menunjukan pertumbuhan 

Dengan penyebaran kapasitas dari energi terbarukan, industri energi terbarukan juga ikut meningkat. Perkejaan terkait dengan pembangunan, pengoperasian, dan pemeliharaan fasilitas ketenagalistrikan terbarukan pada 2016 diperkirakan mencapai sekitar 365.000 orang / tahun. Angka tersebut tidak hanya mencakup mengenai pekerjaan yang langusng untuk konstruksi dan layanan terkait pemeliharaan, tetapi juga untuk yang memproduksi bahan dan suku cadang. PV Solar menyediakan pekerjaan bagi sekitar 299.000 orang, diikuti oleh biomassa kayu yang menyediakan pekerjaan bagi 45.000 orang. 

Fukushima yang hancur semenjak insiden nuklir di wilayahnya, bermaksud untuk mengubah citranya menjadi simbol energi bersih. Hal tersebut menjadi ambisi bagi pemerintah Jepang dengan tujuannya untuk memberi daya pada seluruh wilayah dengan 100% energi terbarukan pada tahun 2040 (Bassetti, 2020). Untuk mewujudkan ambisi tersebut tentu pemerintah Jepang suda melakukan tindakan salah satunya dengan kebijakan FIT yang sudah dilakukan oleh Naoto Kan sebelumnya. 

Referensi 

Kan, N. (2018). The Fukushima Nuclear Power Plant Disaster and The Future of Renewable Energy. Cornell University Press.  https://doi.org/10.7591/9781501726941-001 

Kimura, K. (2017). Feed-in Tariffs in Japan: Five Years of Achievement and Future Challenges. Renewable Energy Institute. https://www.renewable-ei.org/en/activities/reports/img/pdf/20170810/REI_Report_20170908_FIT5years_Web_EN.pdf 

Ribuan orang di Tokyo memprotes PLTN. (2012, 29 Juli). BBC News Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/dunia/2012/07/120729_jepang_nuklir 

Bassetti, F. (2020). Fukushima Aims for a Renewable Energy Future. Foresight. https://www.climateforesight.eu/energy/fukushima-renewable-energy/ 

Niazi, Z. (2013). Role of Nuclear Energy in Japan Post – Fukushima: Alternatives and their Impact on Japan’s GHG Emmission Target. [Master Thesis E, Uppsala University]. DiVA. http://uu.diva-portal.org/smash/record.jsf?pid=diva2%3A638155&dswid=7004 

4 thoughts on “Jepang pasca tragedi fukushima, opini masyarakat dan transisinya menuju energi terbarukan

  1. Pingback:kardinal stick
  2. Pingback:valid cc shop

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *