Intervensi Uni Afrika Dalam Menyelesaikan Konflik Darfur Pada Tahun 2003 – 2009

Darfur merupakan suatu daerah yang berada di Afrika yang terletak di Republik Sudan bagian barat serta berbatasan langsung dengan Afrika Tengah, Chad dan Libya. Apabila di artikan dalam Bahasa arab Darfur ialah “ Tanah Orang Fur”, yang dimana bangsa Fur ialah golongan – golongan orang Afrika yang berkulit hitam dan masih mempertahankan tradisi yang dimilikinya secara turun menurun. Darfur memiliki  beberapa wilayah seperti Darfur selatan dengan ibu kota Nyala, Darfur Utara dengan ibu kota El Fasher dan Darfur Barat dengan ibu kota El Ganeina , masyarakat Darfur memiliki mayoritas dengan memeluk agama islam. Konflik Darfur terjadi karena adanya dua etnis yaitu etnis Zurga ( atau kalangan masyarakat hitam yang memang sudah lama menetap di Sudan) dan Etnis Arab yang merupakan sebuah etnis pendatang. Kedua etnis ini menempati bagian selatan dan utara sudan.  adanya perbedaan etnis inilah konflik terjadi, yang dimana Konflik Darfur ialah sebuah konflik etnis yang permasalahannya semakin meluas serta mendapatkan sorotan dari masyarakat dunia. Konflik ini seiring waktunya semakin berkembang dikarenakan pemerintahan Darfur mulai mendominasikan suku Arab Afrika, tidak hanya itu konflik ini terjadi juga karena pembangunan yang tidak merata di wilayah Darfur.. Lalu di karenakan pemerintahan ini hanya memusatkan pembangunannya di Khartoum , sehingga hal ini memicu terjadi adanya kelompok pemberontak yaitu Sudan Liberation Movement/Army (SLM/A) dan Darfur Front Liberation (DFL) yang meluncurkan serangannya pada tahun 2003 ke pemerintahan Sudan. Keduanya lebih cenderung kedalam gerakan politik yang memuat isu diskriminasi pembangunan yang di lakukan oleh pemerintahan terhadap masyarakat – masyarakat Darfur yang di khususkan ke Afrika Hitam Darfur dan sejak saat itu konflik Darfur ini semakin meningkat ( Mayori, 2020)

Tahun 2004 adanya pemadaman konflik yang di lakukan oleh tentara Darfur ditahun ini banyak sekali pengungsi yang mengungsi dan melarikan diri ke negara Chad sebagai negara tetangganya. Perserikatan Bangsa Bangsa ( PBB ) menyatakan bahwa milisi Janjaweed melakukan pembunuhan kepada penduduk desa yang dimana milisi ini sangat pro kepada pemerintah. Sehingga semakin menjadi perhatian dunia Uni Afrika membentuk sebuah organisasi yang dikhususkan untuk menangani konflik yang terjadi di Darfur ini yaitu African Union Mission in Sudan (AMIS). Dibentuknya organisasi ini bertujuan untuk menjaga perdamaian namun tidak berjakan dengan mulus karena didaerah tersebut masih melangsungkan kekerasan dan bahkan melebihi prajurit yang menangani konflik tersebut. Ditahun 2005 PBB membentuk suatu organisasi yaitu United Nations Mission in Sudan ( UNMIS) dengan niatan untuk membantu AMIS dalam menjaga perdamain di Darfur. Namun sama hal nya dengan organisasi AMIS tidak berjalan dengan efektif dalam menyelesaikan konflik tersebut. Lalu ditahun 2006 memulaikan adanya sebuah perjanjian damai namun ditolak dengan beberapa pihak yang terlibat. Selanjutnya di tahun 2007, PBB mulai mencari cara kembali untuk membantu agar konflik ini meredam yaitu dengan mengirimkan sekretaris jenderal yang bernama Jan Eliasson yang dikhususkan untuk konflik tersebut. Tahun 2008 International Criminal Court menyatakan bahwa dibulan mei ada 65 orang yang terbunuh dan dibuatkannya surat penangkapan untuk Al-Bashir. Dan di tahun 2009  bashir kembali mendapatkan undangan namun melaui ICC yang memerintahkan untuk menangkap Bashir. Adanya Konflik Darfur ini mampu menimbulkan dampak yang sangat signifikan seperti terjadinya kemiskinan , instabilitas politik serta mengancam keamanan stabilitas regional Darfur , bahkan konflik ini mengakibatkan banyaknya korban jiwa hingga 350 ribu orang meninggal. Adanya penghancuran , pemerkosaan , penculikan dan perampokan sehingga masyarakat sipil kehilangan anggota keluarganya dan tempat tinggalnya. Semakin meningkatnya konflik tersebut Uni Afrika sebagai organisasi regional perlu masuk kedalam konflik tersebut untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang terjadi. Seperti :

Uni Afrika menjadi Fasilitator Perundingan Damai, Uni Afrika berkonsuktasi dengan presiden Chad Iddris Deby dan mendekatkan pemerintahan sudan untuk mengirimkan utusan dewan keamanan Uni Afrika, hal ini sangat penting dikarenakan ini merupakan salah satu hal pertama yang dilakukan oleh presiden Iddris Deby untuk media dengan pihak terkait. Uni Afrika juga mengutuskan Dewan Keamanan untuk pembuatan tim dengan dipimpin oleh Sam Ibok sebagai Direktur Keamanan Uni Afrika. Uni Afrika juga memberikan kesadaran jeoada masyarkat untuk memberikan pertolongan bagi penguingsi ( Prada, 2017).

Uni Afrika menjadi Mediator Perundingan Damai, dalam hal mediator tersebut Uni Afrika menjadi mempertemukan kedua pihak yang berkaitan dengan kasus tersebut untuk mendapatkan titik penyelesaian. Dalam proses perjanjian tersebut adanya kesepakatan untuk memfasilitasi bantuan kemanusiaan, menjaga  keamanan serta memberikan perlindungan bagi masyarakat. Setelah Uni Afrika melakukan mediasi dengan pihak yang terkait sehingga menghasilkan suatu perjanjian yaitu tentang tentang Gencatan Senjata atau Humanitarian Ceasefire Agreement (HCFA) di N’Djamena Chad dan juga penandatanganan Protokol Pembentukan Bantuan Kemanusian di Dafur atau Protocol on the Establishment of Humanitarian Assistance in Dafur isiperjanjian tersebut ialah menghentikan perang, membentuk sebuah Joint Commission (JC) Dan Caesefire Commission (CFC), melalui partisipasi dengan masyarakat internasional, membebaskan semua tahanan perang dan orang- orang yang di tahan karena konflik tersebut. Mengirimkan bantuan kemanusiaan untuk menciptakan suatu kondisi yang kondusif ( Pradara, 2017).

Uni Afrika dan Monitoring Mission, Joint Commissionn ini terdiri dari pimpinan politik yang memiliki mandat untuk manangani dan mengambil keputusan dalam menangani masalah-masalah yang terjadi. Dewan keamanan Uni Afrika juga mengkoordinasikan, penyelidikan , verivikasi, dan melaporkan perdamaian para pihak yang bersengketa.  Uni Afrika melalui operasi perdamaian ( Pradara, 2017).

Referensi

Pradara, R.H. (2017). Kegagalan Uni Afrika dalam Upaya Penyelesaian Konflik Darfur di Sudan Pada Tahun 2004-2007. [Thesis, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta]. UMY Repository. http://repository.umy.ac.id/handle/123456789/12824?show=full 

Mayori, E.A. (2020). Peran Uni Afrika dalam Penyelesaian Konflik Darfur di Sudan (2004-2007). [Thesis, Universitas Muhammadiyah Yogyakarya]. UMY Repository. http://repository.umy.ac.id/handle/123456789/31247?show=full 

Author: Anita Priyadi

2 thoughts on “Intervensi Uni Afrika Dalam Menyelesaikan Konflik Darfur Pada Tahun 2003 – 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *