Gerakan Anti Nuklir Pasca Tragedi Fukushima

Gerakan anti nuklir di Jepang sebelum tragedy Fukushima telah lama ada sejak pertengahan 1950. Gerakan anti nuklir ini juga didasari akibat pengeboman atom di Hiroshima dan Nagasaki pada akhir Perang Dunia Kedua yang menjadi luka pilu bagi masyarakat Jepang. Penyuaraan ini dilakukan untuk menolak penggunaan atom baik sebagai senjata maupun digunakan sebagai energi alternatif. Kebanyakan masyarakat Jepang yang aktif melakukan gerakan ini adalah korban yang selamat dari kejadian bom Hiroshima dan Nagasaki. Gerakan tersebut hadir dalam sosial Jepang dikarenakan Jepang melakukan pengembangan energi dari nuklir untuk menggantikan penggunaan batu bara yang menyebabkan Jepang mengimpor dari banyak negara, di tambah dengan keadaan minyak bumi yang terus meningkat harganya. Pendirian pabrik nuklir terhambat karena protes yang selalu dilakukan oleh masyarakat Jepang, seperti pada tahun 1969 dilakukan protes oleh 1000 pelayan (Dusinberre & Aldrich, 2011). Namun gerakan tersebut dihiraukan dan pemerintah Jepang tetap melakukan pengembangan di daerah yang gerakan sosial anti nuklirnya paling sedikit dan lemah.

Peristiwa bencana Fukushima pada 11 Maret 2011 merupakan bencana besar yang diakibatkan oleh gempa besar dengan kekuatan 8.9 skala richter dan disusul oleh tsunami dengan gelombang setinggi 14 meter (Vivoda & Gratez, 2015). Bencana alam tersebut mengakibatkan tiga dari enam mesin reaktor milik PLTN TEPCO (Tokyo Electric Power Company) mengalami kerusakan dalam proses pendinginan reaktor sehingga hal ini menyebabkan ledakan dan kebocoran bahan materi radioaktif. Ledakan ini yang akhirnya mengkontaminasi wilayah sekitar dengan tingkat radiasi 400 mSv per jam dan kota Okuma, Futaba, Tamioka dan Namie menjadi kota yang paling terkontaminasi sangat tinggi yaitu 1000 kBq/m2 (Sarjiati, 2018). Paparan radiasi yang tinggi ini menyebabkan pemerintah mengevakuasi warganya yang di wilayah Fukushima ke beberapa daerah menjauhi wilayah yang terkontaminasi radiasi, lima bulan setelah bencana jumlah pengungsi mencapai 146.520 orang dari 12 daerah (Sarjiati, 2018). Paparan radiasi yang terjadi akibat kerusakan reaktor ini juga menyebar lewat air dan udara. Air laut yang terkontaminasi ini mengurai menjadi hujan yang akhirnya menyebarkan zat radioaktif ke banyak wilayah bahkan sampai luar wilayah Jepang.

Bencana nuklir Fukushima memberikan pemahaman baru lagi bagi masyarakat Jepang mengenai energi nuklir. Pasca bencana, informasi yang didapatkan masyarakat Jepang simpang siur, koordinasi antara pemerintah dan TEPCO dianggap buruk karena tidak konsisten dalam memberikan informasi yang membuat publik semakin tidak percaya. Masyarakat Jepang itu sendiri mulai berinisiatif mencari informasi mengenai nuklir, melalui CNIC atau salah satu NGO antinuklir yang sudah beridi dari tahun 1975, aktif memberikan informasi terkait terhadap bencana yang menimpa. Masyarakat Jepang itu sendiri juga yang melakukan riset terhadap paparan radiasi nuklir yang menyebar di lingkungannya karena minimnya informasi yang didapatkan seperti penggunaan Geiger Counter atau alat pendeteksi paparan radiasi untuk mengetahui paparan radiasi di suatu wilayah dan hasil pengukuran tersebut dinanalisis oleh masyarakatnya sendiri berdasarkan pengertahuan yang mereka dapatkan (Sarjiati, 2018). Masyarakat Jepang juga sangat kritis dalam memilah-milih bahan pangan yang akan dikonsumsi akibat paparan radiasi tersebut.

Pasca tragedi Fukushima masyarakat Jepang mulai aktif melakukan demonstrasi setiap harinya. Sebagian besar masyarakat Jepang menganggap nuklir tidak lagi energi yang aman, namun merupakan energi yang membahayakan. Walaupun paparan radiasi nuklir Fukushima tidak menyebabkan kematian manusia secara langsung, paparan radiasi yang dilepaskan dianggap sebagai ancaman bagi kesehatan manusia dalam jangka panjang. Masyarakat Jepang juga menganggap bahwa penggunaan nuklir di Jepang dengan keadaan yang merupakan zona rawan gempa. Kelompok intelektual Jepang yang bernama “Sayonara Nukes” mengumpulkan tanda tangan petisi yang tertujuan untuk penghentian pembangunan reaktor baru dan pemberhentian penggunaan energi nuklir. Kelompok tersebut juga berhasil melakukan demonstrasi “Goodbye to Nuclear Power Plants” dan berhasil mengumpulkan 60.000 warga jepang pada September 2011 di Tokyo.

Gerakan-gerakan yang telah berlangsung lama ini bahkan dari sebelum tragedi Fukushima ini hanya memperlambat pemerintah Jepang karena pemerintah Jepang dan ditekan dengan kelompok pembisnis untuk terus menggunakan energi nuklir sebagai energi alternatif bagi Jepang. Jepang juga terus mengkampanyekan “safe, cheap and reliable” pada penggunaan nuklir (Vivoda & Gratez, 2015). Pada pergantian Perdana Menteri Yoshihoka Noda menjadi Perdana Menteri Shinzo Abe pada 2013 juga masih menetapkan penggunaan energi nuklir sebagai energi alternatif untuk Jepang.

Referensi

Dusinberre, M., & Aldrich, D. (2011). Hatoko Comes Home: Civil Society and Nuclear Power in Japan. The Journal of Asian Studies, 70(3), 683-705 http://www.jstor.org/stable/41302389

Sarjiati, U. (2018). Resiko Nuklir dan Respon Publik Terhadap Bencana Nuklir Fukushima di Jepang. Jurnal Kajian Wilayah, 9(1), 46-60. https://core.ac.uk/download/pdf/235985608.pdf

Vivoda, V. & Graetz, G. (2015). Nuclear Policy and Regulation in Japan after Fukushima: Navigating the Crisis. Journal of Contemporary Asia, 45(3), 490-509. http://dx.doi.org/10.1080/000472336.2014.981283

12 thoughts on “Gerakan Anti Nuklir Pasca Tragedi Fukushima

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *