Upaya Tiongkok dalam Menjalankan Geopolitiknya di Kawasan Asia Tenggara melalui Kebijakan One Belt One Road (OBOR)

Pada tahun 2013 Presiden Tiongkok Xi Jinping menginisiasiakan program One Belt One Road (OBOR). Inisiasi One Belt One Road (OBOR) merupakan sebuah proyek dengan jaringan yang luas yang ingin direalisasikan oleh Tiongkok melalui pembangunan infrastruktur dan jalur transportasi darat serta laut yang dapat menghubungkan negaranya dengan kawasan Asia, Eropa, dan Afrika (Wibawati et al., 2018). Dua prinsip utama One Belt One Road yaitu One Belt dan One Road, di mana One Belt berkaitan dengan Silk Economic Road atau rute perdagangan yang melalui jalur sutra dengan dasar pangkalan daratan dari Tiongkok, Asia Timur, Asia Tengah, Asia Selatan, Timur Tengah sampai Eropa yang juga akan didukung dengan jalan raya, jalur rel dan jaringan pipa yang baru. Sedangkan, One Road berkaitan dengan 21st Century Maritime Silk Road atau sebuah jalur sutra yang berkaitan dengan lajur laut yang menghubungkan Tiongkok dengan Asia Tenggara, Asia Selatan, Afrika, Timur Tengah dan juga Eropa. Tujuan utama dari OBOR sendiri dikategorikan dalam “empat konsep inti”, yaitu perdamaian, kerja sama, pengembangan dan saling menguntungkan. Strategi yang digunakan oleh pemerintah Tiongkok ini memiliki tujuan untuk mempromosikan kerja sama ekonomi antar negara sepanjang jalur OBOR untuk meningkatkan arus bebas ekonomi, dapat menentukan banyaknya sumber daya secara efisien, memajukan integrasi pasar, serta menciptakan rancangan kerja sama ekonomi regional yang dapat bermanfaat bagi perekonomian dunia. Selain itu, inisiatif OBOR dicanangkan dapat menghidupkan kembali arus modal serta barang dan jasa dari Asia ke seluruh dunia dengan tidak melibatkan perusahaan multinasional, namun juga Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

Kebijakan One Belt One Road ini merupakan salah satu cara Tiongkok untuk mencapai beberapa kepentingannya. Selain mengejar kepentingan nasionalnya, Tiongkok dengan kebijakan ini juga mengejar tidak hanya ekonomi dan politik tetapi juga unsur geopolitiknya. Di dalam kebijakan OBOR ini Tiongkok melakukan berbagai kerja sama untuk menjalin hubungan dengan negara lain dengan keinginan membuka akses perdagangan baru guna meningkatkan kekuatan ekonominya. Pembangunan ekonomi menjadi salah satu kepentingan nasional Tiongkok yang paling penting karena menurut Tiongkok pembangunan ekonomi itu sendiri adalah dasar dari kemakmuran dan kuatnya suatu bangsa. Kepentingan ekonominya itu sendiri merupakan hal yang diperlukan agar kehidupan sebuah negara dapat terjamin, untuk tercapainya hal tersebut tentunya diperlukan interaksi dengan negara lain (Herawati, 2015). Selain untuk meningkatkan kekuatan ekonominya, proyek ini juga menjadi salah satu cara Tiongkok untuk mencapai kepentingan politiknya. Melalui berbagai kerja sama dan investasi yang ada pada proyek pembangunan jalur sutra baru, Tiongkok dapat mempererat hubungannya dengan negara-negara dari kawasan Asia Tenggara dan karena luasnya cakupan proyek ini dapat membuat Tiongkok menaikkan status di mata internasional sebagai negara besar. Selain itu dengan adanya Jalur Sutra Maritim ini memiliki tujuan selain mempererat juga untuk memperbaiki hubungan Tiongkok dengan negara-negara Asia Tenggara melalui kerja sama dibidang keamanan jalur perdagangan maritime yang ditekankan. Tiongkok dengan proyek One Belt One Road-nya ini berusaha mencapai kepentingan politiknya yaitu menyebarkan pengaruhnya di kawasan dan berusaha menjadi dominan secara ekonomi dan politik (Radityo et al., 2019).

Dalam geopolitik, perluasan wilayah merupakan salah satu tujuan Tiongkok supaya kepentingan nasionalnya dapat tercapai mulai dari sektor ekonomi, militer dan juga politik. Kekuatan kedudukan Tiongkok dalam dunia internasional ini juga menjadi salah satu kepentingan geopolitik dalam kebijakan The New Silk Road yang nantinya akan terlihat sebagai dominasi Tiongkok dalam pembangunan banyak proyek infrastruktur yang beragam.

Referensi

Herawati, E. (2015). Kepentingan Cina dalam Shanghai Cooperation Organization. Jurnal Ilmu Hubungan Internasional, 3(4). 839-852. https://docplayer.info/36455319-Kepentingan-cina-dalam-shanghai-cooperation-organization-sco-erna-herawati-1-nim.html

Radityo, F. D., Rara, G., Amelia, I., & Efraim, R. (2019). Geopolitik Tiongkok di Kawasan Asia Tenggara: Jalur Perdagangan (OBOR). Jurnal Asia Pacific Studies, 3(1). 84-97. http://dx.doi.org/10.33541/japs.v3i1.1073

Wibawati, S. W., Sari, M. I., & Sulistyani, Y. A. (2018). Potensi dan Tantangan One Belt One Road (OBOR) Bagi Kepentingan Indonesia di Bidang Maritim. Jurnal Kajian Wilayah, 9(2). 109-123. https://doi.org/10.14203/jkw.v9i2.801

Author: Fitria Syani

22 thoughts on “Upaya Tiongkok dalam Menjalankan Geopolitiknya di Kawasan Asia Tenggara melalui Kebijakan One Belt One Road (OBOR)

  1. Kapan nih Indonesia kuat perekonomiannya jgn Tiongkok mulu dibuka jalur perdagangannya ke Indonesia, yuk Indonesia mandiri, swasembada!! Jgn apa-apa impor dari China/negara lain!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *