Upaya Hegemoni China melalui Belt and Road Initiative (BRI) dan Implikasinya bagi Amerika Serikat

Setelah berakhirnya perang dingin, terdapat banyak upaya untuk menghidupkan kembali jalur sutera di darat yang sebelumnya terputus dari sistem global lainnya. Pada tahun 2013, China mencetuskan istilah Belt and Road Initiative sebagai upaya pembangunan dasar Eropa dan organisasi internasional lainnya, pemulihan ekonomi secara bertahap, rute dari krisis pasca perang dingin dan tsunami finansial 2008, serta penguatan ekonomi China yang mampu menjadi pemain global utama dalam politik dan ekonomi global. Strategi industrialisasi China yang berorientasi ekspor berhasil dibangun hingga sekarang melalui investasi langsung asing (Foreign Direct Investment/FDI) dan perdagangan industri. Chan(2019) menjelaskan beberapa investasi infrastruktur yang dibangun China, yaitu: 

  1. Investasi Infrastruktur Afro-Eurasia Logistik 
  • Jaringan Transportasi Euro-Asia (Euro Asian Transport Links
  • Jaringan Transportasi China-Asia Tengah (China-Central Asia Transport Links
  • Rute Antar Mode (Intermodal Routes
  1. Investasi Infrastruktur di Luar Asia 
  • Kebangkitan Wilayah Mediterania Timur 
  • Perdagangan Perkeretaapian di Afrika Timur 
  1. Koridor Perdagangan Utara-Selatan (North-South Corridors
  • Koridor Ekonomi China dan Pakistan  
  • Koridor Ekonomi China dan Myanmar 

Supremasi Amerika Serikat yang semakin berkurang di kawasan menyebabkan persaingan antara China dan Jepang untuk menempati posisi sebagai pemimpin di Asia. Untuk mencapainya, China membentuk kebijakan BRI agar dapat mengambil alih peran sebagai pemimpin Asia. Ambisi ini dapat dilihat dari upaya China dalam menyebarluaskan pengaruhnya melalui pembiayaan proyek infrastruktur. Anam & Ristiyani (2018) memaparkan beberapa upaya hegemoni China melalui BRI terbagi dalam dua bidang, yaitu: Pertama, bidang keamanan. Melalui kebijakan BRI, China membangun tatanan politik dan keamanan baru di Asia bahkan kawasan lainnya. Dalam kebijakan maritimnya, China memperlihatkan dua sisi yang berbeda yaitu kerjasama dan kedaulatannya. Disatu sisi China mengambil sikap tegas atas beberapa permasalahan maritim yang dianggap melanggar kedaulatan maritimnya, namun disisi lain China juga aktif membangun kerjasama dan diplomasi terhadap negara-negara tetangganya. BRI memainkan peran penting dalam pengaturan kembali tatanan keamanan di kawasan Asia.  

Kedua, bidang ekonomi. Kebijakan BRI China diperkuat dengan terbentuknya AIIB pada tahun 2015. AIIB terdiri dari 40 anggota regional, 21 anggota non-regional dan 23 anggota menyusul dengan terdiri dari 24 proyek dari berbagai sektor yang bernilai pinjaman sebesar $4.22 milyar. AIIB membedakan antara anggota regional dan non-regional untuk membatasi ukuran pemungutan suara non-regional sehingga mempertahankan suara Asia. Lalu, AIIB menetapkan 75% suara anggota regional dimana saat ini anggota regional menguasai 77% saham dalam AIIB. Berdasarkan saham AIIB, China memiliki suara sebesar 27,84% yang berarti China dapat mengendalikan lebih dari 25% sehingga memberikannya hak veto secara de facto atas beberapa keputusan penting yang membutuhkan suara mayoritas. Bagi AS, pendirian AIIB bernuansa geopolitik dan dianggap kekuatan lunak China untuk menyaingi hegemoni AS yang selama ini didiktekan melalui World Bank dan IMF, namun beberapa negara di Asia serta Eropa menyatakan dukungan terhadap AIIB.  

Keberhasilan BRI dan AIIB dapat memajukan sentralitas ekonomi dan politik China dari Asia Timur hingga ke Timur Tengah dan Eropa. Bagi Amerika Serikat, kebijakan BRI beserta institusi keuangan AIIB  merupakan ancaman potensial bagi tatanan internasional. Kartini (2016) menjelaskan bahwa hal ini didasari oleh beberapa alasan: pertama, AIIB dapat menduplikasi jaringan institusi keuangan yang sudah ada yaitu World Bank dan the Asian Development Bank, serta mampu melemahkan institusi-institusi tersebut dengan menurunkan standar tata kelola internasional. Kedua, institusi ini dapat melemahkan mata uang dollar, dengan memperkuat mata uang China. Ketiga, AIIB dapat menciptakan sistem keuangan tandingan yang nantinya akan meminggirkan tatanan internasional dari tata kelola global. Namun, sebagian pejabat AS juga ada yang menganggap BRI menjadi peluang potensial bagi AS. Dibanding melawan China secara konfrontatif agar membendung pengaruh China, akan lebih baik dijadikan peluang untuk berkolaborasi sehingga AS juga dapat ikut andil dalam arsitektur global ini. Dengan semakin besarnya potensi hegemoni China, AS dihadapkan dengan pilihan yang sulit, sehingga diperlukan langkah yang berhati-hati demi menjaga posisi AS. Karena apabila kebijakan Belt and Road Initiative ini berhasil diimplementasikan, bukan hal yang tidak mungkin bagi China dapat menjadi kekuatan dunia dan mampu menggeser Amerika Serikat dari peran utama dalam lingkungan global. 

Terbentuknya Belt and Road Initiative merupakan langkah China untuk memperluas pengaruhnya di kawasan Asia, Afrika hingga Eropa. Investasi infrastruktur yang menjangkau hingga luar Asia menjadi strategi industrialisasi yang berorientasi ekspor menjadi pilihan China, pembangunan infrastruktur tersebut membawanya hingga membentuk AIIB yaitu institusi keuangan yang semakin memperkuat pengaruhnya. AIIB tersebut mampu mengumpulkan 84 anggota dengan China sebagai anggota yang memiliki suara sebesar 27,84% sehingga memberinya hak veto secara de facto. Pengaruh AIIB semakin mengancam keberadaan tatanan internasional lainnya, seperti World Bank dan the Asian Development, karena AIIB berhasil mendapat dukungan dari beberapa negara Asia serta Eropa. Keberhasilan BRI dan AIIB menjadi ancaman hegemoni AS, potensi China mampu menggeser AS semakin besar. Oleh karena itu, AS perlu menyikapi ini dengan hati-hati. Apabila salah langkah, bukan hal yang tidak mungkin bagi China semakin memperkuat pengaruhnya sebagai pemain global. 

Referensi 

Chan, M. H. T. (2018). The Belt and Road Initiative–the New Silk Road: a research agenda. Journal of Contemporary East Asia Studies, 7(2), 104-123. https://doi.org/10.1080/24761028.2019.1580407 

Anam, S., & Ristiyani, R. (2018). Kebijakan Belt and Road Initiative (BRI) Tiongkok pada Masa Pemerintahan Xi Jinping. Jurnal ilmiah Hubungan internasional, 14(2), 217-236. https://doi.org/10.26593/jihi.v14i2.2842.217-236 

Kartini, I. (2016). Kebijakan jalur sutra baru cina dan implikasinya bagi amerika serikat. Jurnal Kajian Wilayah, 6(2), 131 147. http://jkw.psdr.lipi.go.id/index.php/jkw/article/view/334 

Author:

9 thoughts on “Upaya Hegemoni China melalui Belt and Road Initiative (BRI) dan Implikasinya bagi Amerika Serikat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *