Tripartite Environment Ministres Meeting: Kerja Sama Lingkungan Jepang, Korea dan China

Jepang, Korea dan China memiliki letak geografisnya yang berdekatan satu dengan yang lain dan juga mempunyai sejarah satu dengan yang lain. Hal itu menyebabkan ketiga negara besar di Asia Timur ini saling berkompetisi, salah satunya dalam bidang industrialisasi. Industrialisasi yang berkembang pesat pada ketiga negara tersebut juga berdampak pada kerusakan lingkungan yang dialami Kawasan tersebut. Masalah-masalah lingkungan yang sering ada di Kawasan tersebut seperti polusi udara, polusi air yang meluas hingga laut, polusi tanah dan kepunahan hewan dan tumbuhan di Kawasan tersebut. Kerusakan lingkungan tersebut pun meluas ke negara-negara perbatasan.  Menurut (Hayati & Yani 1998) Ada beberapa hal yang menyebabkan menurunnya kualitas lingkungan hidup, Yaitu: 

a. Pertumbuhan penduduk yang pesat dan cepat

b. Tingkat kesejahteraan

c. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi

d. Laju urbanisasi

Faktor-faktor tersebut kemudian dapat mempengaruhi dan menentukan kepentingan politik dalam memutuskan kebijakan politik.

Menurut Carter (2007) Pembangunan berkelanjutan merupakan konsep yang menekankan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa merusak kebutuhan untuk generasi mendatang. Konsep tersebut disepakati dengan melihat dampak yang ditimbulkan dari kerusakan lingkungan akibat pembangunan yang tidak tepat serta laju industrialisasi yang membawa dampak tidak hanya bersifat lokal bahkan global, sehingga isu lingkungan mendapat perhatian tersendiri oleh masyarakat internasional. Hal tersebut menjadikan salah satu alasan Jepang, Korea dan China untuk bekerja sama dalam masalah lingkungan. Pada tahun 1999 tercetuslah Tripartite Environment Ministers Meeting (TEMM), yang bertujuan untuk menangani masalah-masalah lingkungan yang disebabkan oleh laju industrialisasi yang pesat, bertukar informasi dan penguatan Kerja sama dalam bidang lingkungan Kawasan regional bahkan internasional. 

Sejak tahun 1999 awal berdirinya ,TEMM selalu melakukan melakukan pertemuan rutin setiap tahunnya di tempat yang berbeda Pertemuan pertama TEMM hanya bertukar pandangan masing-masing anggota dalam hal kerja sama lingkungan dalam menghadapi isu lingkungan di tingkat regional dan global. Dalam pertemuan tersebut pula disepakatinya jika TEMM adalah forum penting untuk Kerja sama lingkungan hidup di Kawasan dengan menerapkannya konsep suatainable development. Setiap tahun TEMM melakukan pertemuan untuk bertukar pandangan tentang Kerja sama lingkungan yang ada di Kawasan. Pada pertemuan pertama yang dilaksanakan di Seoul (1999) ketiga negara tersebut bertukar pandangan untuk meningkatkan kerja sama lingkungan di Asia Timur Laut dan masalah lingkungan global. Di tahun 2002 di Seoul, ketiga kementerian melakukan pengamatan mengenai hal terpenting dari perlindungan lingkungan di abad 21 untuk membuat usaha yang matang dalam penerapan sustainable development. Pada tahun 2005 di Seoul, TEEM menerima beberapa pemaparan tentang five years plan yang dicetuskan China yaitu tentang environmentally-friendly society berdasarkan dari konsep pengembangan keilmuan. Lalu, pada pertemuan itu juga menekankan kalau TEMM akan bekerja sama dalam berbagai isu regional. Pada tahun 2006 di Beijing, pada pertemuan ini setiap anggota negara TEMM memaparkan kebijakan dari setiap negaranya. China memaparkan mengenai tiga transformasi untuk perlindungan lingkungan di China di bawah situasi yang baru. Korea dan Jepang juga memaparkan mengenai The Comprehensive National Environmental Plan dan Integrated Improvement of the Environment, Economy and Society. Lebih jauh lagi, setiap negara tidak hanya melaporkan perkembangan tetapi juga membahas mengenai masa depan TEMM. Pada tahun 2008 pertemuan TEMM kesepuluh yang dilakukan di pulau Jeju, Korea Selatan. Korea Selatan memperkenalkan Environmental Policy Directions & Tasks for Green Growth & Higher Quality of life, lalu Jepang juga mengenalkan Clean Asia Initiative dan the Action Plan for Low-Carbon Society. Lalu China memaparkan the efforts of “pollution abatement” dan “rehabilitating the ecologically vulnerable rivers and lakes” yang diambil dari Scientific Outlook on Development. Pertemuan tersebut juga membahas mengenai cara menciptakan masyarakat low carbon.

Referensi

Hayati, S., & Yani, A. (2007). Geografi Politik, Bandung. Refika Aditama.

Carter, N. (2007). The Politics of The Environment, Ideas, Activism, Policy 2nd Edition. Cambridge University Press.

Author: Adjie Lionel

Jepang dan negara industri(C)

32 thoughts on “Tripartite Environment Ministres Meeting: Kerja Sama Lingkungan Jepang, Korea dan China

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *