Terjadinya Bubble Economy di Jepang, Serta Populernya Abenomics: Faktor Penghambat Kebijakan Abenomics

Jepang adalah negara yang terkenal dengan kemajuan perekonomiannya yang luar biasa. Kesuksesan yang didapat oleh Jepang dari sektor perekonomiannya membuat negara sakura ini mampu bersaing dengan negara lain di kancah internasional. Namun dibalik kesuksesannya dalam perekonomian, Jepang pastinya juga mengalami pasang surut dalam meraih kesuksesannya tersebut.

Dampak Berakhirnya Perang Dunia II bagi Jepang

Dengan berakhirnya Perang Dunia II membuat mayoritas negara-negara di dunia mengalami krisis yang disebabkan oleh perang berskala besar tersebut, terutama dalam sektor perekonomian. Jepang merupakan salah satu negara yang mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II. Sebelum terjadinya Perang Dunia II, Jepang adalah negara yang memiliki Gross Domestic Product (GDP) yang cukup stabil. Kekalahan yang dialami Jepang ini sangat memberikan pengaruh terhadap keadaan perekonomiannya. Karena semakin memburuknya perekonomian Jepang, membuat para investor menarik investasinya yang menyebabkan kebangkrutan di negara sakura tersebut.

Pertumbuhan Perekonomian Jepang Mulai Membaik

Pada tahun 1950-an sampai dengan tahun 1970-an awal Jepang mengalami banyak hal-hal baik terhadap perekonomiannya. Pertumbuhan perekonomian Jepang mengalami kenaikan yang cukup baik dari sebelumnya. Hal tersebut membuat Jepang seperti mengalami keajaiban. Pemerintah Jepang terus berupaya melakukan reformasi dan restrukturisasi terhadap sektor industri dan pertanian, lalu melakukan peningkatan terhadap standar kehidupan serta hak-hak masyarakatnya, dan juga menerapkan kebijakan ekonomi yang meningkat, serta berfokus dalam mengembangkan teknologinya agar dapat membantu meningkatkan perekonomiannya. Lalu pada tahun 1980, Jepang semakin mengalami peningkatan yang sangat memuaskan, hal ini dilihat dari adanya peningkatan terhadap masyarakatnya yang konsumtif. Hal lain juga terjadi pada sektor sumber daya manusia yang semakin terdidik dan memiliki keterampilan yang luar biasa. Serta didukung juga oleh kondisi politik negara Jepang yang stabil dan berpengaruh terhadap meningkatnya investasi di berbagai macam sektor.

Terjadinya Bubble Economy

Dilihat dari apa yang telah didapatkan oleh Jepang di masa kebangkitannya di tahun 1950 sampai dengan 1980, Jepang tidak luput dari pasang surut yang dialami negaranya. Dengan banyaknya pencapaian yang diraih oleh Jepang, menyebabkan tidak terkontrolnya aktivitas ekonominya seperti di sektor perbankan dan sektor properti. Pada tahun 1989, Jepang mulai mengalami tahap Bubble Economy. Bubble Economy atau Ekonomi Gelembung merupakan situasi ekonomi yang terjadi ketika harga aset (seperti saham dan tanah) melonjak naik atau bahkan melebihi dari harga normal, maka dengan begitu akan muncul bubble economy. Pada tahun 1990, harga semua aset (terutama tanah) meningkat secara drastis dan mengalami puncak termahal dalam sejarah, dengan harga aset naik tanpa batas. Di tahun 1991 terjadi inflasi yang mengakibatkan Jepang jatuh dari masa jayanya. Dengan begitu Jepang mengalami stagnasi dalam perekonomiannya. Akhir dari bubble economy Jepang memiliki dampak yang besar. Perusahaan-perusahaan di Jepang merasakan dampak langsung dari berakhirnya bubble economy ini. Perusahaan mengalami kerugian dan melakukan PHK besar-besaran.

Bagaimana Kebijakan Abenomics?

Akibat dari terjadinya Bubble Economy tersebut membuat Jepang harus mengalami resesi yang cukup lama. Berbagai macam kebijakan dicoba Jepang untuk memulihkan kembali perekonomiannya yang sedang terpuruk, salah satunya ialah kebijakan Abenomics. Abenomics merupakan suatu kebijakan ekonomi yang dibuat oleh Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe (“Mengenal Abenomics, Jurus Ekonomi Eks PM Jepang Shinzo Abe”, 2020). Kebijakan Abenomics itu terdapat tiga panah yang dibuat dengan tujuan untuk mengekspansi perekonomian Jepang yang belum kembali pulih dari resesi ekonomi global. Ketiga panah tersebut terdiri dari stimulus moneter, stimulus fiskal, dan reformasi struktural. Pada stimulus moneter dapat membantu Jepang dalam mengerahkan kekuatan produktifnya dan diperluas melalui reformasi struktural sehingga dapat memehuni target fiskal yang ambisius (Abas, 2018). Dari kebijakan yang dibuat oleh Shinzo Abe ini selain bertujuan untuk memulihkan ekonomi domestik Jepang namun juga untuk menjaga kestabilan ekonomi internasional seperti meningkatnya permintaan domestik, pertumbuhan GDP, meningkatnya prospek negara dengan terhadap daya saing, adanya reformasi pasar tenaga kerja, dan meluasnya mitra perdagangan.

Faktor Penghambat dalam Menerapkan Kebijakan Abenomics

Di dalam suatu negara (pemerintahan) yang menerapkan kebijakan pasti ada faktor-faktor yang menjadi penghambat. Seperti kebijakan Abenomics ini, terdapat beberapa hal yang menjadi penghambat dalam proses penerapannya. Pertama, adanya perbedaan kebutuhan dan kepentingan yang datang dari kelompok masyarakat. Dengan begitu perlu adanya penyesuaian dari kebijakan tersebut dalam menerapkannya agar dapat memenuhi kebutuhan dari setiap kelompok. Contohnya seperti petani dan buruh yang tentu saja kebutuhan dan kepentingannya berbeda.

Kedua, setiap kelompok pasti memiliki sikapnya masing-masing. Salah satunya adanya pertentangan. Walaupun kebijakan ini memiliki tujuan yang baik untuk memulihkan kembali perekonomian Jepang, namun dalam penerapannya perlu adanya upaya pemerintah untuk meminimalisir hal tersebut terjadi. Contohnya seperti adanya selisih paham antara pemerintah dengan kelompok petani. Zenchu merupakan badan apeks sistem koperasi pertanian Jepang, yang dimana memiliki kekuatan dalam hak pemungutan suara, dengan begitu Abe melakukan pengajuan untuk mengurangi kekuatan Zenchu tersebut.

Ketiga, hambatan selanjutnya datang dari kondisi sosial. Sifat apatis yang dimiliki oleh masyarakat Jepang (terutama kaum muda) dalam keikutsertaannya di sektor politik membuat kebijakan Abenomics ini sulit diterapkan. Rasa ketidakpeduliannya terhadap politik yang datang dari kalangan muda bukanlah hal yang baru di Jepang. Seperti pada pemilihan Majelis Rendah di tahun 2014, pemilih yang berusia sekitar 20-an hanya memiliki persentase 32,6%, jumlah persentase tersebut lebih rendah dibandingkan dengan jumlah pemilih yang berusia sekitar 60-an yaitu 68,3% dan yang berusia 70-an memiliki persentase 59,5% dalam memberikan hak suaranya (Yoshida & Osaki, 2016). Dari kebijakan Abenomics yang dibuat oleh Shinzo Abe ini menaruh harapan terhadap Jepang agar dapat memulihkan kembali masalah perekonomiannya. Namun dibalik kebijakan tersebut tentu saja ada hambatan-hambatan yang perlu dihadapi. Faktor-faktor yang menghambat kebijakan Abenomics disebabkan oleh keberagaman perilaku dan sikap kelompok sasaran serta kondisi sosial di Jepang saat ini.

Referensi

Abas, A. (2018). Implementasi Kebijakan Abenomics di Jepang Tahun 2012-2017. eJournal Ilmu Hubungan Internasional. 6(2), 443-458. https://ejournal.hi.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2018/02/ejurnal%20Adi%20Abas%20(02-12-18-05-30-19).pdf

Mengenal Abenomics, Jurus Ekonomi Eks PM Jepang Shinzo Abe. (28 Agustus, 2020). CNN Indonesia https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200828161302-532-540397/mengenal-abenomics-jurus-ekonomi-eks-pm-jepang-shinzo-abe

Yoshida R., & Osaki T. (8 Juli, 2016). Young voters hope to reform Japan’s “silver democracy”. The Japan Times. https://www.japantimes.co.jp/news/2016/07/08/national/politics-diplomacy/young-voters-hope-reform-japans-silver-democracy/#.WTdfCjXZ8WA

Author: Siti Nuurul Iman Hidayat

Jepang dan Negara Industri Klp C

55 thoughts on “Terjadinya Bubble Economy di Jepang, Serta Populernya Abenomics: Faktor Penghambat Kebijakan Abenomics

  1. artikel yang sangat menarik dan informatif, menyampaikan dinamika kebijakan ekonomi negara jepang dari pasca perang dunia II hingga sekarang. Terimakasih artikelnya sangat membantu mba nuurul.

  2. Menarik artikel nya! Kalau bicara sejarah Jepang menang sangat menarik mengingat bagaimana yang dulunya terpuruk akibat perang hingga bisa bangkit menjadi Jepang yg seperti sekarang. Good job Nuruul!

  3. Pingback:슬롯머신

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *