Strategi Singapura dan Jepang Melalui Developmental State Sebagai Kemajuan Ekonomi

Meskipun secara geografis bentuknya terlihat kecil tetapi gemerlap lampu dikota dan banyak gedung tinggi menjulang tinggi, suasana yang ramai dan padat oleh pejalan kaki sebagian menggunakan transportasi dengan fasilitas canggih, Singapura sudah dianggap berhasil oleh dunia sebagai negara yang maju. Singapura merupakan negara yang mempunyai banyak kisah sukses, meskipun dilihat secara geografis negara Jepang lebih luas. Di mata dunia internasional, Singapura berhasil membuat negara besar dan berpengaruh dari segi regional dan global. Keberhasilan Singapura menjadikan negara maju dan dipandang dunia internasional salah satunya dipengaruhi gaya kepemimpinannya menghadapi suasana jatuh bangun mengalami krisis dan kesulitan sehingga bisa membuat citra lebih baik, lalu pengaruhnya seorang pemimpin bisa mengatur serta mengawasi perusahaan pemerintahan maupun swasta, sehingga ekonomi pasar akan stabil yang merupakan salah satu penggerak kemajuan negara demi mencapai tujuan yang ideal.

Pemimpin yang membawa nama baik Singapura bernama Lee Kuan Yew. Lee Kuan Yew menjabat sebagai perdana menteri  Singapura dari periode 1959-1990 berhasil membuat Singapura mempunyai kemampuan sebagai negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi terbaik di dunia dengan gaya kepemimpinan bersifat otoriter. Meskipun begitu gaya kepemimpinan dia begitu berterus terang, tegas, serta rendahnya kebebasan demokrasi, hal ini sesuai dengan korelasi prinsip Developmental State. Karakteristik dari Developmental State ini ada 5 unsur. pentingnya tindakan negara dalam pembangunan ekonomi, pasar diatur dalam birokrasi instrumen elite, beberapa lembaga memiliki koordinasi dalam sektor swasta, tugas dalam pemisahan memerintah dan perintah (Irawan, 2017).

Dalam unsur ini ada kaitannya dengan pengaruh atau implikasinya. Pengaruh dari Developmental State adalah Proses bagaimana memahami demokratisasi negara berkembang tertentu dengan perbandingan jalur sukses negara barat, sehingga keterkaitan ekonomi politik dan sejarah sangat penting (Suyatno, 2008). Di asia timur, sudah memakai prinsip Developmental State untuk memajukan perekonomian dan masyarakatnya. Developmental State  bisa dilihat sebagaimana negara yang memiliki ikatan atau hubungan internal dan eksternal politiknya menampilkan pemusatan kekuasaan yang meliputi wewenang, otonomi, kompetensi serta pencapaian tujuan yang bersifat eksplisit. Disini kelemahan dari Developmental State cocok dengan sifat pembangunan otoriter dan kurangnya demokrasi.

Sebagai perbandingan gaya kepemimpinan Singapura, kita melihat lebih jauh lagi gaya kepemimpinan dari negara Jepang. Negara Jepang dari segi sejarahnya memiliki fase era kerajaan setelah lengsernya era kerajaan, memasuki fase modernisasi. Pada saat itu, terjadinya perang dunia ke-2 dan Jepang berkontribusi yang didapat adalah kekalahan serta kerugian akibat ledakan bom nuklir di Hiroshima. Merosotnya ekonomi setelah perang dunia ke-2, Jepang membangun kembali negaranya dengan cara Development State akan tetapi perbedaan penggunaan prinsip Developmental State ini, Jepang menyebutnya dengan Flying Geese.

Flying Geese sendiri ditemukan oleh Kaname Akamatsu. Dia adalah Profesor ahli  ekonomi dari Universitas Hitotsubashi. Arti Flying Geese adalah tentang pembangunan ekonomi, perdagangan internasional, dan investasi asing langsung istilah ini mengartikan sebagai Jepang yang mengejar ketertinggalan kemajuan ekonomi dan membangun kembali (Ozawa, 2005). Penjelasan lebih jauh mengenai Flying Geese ini, pembahasan mengenai kebijakan pasar produk. Dominan impor, produksi dan ekspor lalu cakupan kurva menjelaskan ini bagaimana saling keterkaitan. Dalam kurva ini harus stabil antara masuknya produk dari masuknya luar maupun original bisa di sebut One Model. Dimana Jepang lebih mengutamakan produk dari negeri sendiri yang lebih memajukan dan mensejahterakan masyarakat sehingga ekonomi pasar lebih bisa dikendalikan sedangkan Singapura meskipun Perdana Menteri gaya kepemimpinan bersifat otoriter, dari prinsip Developmental State termasuk sukses membangun negaranya lebih maju tetapi Singapura tidak bisa membuat stabil pasar ekonomi sehingga produk original lebih banyak kontribusi dari kerja sama negara lain, Jepang dalam Developmental State ini ada kontribusinya dengan istilah Flying Geese intinya impor, produk, ekspor stabil tidak ada dominasi. 

Kesimpulan dari penjelasan artikel di atas, Singapura dilihat letak geografis lebih kecil dibanding Jepang. Singapura berhasil membuat asumsi dunia internasional berhasil menjadikan negara yang dapat maju, penggunaan prinsip Developmental State dari kedua negara ini digunakannya berbeda era. Singapura menggunakan prinsip Development State pada masa kepemimpinan Lee Kuan Yew dengan gaya kepemimpinan bersifat otoriter, sedangkan Jepang membuat Developmental State lebih dulu digunakan setelah Perang Dunia Ke-2 akibat jatuhnya bom nuklir serta kerugian dalam peperangan. 

Referensi

Irawan, D. R. (2017). The Origin of Developmental State in Singapore.  Jurnal Analisis Sosial Politik, 1(1), 1-7. http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=769435&val=12558&title=THE%20ORIGIN%20OF%20DEVELOPMENTAL%20STATE%20IN%20SINGAPORE 

Suyatno. (2008). Menjelajahi Demokrasi. Humaniora 

Ozawa, T. (2005). Institutions, Industrial Upgrading, and Economic Performance in Japan. Edward Elgar Publishing. 

Author: debi putri

8 thoughts on “Strategi Singapura dan Jepang Melalui Developmental State Sebagai Kemajuan Ekonomi

  1. Pingback:instagram hack
  2. Pingback:thi công cafe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *