Strategi Pertahanan Jepang dibawah Aliansi Jepang – Amerika Serikat

Sejarah terbentuknya aliansi Jepang dan Amerika Serikat adalah ketika kekalahan Jepang kepada sekutu pimpinan Amerika Serikat pada tangga 15 Agustus 1945, yang dimana menandakan berakhirnya Perang Dunia II. Saat itu Jepang merupakan suatu negara dengan kondisi yang diharuskan menyerah tanpa syarat kerena adanya upaya ancaman dan serangan yang lebih dahsyat dan luar biasa dari Amerika Serikat dan Tiongkok. Jepang mulai menandatangani perjanjian keamanan dengan Amerika Serikat (U.S-Japan Security Treaty) pada 8 September 1951 yang menandakan terbentuknya aliansi kedua negara. Sejak saat itu, keamanan nasional Jepang dijamin akan berada di bawah kekuasaan militer Amerika Serikat. Pada sebelumnya, kekuatan dan kehadiran militer Amerika Serikat di Jepang sendiri memberikan kekuasaan penuh untuk menjaga kestabilan pada keamanan di Jepang, dan kemudian dilakukan revisi sehingga kekuatan militer Amerika Serikat hanya akan dibutuhkan jika kala keamanan Jepang berada dalam posisi yang sedang terancam.

Jepang dikenal lebih tegas terutama dalam keamanannya pasca era Perang Dingin yang mana Artinya dalam setiap tindakan yang mungkin dilakukan, Jepang berusaha lebih proaktif dan meningkatkan kepekaannya terhadap keseimbangan kekuatan yang terjadi di Asia dengan perhatian pertahanannya berdasarkan pengalaman mereka terkait dengan Perang Pasifik (Roy, 2004). Karena pertahanan menjadi aspek vital dalam keberlangsungan suatu negara, keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari proses pembuatan kebijakan, khususnya politik luar negeri. Suatu negara membutuhkan kebijakan luar negeri untuk mencapai nasional kepentingan untuk mempertahankan eksistensinya karena menanggapi berbagai macam ancaman, atau tantangan di lingkungan internasional yang berada dalam kondisi anarkis. Di tengah persaingan banyak kepentingan berbagai aktor, Jepang memutuskan untuk mengubah kebijakan mereka terkait dengan strategi pertahanan sebagai rencana bahwa Shinzo Abe mengusulkan untuk akhirnya mengizinkan Jepang menjadi lebih ofensif untuk beberapa kasus (Ginanjar, et.al., 2020)

Sejak terbentuknya aliansi Jepang dan Amerika Serikat setelah terjadinya Perang Dunia II, aliansi ini menjalin kerjasama keamanan yang tangguh dan menjadi pilar bagi stabilitas di kawasan. Setelah ditandatanganinya U.S-Japan Security Treaty pada 8 September 1951, kemudian terbentuklah Mutual Security Pact pada tahun 1950-an, dan aliansi diperbaharui menjadi Treaty Mutual Cooperation and Security pada tahun 1960, dimana Jepang sendiri sepakat untuk menyediakan hak dasar dalam menempati wilayah Jepang sebagai ketentuan untuk menjaga keamanan Jepang dari ancaman-ancaman eksternal. Hingga saat ini, pasukan Amerika Serikat sendiri kini berjumlah 53.000 tentara di Jepang lebih dari 50% berada di Okinawa dan mendapatkan akses lebih dari 89 fasilitas (Chanlett-Avery & Rinehart. 2016). Penempatan untuk militer Amerika Serikat suatu elemen utama dari Japan-U.S Security Arrangement dan merupakan suatu kerjasama dalam implementasi kerjasama dari kedua negara besar dibidang pertahanan dalam The Guidelines for Japan-U.S Defense Cooperation.

Aliansi tersebut memiliki mayoritas non-mutual, yang berarti bahwa Jepang secara legal belum bisa memberikan secara penuh kapabilitas pertahanan bagi Amerika Serikat jika diserang, namun pedoman baru atas perjanjian keamananan dibawah administrasi Shinzo Abe dan Barack Obama telah dibuat. Pedoman baru ini memungkinkan untuk Jepang hadir dalam pertahanan negara lain, walaupun dengan pertimbangan batasan-batasan legal tertentu, yang termasuk keharusan persetujuan oleh legislatif Jepang. Pemerintah Jepang juga telah mengadakan operasi luar negeri dengan secara langsung berkontribusi pada operasi Amerika Serikat seperti di Afghanistan dan Iraq. Termasuk misi jangka panjang pengisian bahan bakar angkatan laut di Samudera Hindia dalam mendukung operasi Amerika Serikat di Afghanistan dan pengerahan sekitar enam ratus tentara ke Iraq, yang dimana pasukan Jepang menggunakan peran penting dalam rekonstruksi Iraq setelah invasi Amerika Serikat.

Aliansi ini juga secara terus menerus tumbuh menjadi lebih kuat. Kedua negara ini pun telah meningkatkan komunikasi dan koordinasi bilateral, dan meningkatkan perhatian pada Ballistic Missile Defense (BMD), cyber security, dan penggunaan di udara. Bilateral Joint Operations Command Center di Yokota Air Base adalah salah satu contoh nyata dari luasnya integrasi yang terjadi dimana kedua pihak saling berbagi informasi untuk meningkatkan identifikasi, pencarian target, dan pencegat sinyal. Selain itu juga, Amerika Serikat dan Jepang telah berpartisipasi dalam berbagai latihan multilateral dengan negara partner lainnya di kawasan, termasuk Australia dan Filipina. Untuk Melengkapi aliansi tersebut, Amerika Serikat dan Jepang pun menjadi mitra yang lebih dekat dari segi ekonomi. Terlihat saat ini Jepang menjadi mitra dagang terbesar ke-4, dan pada tahun 2014 Amerika Serikat melakukan perdagangan senilai lebih dari US$ 200 juta dengan Jepang (Allen & Sugg. 2016).

Aliansi ini memiliki perjanjian yang luas dan sangat strategis, namun kedua negara masih menemui adanya beberapa kendala dalam meningkatkan aliansi ini. Contohnya, kondisi fiskal yang menyebabkan penekanan terhadap anggaran pertahanan dan masyarakat Jepang yang merasa tertekan dengan adanya pasukan Amerika Serikat, khususnya di Okinawa. Meskipun Perdana Menteri Abe mendorong untuk meningkatkan kemampuan keamanan Jepang, namun masih terdapat keraguan apakah masyarakat Jepang ingin menggeser postur militer Jepang pasca Perang Dingin menjadi lebih aktif.

Referensi:

Allen, J., & Sugg, B. (2016, Juli). The U.S.-Japan Alliance. (Asian Alliances Working Paper, 2, 1-6). https://www.brookings.edu/wp-content/uploads/2016/07/Paper-2v2.pdf

Chanlett-Avery, E., & Rinehart, I. E. (2016). The U.S.-Japan Alliance. Congressional Research Service, 22, 1-32. https://crsreports.congress.gov/product/pdf/RL/RL33740/22

Ginanjar, Y, Subagyo, A, & Akim. (2020). Japan’s Deffense Strategy : The Alternative For The Dynamic Asian Pasific. Khazanah Sosial, 2(1), 37-48. http://journal.uinsgd.ac.id/index.php/ks

Roy, D. (2004). Stirring samurai, disapproving dragon: Japan’s growing security activity and Sino Japan relations [Monograph]. Asian Affairs: An American Review, 31(2), 86–101. https://doi.org/10.3200/AAFS.31.2.86-101

15 thoughts on “Strategi Pertahanan Jepang dibawah Aliansi Jepang – Amerika Serikat

  1. Wah artikel yang saya tunggu-tunggu nih dari Author Buchika, terimakasih yah sudah memberikan saya bahan bacaan yang bermutu! mantap!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *