Sikap China Terhadap ASEAN dalam Menghadapi Covid-19

Pada tahun 2019 akhir, muncul wabah yang menjadi perbincangan seluruh dunia yaitu wabah Covid-19. Maksud dari sebutan Covid-19 itu adalah Corona Virus Disease yang muncul pada tahun 2019. Pertama kali, virus ini ditemukan di Wuhan, China dan pastinya virus ini merupakan tantangan besar bagi China dan negara negara tetangganya di Asia Timur dan juga Asia Tenggara. Akibat dari penyebaran virus yang sangat cepat ke berbagai wilayah, virus ini juga meluas ke bahkan ke negara yang berada diluar benua Asia. Hal tersebut dikarenakan proses penularan virus ini sangatlah mudah, jadi penyebarannya pun cepat melebar keberbagai belahan dunia. Karena penyebaran wabah yang sangat cepat keselutuh dunia, pada 11 Maret 2020 World Health Organization (WHO) menetapkan wabah ini sebagai pandemik. Adanya Covid-19 ini, bahkan membuat negara negara maju sekalipun merasa ketakutan dan menjadi tantangan yang cukup besar untuk negara negara diseluruh dunia. Banyaknya korban yang meninggal karena kasus ini membuat negara negara didunia harus membuat kebijakan terkait protokol kesehatan supaya penyebaran virus tidak mudah terjadi. Permasalahan ini juga tentunya tidak hanya menjadi tantangan di bidang kesehatan tapi juga bidang lain seperti politik, sosial, dan ekonomi.

Pemerintah Wuhan sendiri sama sekali belum siap dan mulanya menahan diri dalam mengambil tindakan yang tegas terkait pengendalian virus ini. Penahanan dalam mengambil tindakan tegas ini terjadi karena tidak diinginkannya tercipta kepanikan publik juga dikhawatirkan tindakan tersebut dapat memberikan efek negatif terhadap acara politik lokal penting yang sudah dijadwalkan pada 6-10 januari 2020. Walaupun terdapat peringatan namun tampaknya hal tersebut membutuhkan waktu untuk membuat tanggapan yang tepat.

Dalam mengatasi wabah yang menyebar ini China langsung melakukan penguncian wilayah atau yang biasa disebut lockdown. Kebijakan tersebut pertama kali dimulai pada tanggal 23 Januari 2020 di kota Wuhan dengan cara menutup semua akses keluar masuk dari dan ke kota Wuhan. Tidak hanya itu, penduduk kota diwajibkan untuk tidak keluar rumah dan bepergian. Kebijakan ini dilakukan untuk mencegah meluasnya penyebaran virus. Tindakan cepat yang dilakukan oleh pemerintah China membuahkan hasil yang bagus, dengan waktu yang tidak lebih dari tiga bulan. Pada 25 Maret 2020, melalui Komisi Kesehatan China di Provinsi Hubei, pemerintah China mengawali pembukaan lockdown, tapi khusus untuk kota Wuhan, lockdown bisa berakhir pada tanggal 8 April 2020. Pembukaan lockdown tersebut berdasarkan pada tidak adanya jumlah kasus baru di Hubei sejak 19 Maret 2020. Secara menyeluruh ada 67.000 kasus di Hubei dan tingkat kesembuhannya mencapai 60.000 orang. Karenanya, pemerintahan Xi Jinping optimistis mereka sudah menjinakkan penyebaran covid-19 di China. (Kennedy et al., 2020)

Tidak hanya China, negara negara di Asia Tenggara juga mengalami wabah Covid-19. Hal tersebut, menjadi tantangan tersendiri bagi regionalisme ASEAN, karena mempengaruhi terhambatnya lajur kerjasama negara negara ASEAN dalam berbagai bidang. Berbagai upaya telah dilakukan oleh negara negara ASEAN termasuk diberlakukannya penutupan teritori yang merupakan kedaulatan internal setiap negara, baik di darat, laut maupun udara atau disebut juga kebijakan lockdown. Kebijakan tersebut diimplementasikan baik secara luas maupun terbatas dan bertahap. Namun, dikhawatirkan kebijakan yang sifatnya semi karantina ini dapat mempengaruhi penerapan regionalisme ASEAN yang sudah mencanangkan diri mereka sebagai komunitas kawasan pada tahun 2015. (Falahi & Nainggolan, 2020).

Lalu, dalam menanggapi lebih lanjut upaya mengatasi wabah Covid-19, pada 14 April 2020 Kepala Negara/Pemerintah dari negara negara anggota ASEAN membuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang membahas mengenai Covid-19 dengan menggunakan video daring. Setelah itu, Para pemimpin negara ASEAN mengambil keputusan untuk membentuk dana regional dalam upayanya menghadapi Covid-19. (Association of Southeast Asian Nations, 2020)

China yang merupakan kekuatan pengganti peran Amerika Serikat setelah ketegangan yang terjadi akibat dari kebijakan dan manuvernya di Laut China Selatan, sejak Januari 2020 mengawali sikap yang ramah sebagai bentuk pendekatan serta pemulihan kembali hubungannya dengan negara negara di kawasan khususnya anggota ASEAN. Pemerintah China secara cepat langsung menawarkan bantuan peralatan medis dan Alat Pelindung Diri (APD) untuk negara negara di Asia Tenggara. Tidak hanya itu, aktor non negara seperti Jack Ma yang merupakan pemilik perusahan transnasional yang sangat kuat di China juga memberikan bantuan dengan menawarkan inisiatif coorporate social responsibility yang dijalankan oleh beberapa perusahaan mereka.  Perkembangan yang cepat juga tampak terjadi di China, seperti aktivitas pabrik yang mulai berjalan pada Maret 2020. Tentunya, hal itu menyebabkan adanya peluang bagi pemerintah China untuk dapat memberikan bantuan yang lebih kepada negara anggota ASEAN dalam mengatasi dan memerangi pandemik yang sedang terjadi, seperti dengan langkah ‘diplomasi masker’. Langkah yang diambil China terkait ‘diplomasi masker’ juga dimaksudkan sebagai cara pendekatan dan pemeliharaan kembali hubungan regionalnya dengan ASEAN, utamanya dalam hubungan kerjasama ekonomi. (Falahi & Nainggolan, 2020)

Kebijakan lockdown yang dilakukan oleh negara anggota ASEAN juga mencontoh sikap China dalam menghadapi pandemik, karena kebijakan tersebut dinilai memiliki hasil yang efektif untuk mengurangi penyebaran Covid-19. Wabah ini merupakan isu ancaman non tradisional yang dampaknya tidak hanya sebatas masalah kesehatan tetapi juga berbagai bidang lain. Sikap China dalam memberikan bantuannya terhadap ASEAN baik dari aktor negara maupun non negara terkait kebutuhan APD kepada negara anggota ASEAN merupakan salah satu bentuk kepedulian negara yang baru saja menjadi kekuatan dunia dalam menunjukkan pengaruhnya yang signifikan di kawasan.

Referensi

Association of Southeast Asian Nations. (2020). Declaration of the Special ASEAN Summit on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). https://asean.org/declaration-special-asean-summit-coronavirus-dise,ase-2019-COVID-19/

Kennedy, P.S.J., Harya, T.W., Tampubolon, E., & Fakhriansyah, M. (2020). Analisis Strategi Lockdown atau Pembatasan Sosial dalam Menghambat Penyebaran Covid -19. Journal IMAGE, 9(1), 48-64. https://ejournal.upi.edu/index.php/image/article/download/24189/pdf

Falahi, Z., & Nainggolan, P.P. (2020). Regionalisme ASEAN dalam Merespons Pandemik Covid-19. Info Singkat, 12(7), 7-12. https://berkas.dpr.go.id/puslit/files/info_singkat/Info%20Singkat-XII-7-I-P3DI-April-2020-2092.pdf

Author: Pingky Agustin

Politik Internasional dan HI di Asia Tenggara dan Asia Timur

40 thoughts on “Sikap China Terhadap ASEAN dalam Menghadapi Covid-19

  1. Sebelum terimakasih banyak untuk materi tentang Covid 19 yang cukup menarik dan menambah wawasan.tapi tolong diperhatikan huruf biar gak ada kesalahan contohnya ini sangat cepat keselutuh dunia.seharusnya ditulis keseluruh dunia ya.terimakasih

  2. Tulisan terbaik yg pernah awak baca! Artikel lain ga ada apa²nya daripada tulisan ini! Semoga nilai uas nya bisa bagus! Suprott👍🏻

  3. Terima kasih karena telah membuat artikel yang informatif sekaligus bermanfaat ini. Untuk tujuan dari artikel, saya rasa sudah cukup jelas. Namun, yang ingin saya koreksi di sini adalah dari segi penggunaan huruf kapital, penempatan tanda baca serta masih adanya tipo. Untuk kedepannya, saya berharap agar penulis bisa lebih baik lagi dalam hal penulisan artikelnya dari segi-segi yang saya soroti tersebut. Tetap semangat! ✨

  4. Pembahasan yg menarik sekali sesuai dengan keadaan sekarang dan informatif sekali! Terimakasih infonya semoga bermanfaat bagi kita semua, semangat terus author!✨

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *