Semenanjung Korea: Konflik Berkepanjangan dan Tantangan di Asia Timur

Dalam dinamika hubungan internasional, perubahan pola hubungan antaraktor‒dalam konteks ini yaitu negara‒dapat terjadi secara lambat maupun cepat. Perubahan yang dinamis ini tak jarang menjadi sulit untuk diprediksi bahkan oleh para ahli di bidangnya sekalipun. Kondisi internal maupun eksternal menjadi faktor suatu negara dalam menentukan kebijakan apa yang harus diambil. Hal ini berlaku untuk semua negara termasuk negara-negara di kawasan Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan Korea Utara.

Berbicara tentang Asia Timur, kawasan ini tak luput dari konflik-konflik yang terjadi di antara negara-negaranya. Salah satu konflik yang sampai saat ini masih dianggap belum tuntas adalah konflik yang melibatkan Korea Selatan dan Korea Utara. Jauh sebelumnya, yaitu ketika dunia dihadapkan dengan Perang Dingin, kedua negara itu mendapati adanya perbedaan terutama dari segi ideologi. Perbedaan ideologi negara, antara sistem kapitalis dan sistem komunis, mengisyaratkan awal mula ketidakcocokan yang timbul dalam konflik tersebut (Oishi, 2014). Hal itu pula yang akhirnya membawa kedua negara pada Perang Korea yang terjadi di tahun 1950-1953 dan menimbulkan ketegangan di sepanjang Semenanjung Korea.

Setelah peristiwa runtuhnya Tembok Berlin, ketegangan di antara Korea Selatan dan Korea Utara masih terasa. Konflik Semenanjung Korea ini juga melibatkan negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Tiongkok, bahkan Rusia. Tidak menutup kemungkinan akan berdampak pada hubungan dengan negara lain yang masih ada dalam satu kawasan yaitu Jepang. Jika melihat kondisi global pasca Perang Dingin, ada tiga hal yang menjadi tren dalam hubungan internasional sebagaimana observasi yang dilakukan oleh Choi (1991) dalam jurnalnya; keamanan (security), ekonomi, dan ideologi. Dari segi keamanan, kita tahu bahwa Amerika Serikat telah diakui sebagai negara superpower dan dengan berkurangnya bahaya terkait perang termonuklir maka dunia menjadi lebih damai. Akan tetapi, di saat yang sama, tantangan-tantangan baru pun muncul seperti salah satunya adalah konflik kawasan atau regional yang masih terus berlanjut dan itu termasuk konflik Semenanjung Korea. Dari segi ekonomi, tren dari tripolarity masih berlanjut yang mana Uni Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur sebagai titik pusat perekonomian dunia. Dari situlah muncul tantangan baru yaitu adanya kemungkinan terjadinya pergeseran atau perselisihan di antara tiga titik pusat tersebut. Dari segi ideologi, kita tahu bahwa saat ini pemikiran demokrasi liberal telah mendunia dan bahkan konsep ekonomi pasar global juga telah diterapkan. Akan tetapi, masa depan dari pemikiran dan konsep ini masih belum diketahui mengingat masih ada negara yang belum menerimanya seperti Korea Utara misalnya.

Dari penjelasan di atas, kita mendapat gambaran bahwa konflik yang terjadi di antara Korea Selatan dan Korea Utara ini akan terus berlanjut mengingat masing-masing bersikeras memertahankan sistem yang dianutnya. Tentu saja itu akan sulit untuk menyatukan keduanya. Selain itu, masing-masing kedua pihak memiliki dukungan dari negara lain yang terlibat dalam konflik ini. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia yang notabene adalah negara berpengaruh di dunia menjadi pendukung untuk masing-masing negara yang berkonflik. Hal itu pun tentu saja karena adanya kepentingan masing-masing. Oleh karena itu, hal terpenting terkait konflik Semenanjung Korea saat ini adalah bukan bagaimana cara menyatukan Korea Selatan dan Korea Utara melainkan bagaimana cara negara-negara di kawasan tersebut dapat mengatasi ketidakstabilan rezim di antara mereka. Dan tentu saja ini menjadi tantangan tersendiri untuk negara-negara di kawasan Asia Timur. Mengingat adanya latar belakang dan kepentingan yang berbeda untuk setiap negara.

Untuk merespon konflik terkait ketegangan yang terjadi di Semenanjung Korea ini, Korea Selatan telah mengambil langkah dengan menjalin kerjasama dengan Amerika Serikat terutama kerjasama di bidang keamanan dan militer. Hal itu bertujuan untuk menjaga stabilitas keamanan sekaligus menciptakan perdamaian di semenanjung tersebut. Selain itu, peran Amerika Serikat sendiri dapat dikatakan sebagai balancer terutama terkait Korea Utara yang memiliki senjata nuklir. Dengan adanya negara superpower itu diharapkan dapat mencegah ancaman keamanan di kawasan tersebut.

Kemudian, terkait hubungan antara Korea-Jepang, hal ini telah menjadi rahasia umum bahwa hubungannya dapat dikatakan rumit. Yang menjadi faktornya adalah latar belakang sejarah di antara pihak-pihak tersebut. Meski begitu, Jepang tetap melakukan kerjasama dengan Korea Selatan maupun Korea Utara demi memeroleh kepentingannya. Korea Selatan sendiri melihat hal tersebut sebagai langkah yang dapat memberi keseimbangan sekaligus mengurangi ketegangan di kawasan tersebut.

Terakhir, hubungan Korea-Tiongkok yang mana kita telah tahu bahwa Korea Utara dan Tiongkok memiliki hubungan yang erat mengingat adanya pandangan atau perspektif yang sama di antara keduanya. Untuk Korea Selatan sendiri, negara itu telah melakukan normalisasi hubungan dengan Tiongkok dan tentu saja kerjasama yang dibentuk oleh keduanya tidak akan berdampak langsung pada hubungan Korea Utara-Tiongkok. Justru posisi Tiongkok di sini dapat menjadi jembatan untuk Korea Selatan dan Korea Utara. Meskipun Tiongkok telah menjalin hubungan kerjasama dengan Korea Selatan, negara itu tetap akan menjaga hubungannya dengan Korea Utara.

Konflik Semenanjung Korea yang berkepanjangan dan dianggap belum tuntas
seutuhnya ini tentu membawa dampak tersendiri untuk negara-negara yang khususnya ada di kawasan Asia Timur. Ketegangan yang terjadi di semenanjung akan memengaruhi pola perilaku negara-negara di sekitarnya dan tentu saja hal itu menjadi tantangan tersendiri. Tidak hanya negara-negara yang berkonflik namun yang secara langsung ataupun tidak langsung terlibat di dalamnya dituntut untuk menentukan kebijakan yang tepat dalam mengatasi konflik ini.

Referensi
Choi, K. S. (1991). Korea in The Post-Cold War Era. Journal of Northeast Asian Studies, 10(4), 24-34. https://link.springer.com/article/10.1007%2FBF03025093


Oishi, M. (2014). In Search of an East Asian Way of Conflict Management: Three Regional Cases. International Journal of China Studies, 5(3), 705-731. https://www.researchgate.net/publication/290775377_In_Search_of_an_East_Asian_Way_of_conflict_Management_Three_regional_cases

One thought on “Semenanjung Korea: Konflik Berkepanjangan dan Tantangan di Asia Timur

  1. Pingback:elo job

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *