Sekuritisasi Isu Terorisme ASEAN Pasca Pertempuran Marawi

Pertempuran Marawi merupakan aksi terorisme yang berlangsung dan dilakukan oleh kelompok instrugen Abu Sayyaf dan klan Maute. Aksi tersebut terjadi di Marawi, ibu kota di provinsi LAnao Del Sur di pulau Minandao selatan, Filipina. Pertempuran Marawi melibatkan warga Filipina, tentara militer Filipina, pasukan kepolisian, dan Islamic State (IS) atau ISIS (isalamic state in Iraq and Syria) yang beraliansi atau bersenkongkol dengan kelompok terorisme domestic. Aksi ini sama seperti kasus Aleppo, Mosul, Raqqa dan kota-kota lain. Pertempuran Marawi dengan cepat menyebar di berbagai penjuru kota dengan kehadiran kelompok-kelompok militant yang mengambil alih lokasi-lokasi strategis termasuk banguna pemerintah sengan kata lain, kelopok milisi yang berafiliasi dengan IS ini menjalankan aksi insurgensi secara tepat dan tersistematis di berbagai wilayah di Filipina. (Wijaya, 2019)

Pada 17 Oktober, Presiden Rodrigo Roa Duterte menginformasikan bahwa Marawi telah di bebaskan dari milisi dengan terbunuhnya Isnilon Hapilon yang yang di sebut-sebut sebagai pemimpin ISIS dikawasan  Asia Tenggara meskipun pertarungan masih terus berlangsung dan berhenti pada 23 Oktober 2017. Klan Maute dan kelompok Abu Sayyaf yang terlibat dalam pertempuran Marawi pada saat itu dipimpin oleh Maute bersaudara, sedangkan Omar Khayyan dan Abdullah yang memimpin Islamic State Lanao (ISL), dan kelompok Abu Sayyaf yang dipimpin oleh Isnilon Hapilon telah di diresmikan oleh Abu Bakar al-Bagdhadi sebagai pemimpin Islamic State Philippines (ISP) yang baru dan juga di promosikan sebagai pemimpin Daulah Islamiya Wilayatul Musriq untuk memperluas ISIS wilayah Asia Timur. Terdapat setidkanya 300 pejuang IS yang memulai penyerangan di Marawi. Pejuang tersebut diantaranya terdiri dari pejuan ISL dan pejuang luar negeri utamanya warga Negara Indonesia dan Malaysia serta dukungan dari kelompok Abu Sayyaf dan balik islam yakni warga yang melakukan konversi agama menjadi islam. (Wijaya, 2019)

ISIS sangat mengincar Asia Tenggara sebagai target untuk melakukan propagandanya. Mereka mencari dan merekrut warga Negara Indonesia, Malaysia dan Filipina untuk bergabung dengan mereka mewujudkan tujuannya. Dikarenakan banyak wilayah ISIS yang hilang di Iraq dan suriah menyebabkan ISIS bergerak mencari anggota baru bagi mereka. Selain itu, kematian pemimpin mereka yakni al-Baghdadi membuka lembaran baru dalam keberlangsungan organisasi tersebut. Sekelompok warga Negara Indonesia dan Malaysia dilaporkan berada di suriah dan meminta untuk di pulangkan ke Negara aslnya. Kekhawatiran masyarakat muncul saat ISIS ingin kembali ke kampung halamannya, ditakutkan menyebarkan idieologi mereka. ASEAN sebagai lembaga yang menaungi Negara-negara memiliki kewajiban untuk melindungi Negara kawasannya dari bahaya ISIS. (Rachmat, 2020)

Dari pembahasan diatas, penulis berargumen bahwa peristiwa yang terjadi di Manawi cukup menarik untuk di teliti karna kasus ini memiliki perbedaan karateristik dari kasus terorisme yang telah terjadi di Asia Tenggara khususnya pada era JI. Pergerakan Marawi menunjukan peningkatan dalam mengekploetasi dalam sumber daya yang dimiliki agen kejahatan transnasional dalam melakukan penyerangan ditengah kelalaian pemerintah Filipina yang menyepelekan adanya ancaman terorisme. Ancaman yang diterima selanjutnya bukan hanya mencakup domensik melainkan ancaman regional. Hal ini tidak lain karena ideologi ekstrimisme dan kekerasan dapat bertumbuh dan berkembang dengan cepat pada cakupan geografis yang relatif dekat dan mengubah stabilitas ekonomi, politik dan sosial budaya suatu kawasan. Sebagai organisasi regional ASEAN perannya sangat dibutuhkan untuk mencegah dan melawan terorisme transnasional meskipun banyak sekali hambatan-hambatan yang terjadi saat praktek. Negara-negara dalam kawasan ASEAN secara individu harus mengadakan rapat tentang strategi keamanan mengenai isu terorisme pasca peristiwa pertempuran Manawi. (Wijaya, 2019)

Referensi

Rachmat, A. N. (2020). Analisis Tindakan ASEAN Mengenai Isu Terorisme di Asia Tenggara dalam Sudut Pandang Neoliberalisme. Insignia Journal of International Relations. 7(2), 174-187 http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:SCHT2Gq1JRoJ:jos.unsoed.ac.id/index.php/insignia/article/download/2690/1905/+&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id

Wijaya, B. (2019). Sekuritisasi Isu Terorisme ASEAN Pasca Pertempuran Marawi [Skripsi, Departemen Ilmu Hubungan Internasional]. Universitas Airlangga. http://repository.unair.ac.id/id/eprint/91472

Author:

11 thoughts on “Sekuritisasi Isu Terorisme ASEAN Pasca Pertempuran Marawi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *