Realisme Sebagai Paradigma dalam Politik Internasional

Dalam ilmu Hubungan Internasional atau HI, terdapat berbagai aspek yang menjadi kajian dalam melihat fenomena-fenomena hubungan internasional yaitu seperti aspek sosial, aspek ekonomi, maupun aspek politik. Jika kita melihat fenomena yang terjadi dalam hubungan internasional, kajian terkait aspek politik seringkali menjadi pembahasan yang dianggap sebagai salah satu bagian dari studi HI itu sendiri. Politik Internasional sebagai studi yang fokus pada fenomena politik dalam hubungan internasional. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa untuk mengkaji atau menganalisis suatu fenomena dalam hubungan internasional, kita membutuhkan teori atau paradigma. Tentu ini juga berlaku jika kita ingin menganalisanya berdasarkan aspek politik yang ada dalam fenomena hubungan internasional tersebut.

Salah satu paradigma dalam ilmu HI, yang sampai saat ini masih sering digunakan karena dinilai relevan dengan situasi dan kondisi internasional, adalah paradigma Realisme. Menurut Fukuyama (2003), politik dan hubungan internasional itu sendiri merupakan masalah evolusi sejarah. Perkembangan dari sejarah itulah yang akan membawa kita pada suatu pertanyaan atau teka-teki sejarah yang bertentangan dan berkaitan. Kaum yang memandang sesuatu dengan optimis cenderung menganut pemikiran yang idealis. Sedangkan, kaum yang memandang sesuatu dengan pesimis cenderung menganut pemikiran yang realis. Munculnya berbagai sudut pandang ini menunjukkan bahwa perkembangan sejarah dunia tidak dapat kita terka dengan mudah.

Para pemikir realis menganggap bahwa seolah-olah sejarah itu tidak eksis. Sebagai contoh, fenomena seperti perang dan imperialisme dianggap sebagai salah satu aspek yang memang telah menjadi bagian dari sifat manusia itu sendiri. Perang ataupun imperialisme adalah salah satu fenomena yang terjadi dalam sejarah dan juga dinamika hubungan internasional. Dalam paradigma Realisme, fenomena seperti itu dianggap sebagai hal yang bersifat alami dan sulit untuk dihindari karena asalnya dari sifat manusia. Karena itulah para pemikir realis ini berpandangan pesimis.

Realisme dalam menganalisis politik internasional didasarkan pada pandangan terhadap realitas. Dalam hal ini berarti melihat pada apa yang ada dalam realita. Segala konflik yang telah maupun tengah terjadi saat ini dianggap sebagai akibat dari adanya sifat anarki manusia. Menurut Sorensen (2003), pemikiran kaum realis berlandaskan pada pencarian kekuatan dan dominasi yang asalnya dari sifat manusia itu sendiri sebagai alasan dasar untuk suatu konflik.

Realisme politik mengandung unsur-unsur oportunisme dan menekankan pada suatu situasi atau kondisi yang layak dalam arti sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang ada serta mengambil langkah-langkah yang paling pragmatis sebagai suatu solusi yang mana hal itu tidak benar untuk jangka waktu yang panjang (Asrudin, 2014). Menurut para pemikir realis, mereka juga menganggap bahwa prinsip moral tidak dapat dijadikan acuan dalam memahami pola tingkah laku politik negara. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Morgenthau (1985), realisme politik tidak perlu adanya pembenaran moral tetapi memerlukan pembedaan yang jelas antara apa yang dikehendaki dan apa yang mungkin diharapkan di manapun serta kapanpun.

Dalam menganalisis politik internasional, paradigma Realisme tidak mengenal adanya prinsip moral dikarenakan dalam dunia internasional tidak ada otoritas tertinggi yang mengatur kehidupan negara. Hal ini disebabkan oleh hubungan antarnegara yang berlangsung dalam lingkungan anarki. Menurut paradigma ini pula, negara dipandang sebagai pelaku atau aktor utama yang dianggap penting dan berpengaruh dalam dinamika perpolitikan. Negara juga dipandang sebagai otoritas tertinggi yang direpresentasikan oleh pemerintah. Paradigma Realisme pun memandang isu keamanan nasional sebagai isu utama sehingga aspek militer dan juga politik dianggap sebagai isu paling penting dalam perpolitikan dunia. Untuk menjaga stabilitas keamanan dan politik, yang menjadi kepentingan bagi suatu negara, konsep kekuatan (power) menjadi kunci solusinya. Mengingat sifat anarkinya manusia yang cenderung menggunakan segala cara tanpa dilandasi prinsip moral bahkan kekerasan pun dianggap valid.

Dari penjelasan di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa paradigma Realisme ini cenderung memandang segala sesuatunya dengan pesimis. Fenomena politik internasional yang terjadi dianggap sebagai akibat dari sifat anarki manusia serta hal itu sulit dihindari sehingga muncul berbagai konflik. Konflik, permasalahan, ataupun isu-isu yang dianggap penting dalam paradigma ini adalah terkait keamanan nasional yang mana terdiri dari aspek militer dan politik. Negara sebagai aktor utama sekaligus unit analisisnya. Konsep power sebagai solusi dalam suatu konflik guna mencapai kepentingan nasional (national interest).

Referensi
Asrudin, A. (2014). Thomas Kuhn dan Teori Hubungan Internasional: Realisme sebagai Paradigma. Indonesian Journal of International Studies, 1(2), 107-122. https://doi.org/10.22146/globalsouth.28830


Fukuyama, F. (2003). The End of History and The Last Man: Kemenangan Kapitalisme dan Demokrasi Liberal. Qalam.

Morgenthau, H. J. (1985). Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace. Alfred A. Knopf.


Sorensen, G. (2003). Demokrasi dan Demokratisasi: Proses dan Prospek dalam Sebuah Dunia yang Sedang Berubah. CCSS & Pustaka Pelajar.

4 thoughts on “Realisme Sebagai Paradigma dalam Politik Internasional

  1. Pingback:dark0de market
  2. Pingback:쿠쿠티비
  3. Pingback:best sex doll

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *