Potensi Cina Sebagai Hegemoni Baru Serta Implikasinya Terhadap Kestabilan di Kawasan Asia

Berbicara mengenai negara yang memiliki prospek untuk menggantikan posisi Amerika Serikat sebagai hegemoni dunia, adalah Cina yang disebut-sebut paling potensial di antara negara-negara berprospek lainnya seperti Brazil, India, Rusia, serta kawasan seperti Uni Eropa. Hal ini tentu sangat berdasar mengingat isu kebangkitan ekonomi Cina masih santer terdengar. Pada akhir tahun 1970-an hingga 1990-an, PDB (Produk Domestik Bruto) Cina rata-rata tumbuh sekitar 10 persen tiap tahunnya. Ini merupakan yang tertinggi dalam sejarah. Menurut data tahun 2015 milik IMF (International Monetary Fund), PDB Cina menyentuh angka sebesar US$ 10,356.508. Ini menjadikan Cina sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Tidak cukup sampai di sini, militer Cina pun turut menyusul kebangkitan ekonominya yang gemilang. Berdasarkan data GFP (Global Fire Power), kekuatan militer Cina berada di posisi ketiga setelah Amerika Serikat dan Rusia. Anggaran militer Cina bahkan sempat menjadi yang terbesar dari negara-negara lainnya.

Hal yang paling banyak memotivasi Cina untuk menjadi negara hegemonik, jika pembaca mempercayai bahwa demikian halnya, yakni masa kejayaan Cina itu sendiri. Sebelum kolonialisme mulai menyentuh sendi-sendi kehidupan Cina, Cina dahulunya merupakan Middle Kingdom – sebuah negara yang dihormati di kawasannya. Pada masa kejayaannya, Cina menempati posisi superior di kawasan dan menerima upeti dari negara-negara di sekitarnya. Sebagai gantinya, negara-negara tersebut akan memperoleh jaminan keamanan dari Cina. Selain itu, Cina dahulunya juga merupakan pusat peradaban di Asia. Inilah yang sedikit banyak memotivasi Cina untuk kembali menjadi Middle Kingdom di era kontemporer, setelah dahulu sempat dipermalukan oleh kolonialisme dan secara resmi masuk ke masa kekelaman.

Adapun hegemoni dalam pandangan Cina itu sendiri berbeda dengan hegemoni yang paling banyak orang-orang yakini, yang melandaskan asumsi-asumsinya pada hegemonitas Amerika Serikat. Hegemoni menurut Cina sejalan dengan prinsip-prinsip konfusianisme yang menekankan hierarki serta harmoni. Hierarki tercapai ketika negara-negara di sekitar Cina tersubordinasi terhadap Cina. Harmoni tercapai ketika Cina dan negara-negara subordinatnya memiliki kesamaan visi dan misi – yang mana tentulah visi dan misi Cina yang paling banyak diadopsi. Selain itu, hegemoni yang diinginkan Cina masih pada level yang lebih rendah, yakni level regional Asia.Meningkatnya kekuatan Cina sebagai salah satu negara yang influensial di kawasan Asia digadang-gadang membawa dampak yang buruk terhadap stabilitas di kawasan Asia. Denny Roy 1994,  menjelaskan bahwa peningkatan hegemoni Cina di Asia berdampak pada dua hal penting terkait keamanan di kawasan Asia Pasifik.

Pertama, terlepas dari kekuatan ekonomi Jepang yang cukup kuat di Asia, keberadaan Cina di kawasan memungkinkan adanya perubahan posisi dalam pergolakan politik dan persaingan ekonomi di Asia Timur khususnya. Cina secara perlahan-lahan mulai menyadari bahwa kekuatan ekonominya sangatlah superior dan mulai merasa bahwa perlu adanya manifestasi dari kekuatan ekonominya tersebut untuk menguasai pengaruh di Asia, dan di saat yang bersamaan, kelemahan Jepang dalam memperkuat ekonominya dan bersaing melawan Cina membuat mereka terlihat sangat kesulitan untuk memenangkan pertarungan pengaruh.

Kegagalan dalam mendapatkan pengaruh di Asia Timur membuat Cina tidak kehabisan akal untuk melirik ke wilayah Asia Tenggara untuk mendapatkan aliansi. Negara-negara di Asia Tenggara dianggap sebagai mitra-mitra perdagangan yang sangat strategis, dan juga aliansi politik yang sangat penting. Keterlibatan Cina dalam pakta perdagangan bersama ASEAN dan juga RCEP misalnya, menjadi manifestasi pelebaran sayap Cina dalam mendapatkan pengaruh besar di Asia.

Kekuatan Cina dalam bidang ekonomi ini tentu saja menjadi ancaman bagi stabilitas di kawasan Asia. Kemampuan Cina meyakinkan mitra-mitra dagangnya di Asia menumbuhkan polarisasi kekuatan pro-Cina dan anti-Cina, yang tentu saja menjadi ancaman bagi stabilitas. Kehadiran Amerika Serikat juga memperkuat dikotomi polarisasi yang terjadi di Asia, yang tentunya memperbesar peluang konflik terjadi di kawasan.

Kedua, kekuatan ekonomi dan politik yang dimiliki Cina membuat Cina lebih percaya diri untuk melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya asertif pada lawan-lawan politiknya, ataupun kepada pihak-pihak yang dianggap mengganggu Cina dalam mencapai hegemoni yang diinginkannya. Dalam kasus Laut Cina Selatan, misalnya, respon yang diberikan Cina tentunya dapat dikategorikan dalam kategori asertif. Penurunan pasukan-pasukan militer di daerah konflik dan juga upaya pembuatan pulau-pulau artifisial di Laut Cina Selatan merupakan manifestasi nyata dari sifat asertif Cina di kawasan Asia.

Sifat Asertif yang dilakukan oleh Cina ini juga didukung oleh dukungan politik yang diberikan oleh rakyat Cina kepada Xi Jinping, mempermudah Xi Jinping untuk terus menerus meningkatkan jumlah militernya dan meningkatkan kekuatan armada lautnya untuk mencapai hegemoni yang diinginkan. Tentunya hal ini berimplikasi pada stabilitas di kawasan Asia, membuat Asia lebih rentan dalam konfrontasi militer dan konflik territorial.

Cina sebagai salah satu negara yang memiliki kapabilitas militer yang sangat kuat dan besar di Asia, dengan anggaran belanja militer dan jumlah personel yang besar, memiliki potensi untuk menjadi negara great powers yang akan menjadi negara hegemon di Asia, serta menandingi kekuatan militer Amerika Serikat. Cina membangun  hegemoninya di kawasan Asia dengan menggunakan beberapa tahapan, seperti Cina menjadikan dirinya sebagai aktor utama di kawasan Asia Timur, memiliki kapasitas Militer yang ofensif, menjadikan survival sebagai tujuan. Melalui tahapan-tahapan ini, Cina percaya diri bahwa dirinya mampu menantang dominasi Amerika Serikat dalam kacamata politik Internasional. Dengan kekuatan soft power yang dimiliki oleh Cina (kekuatan ekonomi, bantuan luar negeri, lembaga finansial, dan anggaran belanja militer) mereka berhasil mengukuhkan pengaruh dan hegemoni di kawasan Asia.

Kemudian, Cina juga membangun basis militernya menjadi begitu kuat dengan dengan jumlah personil militer yang begitu besar, persenjataan yang dimodernisasi dan juga teknologi nuklir membuat posisi  militer Cina menjadi salah satu yang paling kuat, selain kapabilitas militer yang dimiliki oleh Amerika Serikat. Selanjutnya, Cina juga menjadikan kekuatan soft power dan hard power yang dimilikinya untuk mencapai tujuan-tujuan nasionalnya yang dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi dirinya (integritas territorial, unifikasi nasional, keamanan maritime, dan stabilitas regional). dengan kapasitas ekonomi, politik  dan militer  yang sebesar itu dan kemudian Cina melakukan beberapa tahapan untuk mencapai tujuan strategis, maka tidak diragukan lagi bahwa kebangkitan Cina di Asia Timur adalah kebangkitan dari hegemoni regional baru yang menantang dominasi hegemoni Amerika Serikat di Asia.

Sebagai negara super power baru yang terletak di Asia merupakan salah satu dari 3 besar kekuatan militer dunia. Negara ini mulai berfokus dan membangun kekuatan militernya secara mandiri, dengan bantuan sahabat dekatnya yaitu Rusia. Cina mulai memproduksi berbagai peralatan militer canggih mulai dari pesawat tempur siluman dan rudal, sehingga memperkuat pertahanan militer di Negri Tirai bambu tersebut. Dengan bantuan rusia, cina mendapatkan batu loncatan yang cukup besar dalam bantuan secara moral hal itu tentu bisa menjadi salah satu parameter dalam mengembangkan hegemoni cina di asia.

Berdasarkan data yang telah diambil dari “Cina Military Modernization: Making Steady and Surprising Progress” tercatat pada tahun 2009 bahwa cina memiliki sebanyak 749,610,775 available manpower. Berbeda dengan amerika, yang menurut data terakhir yang berdasarkan index kekuatan Amerika, Amerika hanya memiliki 145,212,012 available manpower. Dengan perbandingan tersebut, Cina memiliki lebih banyak keunggulan dalam faktor available manpower yang cukup besar dalam jumlah. Sedangkan dalam alutista maritim Cina sekali lagi unggul dalam jumlah kekuatan total armada. Cina memiliki 673 armada laut, sedangkan Amerika memiliki 473 armada laut. Jadi dalam pemaparan data tersebut Cina memiliki beberapa ke unggulan dalam beberapa sektor.

Referensi

Friedberg, A. L. (2020, 30 Desember). Hegemony with China Characteristics. Center for the National Interest. http://users.clas.ufl.edu/zselden/coursereading2011/Friedberg.pdf

Guo, R. (2010). An Introduction to the Chinese Economy: The Driving Forces behind Modern Day China. John Wiley & Sons.

Medeiros, E., S. & Fravel, M., T. (2020, 30 Desember). China’s New Diplomacy. Foreign Affairs. https://www.academia.edu/150497/China_s_New_Diplomacy

Mearsheimer, J., J. (2010) The Gathering Storm: China’s Challenge to US power in Asia. The Chinese Journal of Internasional Politics. Oxford University Press, 387(3), 381-396. https://doi.org/10.1093/cjip/poq016

Roy, D. (1994). Hegemon on the horizon? China’s threat to East Asian security. International Security19(1), 149-168. https://doi.org/10.2307/2539151

Zha & Weixing Hu, D. (2006). Building a Neighborly Community: Post-Cold War China, Japan, and Southeast Asia. Manchester University Press.

Author:

15 thoughts on “Potensi Cina Sebagai Hegemoni Baru Serta Implikasinya Terhadap Kestabilan di Kawasan Asia

  1. Kajian menarik utk akademisi maupun pengambilan kebijakan di tanah air, sebab hegemoni Tiongkok /Cina juga akan berdampak kepada kepentingan strategis kawasan bagi Indonesia. Good.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *