Populasi Manula di Jepang: Berdampak Positif atau Negatif bagi Perekonomian Jepang?

Jepang merupakan salah satu negara yang berada di kawasan Asia Timur yang terkenal dengan populasi manusia lanjut usia (manula) yang dapat dibilang cukup relatif tinggi. Saat ini Jepang sedang mengalami era dimana tingkat populasi penduduk menurun dengan drastis. Berdasarkan data statistik World Health Organization atau singkatnya WHO pada tahun 2010, Jepang merupakan negara yang dikenal memiliki angka harapan hidup dengan peringkat tertinggi karena kondisi lingkunan yang bersih didampingi dengan gaya hidup yang sehat. Populasi manula di Jepang menimbulkan dampak negatif bagi perekonomian jepang, namun dibalik dampak negatif pasti terdapat dampak positif. Selengkapnya akan dibahas dibawah.

Dampak Negatif Populasi Manula di Jepang
Populasi manula di Jepang yang dapat terbilang cukup tinggi dan akan terus meningkat seiring berjalannya waktu. Dikutip dari Jurnal Asia Pasific Development, pada tahun 2050 yang akan datang usia rata-rata penduduk akan berusia di atas 53 tahun yang mana populasi manula akan terus mengalami peningkatan (Horlacher, & MacKellar, 2003). Dengan terus meningkatnya populasi manula di Jepang, hal ini menyebabkan terjadinya guncangan pada struktur permintaan Jepang yang pada gilirannya akan menyebabkan beberapa tekanan deflasi, peningkatan tingkat pengangguran, dan juga penurunan PDB riil dari awal tahun 1990-an hingga 2000-an. Dengan kondisi angka manula yang dapat dikatakan cukup tinggi, pemerintah merasa kewalahan untuk membayar uang pensiun. Jika populasi manula akan terus meningkat, akan menyebabkan peningkatan tingkat pengangguran. Hal tersebut dapat mempengaruhi perekonomian Jepang karena tenaga kerja merupakan sumber daya utama dalam berbagai bidang pekerjaan. Semakin berkurangnya sumber daya manusia karena keterbatasannya dengan usia akan mempengaruhi perekonomian Jepang itu sendiri.

Dampak Positif Populasi Manula di Jepang
Dibalik sisi negatif pasti terdapat sisi positif, sama halnya dalam dampak populasi manula di Jepang ini. Jepang dikenal dengan kondisi negara yang sangat taat dengan peraturan, menghargai waktu, menerapkan pola hidup sehat dan juga kebersihan di negaranya yang patut dicontoh oleh negara-negara lain. Pola hidup sehat dan gaya hidup yang bersih merupakan hal yang membuat populasi manula tetap sehat dan produktif. Semakin produktif manula di Jepang akan membuat manula tetap bekerja seperti masyarakat pada umumnya. Dan seperti yang kita ketahui, rata-rata usia masyarakat yang berhenti bekerja atau pensiun di Jepang adalah pada usia 65 tahun. Namun dibalik itu, masih banyak manula diatas umur 65 tahun yang sehat dan bugar yang masih mampu bekerja berkegiatan produktif layaknya masyarakat muda. SDM merupakan sumber daya utama dari banyak bidang pekerjaan, jika banyak manula yang pensiun otomatis nantinya akan menimbulkan kekurangannya sumber daya manusia.
Beberapa manula yang memutuskan untuk tetap produktif bekerja di usia yang seharusnya sudah pensiun, jangkauan prospek kerjanya tidak hanya bergantung pada keterampilan yang sudah mereka peroleh serta capai sejak awal mereka bekerja (Suryadi, 2019). Namun prospek pekerjaan mereka akan terus berkembang menyesuaikan sesuai dengan sejauh mana keterampilan yang sudah mereka upgrade. Hal tersebut akan memperluas prospek kerja serta terus mengembangkan keterampilan para manula yang akan bekerja lagi di usia nya yang sudah tidak lagi muda.

Pengaruh Populasi Manula terhadap Perekonomian di Jepang
Jika dibandingkan dengan sebagian besar negara di Eropa, penuaan populasi di Jepang termasuk jauh lebih cepat. Penuaan populasi yang cepat serta menyusutnya tenaga kerja di Jepang merupakan suatu tantangan utama untuk mencapai peningkatan lebih lanjut dalam standar kehidupan serta memastikan keberlanjutan keuangan negara daari pengeluaran sosial publiknya. Dibalik tantangan tersebut pastinya ada kebijakan yang tepat dan juga ada peluang untuk mengatasi tantangan ini yaitu melalui perpanjangan masa kerja serta memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan para pekerja manula (Suryadi, 2019).
Dapat disimpulkan dari dampak negatif populasi manula terhadap perekonomian di Jepang yaitu pemerintah Jepang kewalahan untuk membayar uang pensiun. Namun dibalik dampak negatif terdapat pula dampak positif dari populasi manula terhadap perekonomian di Jepang yaitu dapat meningkatkan serta mengasah kreatifitas para manula dan juga perusahaan di Jepang dapat mengkaryakan para manula yang sekiranya masih sehat serta bugar untuk tetap produktif melanjutkan pekerjaannya.

Referensi

Horlacher, D., & MacKellar, L. (2003). Population Ageing In Japan: Policy Lessons For South-East Asia. Asia-Pacific Development Journal, 10(1), 98-107. https://www.unescap.org/sites/default/files/apdj10-1-5-horlacher-mackellar.pdf

Suryadi. (2019). Memanfaatkan keahlian dan pengalaman lansia untuk tetap bekerja: Studi kasus pada negara Jepang. Jurnal Sains Manajemen, 5(10), 207-209. https://e-jurnal.lppmunsera.org/index.php/SM/article/download/1864/1144/

44 thoughts on “Populasi Manula di Jepang: Berdampak Positif atau Negatif bagi Perekonomian Jepang?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *