Politik di Eropa Barat: Reunifikasi Jerman

Jerman merupakan salah satu negara di Eropa Barat yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanannya menuju suatu negara kesatuan. Pada tahun 1945, Jerman mengalami kehancuran akibat kekalahan dari Perang Dunia II. Jerman yang saat itu dipimpin oleh pemerintahan NAZI dibawah pimpinan Hitler dikendalikan oleh sekutu. Wilayah-wilayah di Jerman dibagi-bagi oleh negara sekutu yaitu Amerika Serikat, Inggris dan Perancis. Hingga pada tahun 1949, kekuatan rivalitas antara Amerika Serikat dengan ideologi liberalis-kapitalis dan Uni Soviet yang sosialis-komunis berimbas kepada Jerman dan mengakibatkan terjadinya perpecahan Jerman menjadi dua kubu yaitu Jerman Barat yang diduduki oleh Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Jerman Timur yang diduduki oleh Uni Soviet pasca Perang Dingin. Tembok Berlin yang berdiri pada 1961 menjadi saksi terpisahnya Jerman Barat dan Jerman Timur yang saat itu didirikan sebagai pembatas keduanya (Kurniawati, 2015).

Istilah kiri dan kanan telah menjadi sebuah gagasan pandangan di kalangan populer dan para akademisi dalam suatu wacana politik. Istilah kiri dan kanan merupakan sebuah representasi sederhana dari kumpulan pandangan-pandangan yang mewakili ideologi politik (Baldacchino, 1989). Hal ini sejalan dengan permasalahan politik yang terjadi di Eropa Barat yaitu terpisahnya Jerman menjadi dua kubu yaitu Jerman Barat yang ideologinya mengikuti blok barat dan Jerman Timur dengan ideologinya yang mengikuti blok timur. Perbedaan ideologi tersebut dianut berdasarkan implementasi politik dan kebijakan oleh masing-masing kubu.

Dibentuknya Tembok Berlin semakin memperkuat ketegangan yang terjadi antara Jerman Barat dan Jerman Timur. Hal ini semakin menggambarkan adanya ketidakpercayaan satu sama lain dan kecurigaan yang mengakibatkan kesalahpahaman yang semakin memperburuk keadaan keduanya. Seiring berjalannya waktu, Jerman Barat semakin unggul pertumbuhan ekonominya dan melahirkan adanya kesenjangan kualitas hidup antara Jerman Barat dan Jerman Timur. Banyak masyarakat Jerman Timur yang melarikan diri ke Jerman Barat untuk memperbaiki kehidupannya dan sebagian besar merupakan orang-orang yang memiliki keahlian tertentu. Tentunya, hal tersebut mengakibatkan kerugian pada Jerman Timur sehingga dibentuklah Tembok Berlin yang bertujuan melindungi masyarakatnya dari pengaruh Blok Barat. Namun, sebenarnya hal tersebut merupakan langkah Pemerintah Jerman Timur dalam mencegah masyarakatnya melarikan diri ke Jerman Barat.

Melemahnya perekonomian Jerman pada pertengahan tahun 1980an serta terjadinya perubahan-perubahan pada politik global membuat keadaan semakin tegang dan melahirkan banyaknya perdebatan-perdebatan terutama pada pemerintahan Blok Timur. Saat itu, keadaan Jerman Timur juga semakin memburuk dibandingkan dengan perkembangan yang terjadi di Jerman Barat. Masyarakatnya banyak yang melakukan protes terhadap pemerintahan yang otoriter dan menuntut adanya kebebasan. Menurut Dyson (2005 dalam Hakim, 2010), terdapat tiga momentum besar dalam pertarungan struktur ekonomi politik Jerman. Pertama, adanya proses reunifikasi antara Jerman Barat dan Jerman Timur dengan berbagai implikasi ekonomi dan sosialnya; Kedua, adanya tekanan-tekanan dari luar terkait proses regionalisasi Eropa yang mana harus dibentuk penyeusaian struktur ekonomi politik; Ketiga, adanya desakan globalisasi dan liberalisasi ekonomi yang memaksa Jerman dalam melakukan reformasi industrial.

Tahun 1989 menjadi tahun yang paling penting bagi Jerman Barat dan Jerman Timur. Runtuhnya rezim komunis di Jerman Timur sejalan dengan keinginan rakyat Jerman Timur dalam melakukan reunifikasi dengan Jerman Barat. Pada 9 November 1989, Tembok Berlin yang menjadi pemisah antara Jerman Barat dan Jerman Timur runtuh. Pada 3 Oktober 1990, sesuai dengan negosiasi antara Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan Uni Soviet atau yang dikenal sebagai two plus four formula, Jerman resmi reunifikasi.

Melihat perjalanan Reunifikasi Jerman, dapat dilihat bahwa runtuhnya Jerman Timur bukan hanya karena faktor otoriter negara terhadap rakyat, namun semua juga berkat adanya dorongan dari masyarakat Jerman Timur untuk bersatu kembali dengan saudara sesama bangsanya yaitu Jerman Barat setelah empat puluh tahun lebih berpisah (Taufiq, 2016). Terciptanya Reunifikasi Jerman memiliki pengaruh terhadap keamanan regional Eropa yang sejalan dengan pengelolaan strategi Jerman dalam menciptakan keamanan regional Eropa. Status Jerman sebagai negara yang memiliki perekonomian yang kuat juga ikut memperkuat strategi Jerman tersebut. Dilihat dari wilayah Geopolitiknya, Jerman dipercaya sebagai jantung Eropa karena negaranya memiliki penduduk terbesar kedua di wilayahnya yang memiliki kekayaan ekonomi yang kuat.

Referensi

Baldacchino, G. (1989). The Dynamics of Political Restructing in Western Europe and Malta. Hyphen, 6(2), 99-116.
https://www.um.edu.mt/library/oar//handle/123456789/25188

Hakim, L. N. (2010). Transformasi Ekonomi-Politik Jerman dan Regionalisasi Ekonomi di Asia. Jurnal Kajian Wilayah, 1(1), 79-100.
https://jkw.psdr.lipi.go.id/index.php/jkw/article/download/131/pdf

Kurniawati. (2015). Pendidikan Sejarah dalam Kurikulum di Republik Federal Jerman: A Lesson Learned. Jurnal Pendidikan Sejarah, 4(1), 1-13.
https://doi.org/10.21009/JPS.041.01

Taufiq, A. (2016). Reimajinasi Politik dalam Novel Rabet, Runtuhnya Jerman Timur Karya Martin Jankowski. LITERA, 15(1), 51-62.
https://doi.org/10.21831/ltr.v15i1.9765

Author: Evita Nabilla

32 thoughts on “Politik di Eropa Barat: Reunifikasi Jerman

  1. Pingback:Hp Sunucu destek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *