Pertumbuhan Ekonomi di Asia Timur

Asia Timur merupakan salah satu kawasan di benua Asia yang terdiri dari 8 negara, yakni Tiongkok, Hongkong, Jepang, Makau, Mongolia, Korea Utara, Korea Selatan dan Taiwan. Sejak tahun 1960-an hingga 1990-an, perekonomian negara-negara di kawasan Asia Timur mengalami pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan kawasan lain dengan rata-rata pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita lebih dari 4% per tahunnya. (Soekro et al., 2008). Akan tetapi, tanpa disadari meningkatnya pencapaian dan integritas ekonomi di kawasan ini telah menyebabkan krisis keuangan menyebar lebih cepat dan mudah serta merusak perekonomian yang terhubung.

Pada bulan Juli 1997, berbagai tanda krisis mulai bermunculan dan diikuti dengan gejolak nilai tukar yang meruntuhkan perekonomian Thailand. Krisis ekonomi yang terjadi di kawasan Asia Timur pun telah menekan perekonomian baik output, investasi maupun lapangan pekerjaan. Tercatat hingga akhir 1997, krisis tersebut telah menyebabkan hampir 4 juta tenaga kerja di Thailand dan Korea Selatan kehilangan pekerjaannya yang diikuti dengan penurunan upah riil pada akhir tahun 1998. (Soekro et al., 2008). Bahkan, predikat The East Asian Miracle yang telah didapatkan oleh kawasan ini harus hilang begitu saja ketika krisis ekonomi terjadi.

Beberapa tahun pasca krisis ekonomi, negara-negara di kawasan Asia Timur terus melakukan berbagai upaya untuk memulihkan perekonomian negaranya. Pemulihan ekonomi dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu tahap penyelamatan (rescue), tahap pemulihan (recovery) dan tahap pengembangan (development) yang juga didukung oleh pesatnya pembangunan manufaktur serta berbagai jasa yang ditopang dengan sistem kekuatan yang lebih besar.

Thailand dan Korea Selatan sebagai negara-negara di kawasan Asia Timur yang paling terkena dampak dari adanya krisis ekonomi dinilai telah sangat cepat melakukan recovery dengan tingkat inflasi yang terus mengalami penurunan. Selain itu, kawasan ini juga kembali membangun kerja sama antar negara melalui perdagangan dan investasi. Kedua bentuk kerja sama ini terus meningkat dengan adanya timbal-balik, seperti pertukaran teknologi, migrasi tenaga kerja dan sebagainya. Bahkan, kerja sama ini dianggap sebagai gerbang utama bagi kerja sama ekonomi kawasan. Meskipun begitu, angka pertumbuhan investasi di Asia Timur tidak secepat sebelum krisis dikarenakan adanya sikap kewaspadaan dari sektor swasta dan perbankan dalam mengambil keputusan investasi serta adanya perbaikan terhadap harga-harga aset. Penurunan tingkat inflasi dan kerja sama yang terus meningkat kemudian membuat perekonomian negara-negara dengan pendapatan yang relatif tinggi di Asia Timur berhasil mencapai pertumbuhan pendapatan di atas 10%, sedangkan negara-negara dengan pendapatan yang relatif lebih rendah hanya mencapai pertumbuhan yang stabil. (Raz et al., 2012).

Meskipun penurunan inflasi terus terjadi dan kondisi kawasan ini sudah lebih siap dibandingkan krisis ekonomi tahun 1997, negara-negara di kawasan Asia Timur tidak ada yang lolos dari dampak krisis finansial global hingga tahun 2009. Dalam East Asia and Pasific Update yang disampaikan oleh Bank Dunia, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di beberapa negara berkembang di Asia Timur akan turun menjadi 6,7% pada tahun 2009. Sementara, secara keseluruhan pertumbuhan PDB di kawasan ini diperkirakan akan turun menjadi 5,3% pada tahun 2009. Angka pertumbuhan ini juga telah mempertimbangkan kegiatan ekspor yang akan melemah serta penurunan tingkat investasi dan konsumsi. (“Tak Lolos dari Krisis, Ekonomi Asia Timur Hanya Tumbuh 5,3% di 2009”, 2008).

Faktanya, pertumbuhan ekonomi di Asia Timur selama tahun 2009 sedikit melambat dan membuat beberapa negara di kawasan ini mengalami resesi. Berbagai kebijakan seperti kebijakan sosial serta pelonggaran kebijakan fiskal dan moneter pun dilakukan untuk memulihkan krisis global yang terjadi, sehingga pada tahun 2010 pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di kawasan ini meningkat menjadi 7,1% per tahun. Peningkatan tersebut tidak berlangsung lama dikarenakan pada pertengahan tahun 2011 beberapa permintaan domestik dan eksternal Asia Timur mulai menurun, serta pemulihan sektor swasta melambat di beberapa negara yang sebelumnya terkena krisis. (World Bank, 2012). Pertumbuhan ekonomi Asia Timur sejak tahun 2010 hingga 2019 terus mengalami pasang surut, bahkan dapat dikatakan cenderung mengalami penurunan.

Penurunan yang telah terjadi selama beberapa tahun kemudian semakin diperburuk dengan munculnya Covid-19 yang tidak hanya menyebabkan guncangan perekonomian Asia Timur tetapi juga di seluruh dunia. Penutupan wilayah (lockdown) yang dilakukan dalam menekan laju penyebaran virus ini akan memperlambat perekonomian, bahkan dapat membuat penurunan yang sangat tajam. Pertumbuhan di kawasan ini diperkirakan akan melambat 1,3% hingga 02,8% dari perkiraan 4,7% pada tahun 2019. (World Bank, 2020). Hal ini dikarenakan ketika suatu wilayah ditutup maka aktivitas di beberapa sektor ekonomi juga ikut terhenti. Bahkan ketika kebijakan lockdown dilonggarkan, pendanaan di beberapa perusahaan tetap akan menurun yang kemudian membuat aktivitas ekonomi di Asia Timur diperkirakan mengalami kontraksi sebesar 1,2% dan akan meningkat pada tahun 2021 menjadi 5,4%. (Putri, 2020). Beberapa pengendalian yang dilakukan oleh negara-negara di kawasan Asia Timur dalam menekan laju penyebaran memungkinkan terjadinya pemulihan. Akan tetapi, risiko tekanan keuangan yang tinggi akan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.

Selain melakukan penutupan wilayah (lockdown) dan larangan berpergian (travel bans), negara-negara di Asia Timur juga telah menyepakati beberapa kebijakan guna mengurangi dampak pandemi yang sedang terjadi seperti melakukan peningkatan pada sektor kesehatan, penyusunan kebijakan moneter dan fiskal yang sesuai dengan dampak Covid-19, membantu konsumsi rumah tangga dan berbagai perusahaan untuk bertahan serta tetap membuka aktivitas perdagangan antar negara. Kemudian, organisasi-organisasi internasional pun ikut berperan penting dalam memerangi pandemi dan dampak yang ditimbulkan pada sektor ekonomi dan kesehatan. Lebih dari itu, negara-negara di kawasan Asia Timur harus sadar bahwa kerja sama yang mendalam merupakan vaksin yang paling efektif untuk melawan virus ganas ini.

Referensi

Raz, A., Indra, T., & Artikasih, D. (2012). Krisis Keuangan Global dan Pertumbuhan Ekonomi: Analisa dari Perekonomian Asia Timur. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, 15(2), 37-56. https://doi.org/10.21098/bemp.v15i2.61

Soekro, S. R. I., Herlianto, A., Amrozy, M. T., Susilorini, S. E., Lestari, A., Padoli, G., Binhadi, S., Firmansyah, A., Rasyid, A. A., & Arifin, S. (Eds). (2008). Bangkitnya Perekonomian Asia Timur Satu Dekade Setelah Krisis. PT Elex Media Komputindo.

Putri, C. A. (2020, 9 Juni). Ekonomi Asia Timur & Asia Pasifik Diramal 0,5% di 2020, RI?. CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/market/20200609083154-17-164006/ekonomi-asia-timur-pasifik-diramal-05-di-2020-ri

Tak Lolos dari Krisis, Ekonomi Asia Timur Hanya Tumbuh 5,3% di 2009. (2008, 10 Desember). detikFinance. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-1051511/tak-lolos-dari-krisis-ekonomi-asia-timur-hanya-tumbuh-53-di-2009

World Bank. (2020, 1 November). Navigating turbulence, sustaining growth (English). http://documents.worldbank.org/curated/en/758081468027853472/Navigating-turbulence-sustaining-growth

World Bank. (2020, 3 Juni). Asia Timur dan Pasifik di saat COVID-19. http://documents1.worldbank.org/curated/en/471071591188320683/pdf/Overview.pdf

Author: Iqlima Putri Chaerani

International relations student. //

55 thoughts on “Pertumbuhan Ekonomi di Asia Timur

  1. Krbijakan makroekonomi yg baik dan regulasi keuangan yg bijaksana telah membantu sebagian besar negara-negara di kawasan Asia Timur dan pasifik untuk menghadapi guncangan notmal. Kesulitan ekonomi yg signifikan yg tdk dpt dihindari,utk itu perlu diambil berbagai kebijakan,salah satunya dibidang investasi dan intervensi fiskal.

  2. Banyak ilmu yang di dapat, terutama terkait perekomonian Asia Timur dewasa ini. Semangat untuk penulis, sangat bermanfaat!

  3. Pembahasan artikelnya sangat bagus, dan membantu menambah wawasan lebih. Sangat berguna sekali. Penulisannya juga rapih dan terstruktur 🤗

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *