Persaingan Jepang-Korea Selatan sebagai Dua Kekuatan Budaya Asia Timur

Dikenal dengan dua negara yang memiliki kekuatan besar di Asia Timur, relasi bilateral antara Jepang dengan Korea Selatan seringkali menghadapi tantangan. Hal ini juga dilatarbelakangi oleh masa Perang Dunia II. Saat ini produk budaya popular Jepang dan Korea Selatan sangat menonjol, termasuk juga hal terkait globalisasi industri hiburan nya. Sara M. Hamilton menyebutkan bahwa Globalisasi dapat diartikan sebagai integrasi perekonomian, teknologi, politik, budaya, dan aspek sosial antar negara-negara di dunia. Salah satu aspek yang sangat terpengaruh oleh globalisasi di dunia internasional adalah kebudayaan. Pengaruh globalisasi dalam aspek budaya dapat dilihat dari penyebaran budaya suatu negara ke banyak negara lain, dalam berbagai macam bentuk seperti bahasa, musik, makanan, fashion, dan masih banyak lagi. (Hamilton, 2009) Keterlibatan aktor-aktor non-negara dalam hubungan internasional yang dalam hal ini adalah para pelaku industry hiburan, menjadikan peran tersendiri sebagai pelaku diplomasi publik. Yang tujuan adalah untuk mengubah perspektif publik terutama perspektif masyarakat negara tujuan.

Kepopuleran industri hiburan kedua negara tersebut berhasil memunculkan kelompok penggemar yang berpandangan positif terhadap mereka. Hal tersebut merupakan hasil dari konsumsi produk industri hiburan yang telah mengglobal. Meskipun begitu, globalisasi industri hiburan Jepang dan Korea juga sering kali mendapatkan respon negative dari masyarakat kedua negara tersebut. Banyak yang berasumsi bahwa globalisasi industri hiburan beserta aktor yang terlibat terkadang seakan diperalat untuk meningkatkan ketegangan politik serta persaingan kedua negara hingga meningkatkan sentimen negatif yang telah ada di kalangan masyarakat.

Mengikuti Amerika Serikat, kini muncul kekuatan-kekuatan baru dari timur terkait penyebaran budaya melalui globalized localism saat ini. Manga dan Anime masih menjadi budaya populer Jepang yang terkenal digemari masyarakat internasional secara luas. Sementara budaya Korea Selatan bangkit dengan fenomena Korean Wave yang juga dikenal dengan Hallyu tersebut sangat menjadi bahan pembicaraan di berbagai belahan dunia, terutama di negara-negara kawasan terdekat dengan Asia Timur.

Dalam pidato yang berjudul Creative Industry: A Key to Solidify Bases for Regional Cooperation in Asia di forum kerjasama budaya Asia di Hongkong pada tahun 2004, Sekretaris Parlementer Jepang untuk urusan luar negeri, Itsunori Onodera menyatakan bahwa dalam era globalisasi, budaya menjadi sesuatu yang dibagi bersama dan melewati batas-batas nasional. Onodera juga memperkirakan bahwa pada tahun 2006, industri budaya Jepang dan Korea akan bersama-sama menempati 13% dari pasar budaya internasional. (Berry, 2009)

Meskipun demikian, persaingan yang ada antara kepopuleran budaya Jepang dan Korea sangat sengit hingga mengalami pasang surut. Ketegangan antar kedua negara tersebut juga tidak dapat dihindari. Munculnya anti-Hallyu di Jepang salah satu respon dari ketegangan tersebut. Salah satu alasan munculnya anti-Hallyu tersebut karena masyarakat Jepang merasa dikritik oleh Korea Selatan terkait isu peristiwa dan kejadian-kejadian yang tidak terselesaikan. Tentunya, hal ini juga disebabkan oleh terdapatnya perspektif berbeda di antara masyarakat kedua negara mengenai isu tersebut, seperti yang diketahui masyarakat Jepang tidak sepenuhnya menerima pendidikan terkait apa yang Jepang lakukan pada masa Perang Dunia II. Sementara, di Korea Selatan, pemerintah sempat secara resmi mengeluarkan larangan terkait produksi dan distribusi budaya populer Jepang seperti manga, film, rekaman musik, juga penyiaran lagu-lagu populer Jepang.

Jepang dan Korea Selatan bukan hanya dua kekuatan budaya besar di kawasan Asia Timur, tetapi juga secara ekonomi dan politik. Walaupun statusnya dikenal sebagai sesama sekutu Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik, hubungan bilateral antara Jepang dan Korea Selatan tersebut seringkali dihiasi dengan berbagai ketegangan, yang latar belakang utamanya adalah karena sejarah yang pernah terjadi antara keduanya. Diluar persaingan budaya yang sedang ramai saat ini, beberapa permasalahan yang meliputi hubungan bilateral kedua negara tersebut antara lain adalah terkait politik dan sengketa wilayah seperti perdebatan terkait pulau Dokdo atau masyarakat Jepang menyebutnya dengan pulau Takeshima.

Ketegangan politik yang terus menerus terjadi pada hubungan bilateral Jepang dan Korea Selatan, akan tetapi diplomasi dan kerja sama kedua negara masih terus berjalan. Tidak terkecuali terkait budaya populer. Berbagai upaya untuk mempopulerkan budaya terus dilakukan, terutama dalam hal industri hiburan. Produk budaya populer termasuk industri hiburan, ditujukan sebagai sebuah instrumen soft power yang memiliki fungsi untuk mempengaruhi perspektif publik agar mengurangi ketegangan di antara kedua negara.  Sumber utama dari soft power adalah kebudayaan. Baik budaya tradisional maupun populer, nilai-nilai politik yang merepresentasikan pemerintahan di dalam maupun luar negeri, beserta kebijakan luar negeri yang bermoral. Ketiga sumber dari soft power menurutnya adalah hal-hal yang dapat mengubah perilaku suatu individu, kelompok masyarakat, atau bahkan Negara, sesuai dengan keinginan pihak yang memiliki soft power tersebut. (Nye, 2004) Dalam diplomasi publiknya antara Jepang dan Korea Selatan harus saling memberian dukungan, baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga dapat mengurangi sentimen dan ketegangan politik yang ada.

Referensi :

Berry, C., Liscutin, N., & Mackintosh, J. (2009). Cultural Studies and Cultural Industries in Northeast Asia: What a Difference a Region Makes. Hong Kong University Press.

Hamilton, S. (2009). Globalization. Abdo Consulting Group.

Nye, J. (2004). Soft Power: The Means to Success in World Politics. Cambridge Public Affairs TM

Author: Alya Aprilia

Hello! I am Alya Aprilia.

11 thoughts on “Persaingan Jepang-Korea Selatan sebagai Dua Kekuatan Budaya Asia Timur

  1. Tulisan ini berhasil membawa pembaca pada atmosfer kedua kekuatan di Asia Timur. Penulis mampu mengubah artikel ini menjadi sangat menarik sehingga saya mengalir membaca begitu saja. Lanjutkan, Alya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *