Perjuangan Jepang Melawan Terorisme

Pasca Perang Dingin, dunia ditandai dengan lahirnya suatu pergeseran ancaman keamanan yang awalnya bersifat militer menjadi sebuah ancaman keamanan non-militer. Munculnya berbagai macam aksi terorisme menjadi salah satu contoh keamanan non-militer dewasa ini. Terorisme bukanlah hal baru yang terjadi di dunia. War on Terror atau Worldwide War on Terrorism adalah suatu gagasan yang dibuat oleh Pemerintah Amerika Serikat dibawah kepemimpinan Presiden George W. Bush pasca terjadinya serangan teror pada 11 September 2001 di WTC.

Manusia tentunya menginginkan hidup yang tentram, harmonis, teratur, dan terhindar dari adanya kejahatan yang dapat mengancam kehidupan serta keamanan masyarakat. Terorisme yang kemudian beranjak menjadi suatu fenomena sosial yang dihadapkan kepada seluruh masyarakat di dunia tentu sangat meresahkan dan dianggap dapat mengganggu keamanan serta perdamaian hidup masyarakat di dunia. Kejahatan terorisme dapat dinilai suatu kejahatan lintas negara yang sangat mengerikan dan ditakuti bukan hanya oleh perorangan namun juga suatu negara karena sasarannya merupakan negara dan perseorangan dalam negara yang bisa jadi juga merupakan elit sosial politik yang sedang berusaha mencapai sebuah sasaran politik tertentu.

Kejahatan terorisme telah banyak terjadi di berbagai belahan dunia dan tidak memandang apakah negara tersebut maju ataupun berkembang, para tersangka juga tidak pandang bulu terhadap siapa korban yang jatuh akibat aksi terorisme tersebut. Hal tersebutlah yang memberi penilaian bahwa Terorisme telah dinilai sebagai suatu kejahatan lintas negara yang merupakan suatu tindakan teror berupa sebuah kekerasan yang sudah diatur secara sistematis dan tidak dapat ditebak. Dalam perkembangannya, terorisme banyak menimbulkan suatu konflik yuridiksi yang mengganggu kegiatan hubungan internasional banyak negara berkepentingan. Kejahatan terorisme lintas negara sangat mengancam ketertiban dan perdamaian dunia dan memerlukan perhatian dunia dalam meminimalisir bahkan menghapuskan terjadinya aksi-aksi terorisme yang merugikan. Karena dampak dari terorisme akan sangat merugikan negara mulai dari kerusakan yang terjadi hingga hilangnya nyawa seseorang yang tidak bersalah (Junaid, 2013).

Diakhir Perang Dunia II, Jepang mengalami demiliterisasi dan diberikan kewenangan dalam membentuk militer namun hanya sebatas sebagai pertahanan diri bukan sebagai penyelesaian sengketa internasional. Hal tersebut tertuang sesuai pada the peace clause dalam Pasal 9 Konstitusi 1947. Berusaha melindungi kepentingan nasional negaranya, Jepang terus menggandeng Amerika Serikat sebagai bentuk aliansi dan mempertahankan aliansinya dengan Amerika Serikat merupakan hal yang penting dalam melindungi negaranya. Terjadinya peningkatan kekuatan militer di Asia Timur pun menjadi salah satu perhatian Jepang karena dapat mengancam negaranya seperti ancaman nuklir Korea Utara. Dengan bekerja sama dengan Amerika Serikat, Jepang memiliki suatu kekuatan yang dapat menjadi tameng negaranya. Jepang banyak mendukung Amerika Serikat dan hubungan mereka memang terbilang harmonis. Terkait war on terror yang digagas oleh AS, Jepang selalu memberikan bantuan berupa dana. Upaya Jepang selain meningkatkan peran negaranya di dunia internasional terkait aliansinya dengan AS dalam mencapai keamanan negara, juga ditujukan sebagai perlawanan terhadap tindak terorisme yang bertujuan untuk menciptakan stabilitas kawasan Jepang dan Asia Timur yang terbebas dari ancaman tindak terorisme (Freitas, 2015).

Pada pemerintahan perdana Menteri Koizumi, usaha jepang dalam menjadi pilar konter terorisme di Asia selain menyumbang dana yaitu membuat fasilitas militer dan menjalin kerja sama dengan negara lain selain AS terkait permasalahan terorisme ini seperti bantuan Jepang kepada wilayah Afghanistan. Jepang memberikan bantuan dalam mengirim Japan Self-Defense Force (JSDF) serta kapal-kapal dengan tujuan mencegah tindakan atau ancaman terorisme. Kemudian dibawah kepemimpinan Shinzo Abe, ia juga menggunakan kontribusi Jepang yang bertujuan melawan terorisme sebagai katalisator agar Jepang dapat semakin berpengaruh di dunia internasional (Walia, 2020).

Seiring berjalannya waktu, banyak terjadi aksi terorisme yang terjadi dan memberikan dampak yang meresahkan pada dunia yang kemudian melahirkan adanya ide terhadap reinterpretasi Pasal 9 Konstitusi 1947. Dalam hal ini, Jepang berusaha berkomitmen dalam memberantas terorisme yang terjadi di era sekarang karena keamanan negaranya tetap menjadi perhatian penting Jepang. Ide ini juga dapat dianggap sebagai sebuah kelanjutan komitmen Jepang yang mendukung propaganda AS terkait war on terror (Wredantho, 2018).

Dalam melawan Terorisme, Jepang mengambil langkah-langkah yang dapat melindungi kepentingan negaranya. Minimnya militer yang dimiliki Jepang tidak menjadi halangan Jepang karena mereka terus membentuk aliansi dalam komunitas internasional agar keamanan internasional negaranya tetap terjaga. Reinterpretasi Pasal 9 dapat mengubah pola bantuan Jepang dengan diturunkannya JSDF tanpa adanya hambatan geografis.


Referensi

Freitas, A. T. D. S. (2015). Dukungan Jepang Dalam Melawan Terorisme Era Pemerintahan Koizumi 2001-2006. Jurnal Hubungan Internasional, 1(3), 1-8.
https://ojs.unud.ac.id/index.php/hi/article/view/12876/8689

Junaid, H. (2013). Pergerakan Kelompok Terorisme dalam Perspektif Barat dan Islam. SULESANA: Jurnal Wawasan Keislaman, 8(2), 118-135.
http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/sls/article/download/1285/1248

Walia, S. (2020). Securing Peace in Afghanistan: A Primer on Japan’s Role (ORF Issue Brief No. 347). Observer Research Foundation.
https://www.google.co.id/amp/s/www.orfonline.org/research/securing-peace-in-afghanistan-a-primer-on-japans-role-63634/

Wredhantho, D. M. & Putranti, I. R. (2018). Reinterpretasi Pasal 9 Konstitusi 1947 Jepang: Potensi Ancaman dalam Komitmen Jepang Pada War on Terror. Journal of International Relations, 4(4), 660-667.
https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jihi/article/download/21883/20153

Author: Evita Nabilla

32 thoughts on “Perjuangan Jepang Melawan Terorisme

  1. Seperti yang kita ketahui, Terorisme merupakan ancaman bagi suatu negara karena bukan hanya mengancam keamanan negara tetapi juga mengancam masyarakat dari negara tersebut maka dari itu Terrorisme harus dilawan. Such a well writen article, Evita!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *