Peran Jepang Terhadap Pembangunan Developmental State di Korea

Penulis: Yola Thasya Fadhilah

Krisis 1997-1998 memicu perdebatan sengit tentang keadaan pembangunan di Korea. Chalmers Johnson merupakan salah satu scholar yang meyakini konsep Bahwa perkembangan negara bersifat kapitalis tak dapat disangkal, dan melalui kebijakan pemerintah yang sadar dan konsisten secara aktif telah berpengaruh dalam meningkatkan hasil dari kekuatan pasar (Johnson, 1999). Namun disisi lain, pada awal perkembangan ekonomi di Korea, Jepang merupakan negara yang berpartisipasi dalam memberi bantuan luar negerinya melalui mekanisme Official Development Assistance (ODA) pada tahun 1965. 

Sebagai dua negara yang terpaut secara letak geografis pada kawasan asia selatan Jepang dan Korea telah menjadi mitra yang cukup dekat sejak lama walau interaksi yang terjadi antara keduanya mengalami dinamika yang relatif naik turun dalam skala internasional. Hubungan kediplomatikan dan kerjasama antara Jepang dan Korea Selatan kembali terjalin pada tahun 1965 pasca diplomatic normalization agreement yang seiring berjalannya waktu mengantarkan pola hubungan keduanya dari semula dependensi menjadi interdependensi, menunjukkan pertumbuhan ekonomi Korea Selatan yang positif pasca perang dunia. 

Pada awal mula normalisasi hubungan diplomatik keduanya, Pertumbuhan ekonomi Korea masih tertinggal jauh dari Jepang dengan PDB per kapita-nya adalah $ 100, yang berarti hanya sepersepuluh dari PDB Jepang saat itu. Meski Keputusan Korea untuk menormalkan hubungan diplomatik dengan Jepang dinilai kontroversial, hal ini dianggap sebagai keputusan yang wajar dan tidak dapat terelakkan bagi keduanya dalam upaya memulihkan kembali kesejahteraan negara pasca turbulensi yang diakibatkan era perang dunia. Normalisasi hubungan diplomatik dengan Jepang bagi Korea sekaligus merupakan momentum Jepang untuk memberikan foreign aid terhadap Korea sebagai bentuk kompensasi kolonialisme Jepang atas korea di masa lalu atau lebih tepatnya peristiwa Jugun Ianfu (Cossa, 2012). Selain itu dampak normalisasi ini juga memperkuat subordinasi ekonomi Korea terhadap Jepang terutama demand yang kurvanya terus naik dalam sektor impor teknologi oleh Korea terhadap Jepang. Bahkan, pada akhir 1980 an ketika bantuan resmi Jepang terhadap Korsel yakni ODA telah berakhir, tercatat sebesar 30% total impor Korsel masih berasal dari Jepang. 

Pertumbuhan ekonomi di Korea sering digambarkan sebagai “Keajaiban Sungai Han”. Masyarakat Korea menjadikan sungai Han sebagai simbol dalam menjelaskan keajaiban pertumbuhan ekonomi korea. Menurut Gyu Pan (2016) pembentukan mekanisme The second Five Year Economic Development Plan menjadi awal mula kesuksesan ekonomi Korea di dukung upaya pengembangan ekonomi Korea dengan Jepang pasca normalisasi diplomatik pada tahun 1965. Melalui Official Development Assistance Jepang terhadap Korea, yang didalamnya mencakup ekspansi perdagangan, dan Investasi Asing (Foreign Direct Investment) oleh perusahaan Jepang ini turut menjadi langkah awal pertumbuhan ekonomi di Korea. 

Treaty on Basic Relations antara Republik Korea (ROK) dan Jepang di tahun yang sama menghasilkan kesepakatan bahwa pemerintah Jepang akan memberikan bantuan keuangan Korea termasuk bantuan hibah $ 300 juta, bantuan pinjaman $ 200 juta, dan pinjaman komersial sebesar $ 300 juta.  Selain itu, badan promosi ekspor Jepang seperti Export-Import Bank of Japan (sekarang Japan Bank for International Cooperation) memberikan lebih dari $ 500 juta sebagai pinjaman komersial melalui pemerintah Korea dan pinjaman ini digunakan untuk mengimpor mesin dan pabrik industri dari Jepang. 

Menurut Gyu Pan (2016) dengan bantuan tersebut Korea mengalokasikan 120 juta ke dalam pembangunan Pohang Steelworks yang merupakan pembuat baja terkemuka di Korea Selatan. Pohang Steelworks bersama perusahaan Jepang Yawata Steel (sekarang Nippon Steel & Sumitomo Metal) melakukan kerja sama teknis. Dengan adanya kerja sama yang terbangun ini, Badan Promosi Jepang seperti Bank ekspor-Impor Jepang memberikan lebih dari $500 juta sebagai pinjaman kepada Korea yang digunakan untuk mengimpor mesin dan pabrik industri dari Jepang. Terlihat jelas bagaimana peranan Jepang melalui ODA dalam proses pembangunan ekonomi Korea Selatan sehingga ketergantungan kepada Jepang tidak terpungkiri. Ketika terjadi normalisasi antara Korea Selatan dengan Jepang pada tahun 1965, total impor Korea adalah $ 450 dimana 40% ($ 182,25 juta) berasal dari Amerika Serikat, dan 35% ($ 166 juta) berasal dari Jepang. Meskipun Amerika Serikat adalah mitra dagang terbesar dari Korea pada tahun 1988 namun di sisi lain Jepang juga memiliki proporsi tertinggi dari total nilai impor Korea Selatan. Pada saat itu, barang- barang dari Jepang terdiri dari semikonduktor IC, lembaran baja canai panas, suku cadang mobil, mesin, dan komponen komputer. Ini menggambarkan bahwa perkembangan perusahaan Korea dalam industri elektronik, otomotif, dan permesinan bergantung pada teknologi perusahaan Jepang pada pertengahan 1980-an. 

Dengan kata lain, Official Development Assistance (ODA) yang diberikan Jepang untuk Korea telah meletakkan dasar dalam pengembangan ekonomi di Korea, dengan fokusnya kepada sektor manufaktur. Di sisi lain, hal itu juga berperan penting dalam peningkatan tingkat ketergantungan ekonomi Korea pada Jepang sehingga menimbulkan saling ketergantungan di antara keduanya. 

Referensi 

Johnson, C. (1982). MITI and the Japanese miracle: the growth of industrial policy, 1925-1975. Stanford University Press. 

Cossa, R., A. (2012, 23 Juli). Japan-South Korea Relations: Time to Open Both Eyes. Council on Foreign Relations Presshttps://www.cfr.org/report/japan-south-korea-relations-time-open-both-eyes 

Kim, G., P. (2016). Korea’s Economic Relations with Japan. Korea Economic Institute of America31(36)23-30. http://www.keia.org/sites/default/fileHYPERLINK “http://www.keia.org/sites/default/files/publications/koreaseconomy_ch4_koreas_economic_relations_with_japan.pdf”s/publications/koreaseconomy_ch4_koreas_economic_relations_with_japan.pdf  

37 thoughts on “Peran Jepang Terhadap Pembangunan Developmental State di Korea

  1. Wah, ternyata diam-diam Jepang merupakan salah satu negara yang berjasa banget bagi pertumbuhan ekonomi Korea. Nggak heran kalau keduanya terlihat punya level yang setara di mata dunia, apalagi di bidang teknologi dan industri bajanya. Hebat. Artikelmu bagus, Yola.

  2. selalu suka sama pembahasan teori developmental state di korea ini and you wrote this beautifully, thank you, yola! keep up the good work!🤗

  3. Pingback:슬롯

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *