Peran Jepang dalam Mewujudkan Stabilitas Keamanan dan Perdamaian di Asia Tenggara

Pasca berakhirnya perang dingin tentunya menyisakan dampak bagi tatanan dunia internasional, seperti perkembangan politik internasional dan regional serta masih meninggalkan beberapa konflik yang masih belum terselesaikan. Hal inilah yang mendorong negara-negara untuk bekerjasama membuat kebijakan demi menjaga stabilitas keamanan khususnya dalam konflik kawasan seperti yang terjadi di Asia Tenggara. Beberapa konflik yang masih belum terselesaikan seperti konflik Laut China Selatan yang mempengaruhi kedinamikaan Asia Pasifik khususnya kawasan Asia Tenggara, Konflik Semenanjung Korea, dan konflik antara Tiongkok dan Taiwan. Konflik di Asia Pasifik terutama di Asia Timur dapat mempengaruhi stabilitas keamanan kawasan Asia Tenggara. Jepang sebagai salah satu negara Asia Timur yang juga tergabung dalam Dewan Keamanan PBB dan mitra penting bagi negara-negara anggota ASEAN menaruh perhatian besar untuk memelihara stabilitas keamanan dan perdamaian di kawasan Asia Tenggara.  

Hubungan Jepang dan ASEAN mulai memasuki babak baru saat dideklarasikannya Doktrin Fukuda pada tahun 1977. Doktrin Fukuda merupakan sebuah kerangka dasar instrument diplomasi terhadap hubungan kerjasama Tokyo dan Asia Tenggara untuk menjembatani masalah kesenjangan perkembangan antara negara-negara anggota ASEAN yang lebih kaya dan yang lebih miskin, membangun komunitas antara Asia Timur dan Asia Tenggara dalam jangka panjang, serta menjamin keamanan lalu-lintas laut untuk menegakkan perdamaian di wilayah yang mengalami konflik internal (Lam, 2012). Berangkat dari Doktrin Fukuda, Jepang membuktikan bahwa sikap politiknya terhadap Asia Tenggara menunjukkan kesediannya untuk menjadi mitra yang strategis dan relevan bagi ASEAN. Hubungan Jepang-ASEAN pada awalnya berfokus pada bidang ekonomi dan perdagangan namun secara bertahap karena ketegangan dan konflik yang terjadi di kawasan membuat kekhawatiran dan Jepang mengambil langkah inisiatif untuk mengembangkan hubungan dalam keamanan kawasan untuk menjaga stabilitas keamanan di wilayah ASEAN.  

Menjalin hubungan kerja sama dengan ASEAN adalah suatu keharusan bagi Jepang dari perspektif ekonomi dan geostrategis.  Pada akhir 1990-an, dalam rangka mempromosikan kerja sama regional dalam degradasi lingkungan, narkotika, dan kejahatan transnasional Jepang mengusung konsep human security. Selain itu di era kepemerintahan Koizumi, Tokyo  berupaya memperkuat kerja sama dalam menangani masalah keamanan nontradisional seperti terorisme, pembajakan, dan perdagangan manusia. Selain itu, Tokyo juga mencari jalan untuk berkontribusi pada keamanan maritim di Selat Malaka. Jika melihat dari prespektif politik keamanan, pemerintah Jepang turut menjadi negara yang berkonstribusi besar dalam pembentukan ASEAN Regional Forum (ARF) pada tahun 1944. Hadirnya Jepang dalam ARF tentu menjadi awal pendekatan Jepang untuk menjaga sentralitasnya bagi stabilitas keamanan regional Jepang dan kawasan. Selain itu Jepang juga merasa perlu meningkatkan kerja sama dengan ASEAN di bidang keamanan maritim. Hal ini didasari oleh Jepang yang juga merupakan negara maritim, maka pemerintah Jepang mengupayakan pengamanan jalur laut demi menjaga pertumbuhan ekonominya melalui perdagangan. Mengenai keamanan di kawasan Asia Tenggara, sengketa teritorial di Laut Cina Selatan sangat menonjol untuk Jepang Dalam hal ini Jepang mengajak ASEAN untuk bekerjasama  dalam forum multilateral serta membina kerja sama bilateral dengan negara-negara penuntut ASEAN seperti Vietnam dan Filipina, bertujuan untuk meredam kekuatan Tiongkok di kawasan konflik dan mengurangi  terjadi eskalasi konfrontasi antara negara-negara terkait (Shoji, 2015). 

Di awal pelantikannya,  Perdana Menteri Shinzo Abe Jepang melakukan diplomasinya untuk menjalin hubungan keamanan bersama ASEAN dengan mengunjungi 10 negara anggota ASEAN dan mengusulkan untuk membuat pertemuan antara para menteri pertahanan Jepang dan ASEAN pada KTT Jepang-ASEAN bulan Desember 2013. Selain itu Jepang juga turut menjadi salah satu negara yang berpartisipasi dalam ADMM-Plus yang mana memiliki tujuan untuk membantu negara-negara anggota ASEAN untuk mengatasi tantangan keamanan demi terciptanya kedamaian di kawasan dan meningkatkan rasa saling percaya di antara negara anggota ASEAN. Keaktifan Jepang dalam ADMM-Plus pertama kali ditunjukkan oleh kepemimpinan bersama Experts Working Groups (EWG) dimana berturut-turut Tokyo merupakan negara yang menjabat sebagai ketua bersama EWG dalam bidang kedokteran militer dengan Singapura pada periode pertama 2010-2013. Hal ini tentu membuktikan keseriusan Jepang untuk mewujudkan stabilitas keamanan di kawasan Asia Tenggara. Selain itu, Japan’s Ministry of Defense (MOD) dan Self-Defense Force (JSDF) juga turut memberikan dukungan aktifnya untuk mengupayakan ADMM-Plus agar menjadi pilar utama kerja sama keamanan di kawasan dalam menangani berbagai kesamaan masalah keamanan. Jepang juga menyelenggarakan latihan lapangan pertama tentang HA / DR dan kedokteran militer yang diadakan di Brunei pada Juni 2013. Di tahun yang sama, Jepang mengirim pasukan JSDF untuk berpartisipasi dalam latihan meja mengenai kontra-terorisme yang diselenggarakan oleh Indonesia serta latihan lapangan tentang keamanan maritim yang diadakan di Australia (Shoji, 2015). 

Isu Laut China Selatan tentunya  menyinggung kedaulatan maritim beberapa negara di Asia Tenggara. Dalam kaitannya dengan konflik Laut China Selatan untuk mengatasi ancaman dari Tiongkok, Jepang turut membantu mengamankan wilayah tersebut terutama bagi negara-negara Asia Tenggara yang bersengketa di kawasan Laut Cina Selatan. Bangkitnya Tiongkok merupakan ketakutan terbesar Jepang dan menjadikan Tiongkok sebagai ancaman serta mengharuskan Jepang untuk membangun kapasitas keamanan di kawasan Asia Tenggara untuk meredam kekuatan dan ambisi Tiongkok. Partisipasi Jepang untuk menjaga stabilitas kemanan yaitu militer Jepang mengerahkan tiga kapal militer ke perairan Laut China Selatan yang menjadi sengketa. Beberapa yang dikerahkan termasuk berupa sebuah kapal induk pembawa helikopter militer dan sebuah kapal selam (Christiastuti, 2020). Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga menyampaikan Jepang  akan membantu negara-negara anggota di kawasan ASEAN untuk memperkuat pengamanan maritim dengan menyediakan kapal dan meningkatkan kemampuan personel. Dalam hal ini Jepang akan membantu kegiatan patroli illegal fishing serta pengendaliannya dengan memberikan bantuan berupa pemberian kapal patroli pada negara-negara anggota ASEAN termasuk Indonesia dan Vietnam (Asmara, 2020). 

Jepang memang sangat terlihat aktif dalam mewujudkan stabilitas kemanan di kawasan ASEAN, namun dibalik itu apa maksud dan tujuan Jepang? Tentunya setiap negara membawa kepentingan nasionalnya dalam berdiplomasi dan bekerjasama, Jepang terlihat berambisi sekaligus juga khawatir dengan hadirnya Tiongkok sebagai kekuatan baru khususnya di kawasan ASEAN, hal ini yang menjadikan Jepang harus ikut menjaga stabilitas keamanan di kawasan ASEAN, mulai dari berpartisipasi dalam forum ASEAN, memberikan bantuan kapal-kapal patrol dan sebagainya. Tidak dapat dipungkiri dengan adanya konflik LCS menjadikan peluang bagi Jepang untuk menumbuhkan rasa percaya dan kesempatan untuk memberikan pengaruhnya di kawasan ASEAN. Terlebih lagi Jepang mendapat dukungan dengan aliansi militernya bersama Amerika Serikat. Dengan begitu Jepang akan lebih mudah mengamankan kepentingannya di kawasan tersebut. 

Referensi 

Lam, P. E. (2012). Japan’s Relations With Southeast Asia: The Fukuda Doctrine And Beyond. Routledge  

Shoji, T. (2015). Japan‘s Security Cooperation with ASEAN: Pursuit of a Status as a Relevant Partner. NIDS Journal of Defense and Security16, 99-102. http://www.nids.mod.go.jp/english/publication/kiyo/pdf/2015/bulletin_e2015_5.pdf 

Christiastuti, N. ( 2020, 10 Oktober). Jepang Kirimkan 3 Kapal Militer Ke aut China Selatan, Untuk Apa?. Detiknews. https://news.detik.com/internasional/d-5208226/jepang-kirimkan-3-kapal-militer-ke-laut-china-selatan-untuk-apa 

Asmara, T. (2020, 21 Oktober). Jepang Janji Bantu ASEAN Perkuat Keamanan Maritim. BeritaBenar. https://www.benarnews.org/indonesian/berita/jepang-asean-maritim-10212020152812.html 

52 thoughts on “Peran Jepang dalam Mewujudkan Stabilitas Keamanan dan Perdamaian di Asia Tenggara

  1. Kereen, menambah wawasan bgtt khususnyq kerja sama keamanan ASEAN & Jepang. Hebat Destii, semoga bisa terus dikembangkan artikel2 nya!✨

  2. Jepang merupakan aliansi yang menguntungkan bagi ASEAN, kehadirannya mampu memberikan peran yang positif bagi ASEAN. Artikel yang ditulis Desti ini sangat membantu para mahasiswa HI seperti Saya untuk menambah wawasan terkait fenomena HI khusunya Jepang di Asia Tenggara. Good job Desti.

  3. artikel yang menarik! diplomasi antara Jepang dan ASEAN saling menguntungkan dan juga dapat menciptakan stabilitas keamanan di Asia Tenggara

  4. Its awsome blog…menurut pendapat saya Jepang sebagai negara yang berdaulat dan berdemokrasi. Masih banyaknya kasus-kasus terorisme, transnasional, dan instabilitas keamanan dalam negeri negara-negara kawasan Asia Tenggara, ini menyatakan bahwa usaha Jepang di dalam menjaga stabilitas keamanan kawasan Asia Tenggara belum sepenuhnya dinyatakan berhasil, untuk itu Jepang terus berusaha untuk mendekatkan diri kepada negara-negara di kawasan Asia Tenggara dalam usaha bersama menjaga stabilitas keamanan di kawasan Asia Tenggara.

  5. Saya percaya bahwa setiap negara mengusung kepentingan nasionalnya masing-masing saat berdiplomasi dan bekerja sama dengan negara lain. Terkait tulisan di atas, sudah bukan rahasia lagi bahwa Jepang dan China memang sedang berebut pengaruh di negara-negara ASEAN khusunya Indonesia. Terbukti ketika Yoshihide Suga menjadikan Jakarta sebagai destinasi kunjungan luar negeri pertamanya setelah diangkat sebagai Perdana Menteri Jepang. Jangan lupa, saat masih menjabat Sekretaris Kabinet, Suga pula yang berperan dalam memuluskan megaproyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang cukup kontroversial di dalam negeri. Bagi negara-negara seperti Indonesia, yang ‘menghamba’ pada iklim investasi asing, tentu saja agresi (saya menyebutnya agresi) pengaruh Jepang atau negara-negara seperti China bakal disambut dengan ‘karpet merah’ oleh istana. Sementara bagi negara-negara seperti Jepang, dengan bekerja sama secara ekonomi, secara otomatis mereka akan mendapat jaminan keamanan. Logika sederhananya: ketika Jepang meminjamkan uang atau menanam modal di Indonesia, maka Indonesia tidak mungkin macam-macam pada Jepang. Kesimpulan: mengendalikan keamanan dengan memegang roda kemudi di sektor ekonomi negara-negara kawasan.

  6. Pingback:新越谷 ジム

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *