Pengaruh Pandemi COVID-19 Terhadap Pengelolaan Masalah Lingkungan di Jepang

Saat ini, negara-negara di dunia tengah dihadapkan oleh permasalahan serius terkait pandemi. Pandemi yang terjadi saat ini tentunya banyak memberikan dampak (baik itu dampak positif maupun negatif) dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Di Jepang misalnya, pandemi menjadi salah satu aspek potensial untuk mewujudkan terciptanya “green recovery”. Meskipun Jepang terlihat masih lumayan tertinggal jika dibandingkan dengan negara maju lainnya dalam hal pengelolaan masalah lingkungan, namun bukan berarti tidak ada upaya yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut. Berbagai upaya telah diterapkan oleh Jepang guna mengurangi dampak dari adanya globalisasi terhadap lingkungan. Bersama-sama dengan negara OECD (Organization for Economic Co-Operation and Development) lainnya, Jepang berusaha mempromosikan berbagai kampanye, menetapkan standarisasi, memberlakukan pajak, pemberian subsidi, melakukan komunikasi dan edukasi, serta menyediakan pasar bagi produk yang berkelanjutan.

Di era pandemi COVID-19 saat ini terdapat salah satu perubahan yang terjadi di Jepang yaitu, dalam hal kebiasaan dan pola konsumsi. Pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini telah mendorong perbaikan perilaku dan pemikiran masyarakat terkait makanan, seperti misalnya peningkatan frekuensi kesadaran dan kepedulian tentang limbah makanan, pengelolaan makanan yang lebih baik dan membuat masakan sendiri di rumah sehingga meningkatkan keterampilan memasak. Selain itu, masyarakat juga menjadi lebih perduli akan kesehatan dan kebersihan lingkungannya.

Dikutip dari Qian et al., (2020) perubahan-perubahan positif ini bukan hanya terjadi di Jepang saja, melainkan juga di Qatar, Amerika Serikat, juga Tunisia dan telah di klarifikasi oleh studi demonstratif di Italia. Perilaku konsumen tentunya memainkan peran yang sangat penting dalam perubahan iklim dan terkait masalah keberlanjutan lainnya. Selain itu, kebijakan atau regulasi yang dibuat pemerintah akan sangat mempengaruhi pengelolaan terhadap masalah lingkungan. Dikutip dari Lim et al., (2019) Pedoman Perlindungan Konsumen PBB yang baru pada tahun 2016 menyatakan “promosi konsumsi berkelanjutan” sebagai salah satu tujuan utama kebijakan konsumen global. Kebiasaan konsumsi individu di negara maju memiliki dampak yang lebih signifikan terhadap lingkungan. Hal itu bisa dilihat dari sektor industrinya yang banyak menghasilkan output dan pada akhirnya berpengaruh terhadap kerusakan lingkungan, pola konsumsi berkelanjutan yang semakin menurun, urban sprawl yang telah banyak mengubah lingkungan alam menjadi lingkungan perkotaan dengan jalanan beton dan aspal, juga mobilitas sosial masyarakatnya yang tinggi sehingga menimbulkan polusi maupun pencemaran terhadap kualitas udara dan air.

Saat ini di Jepang juga mulai dikembangkan mobil ramah lingkungan. Salah satu produsen otomotif terbesar di Jepang yaitu Honda Motor Co. pada bulan Agustus 2020 menyatakan rencananya yang akan mulai menjual mobil ramah lingkungan di Jepang pada akhir Oktober. Negara-negara di Eropa sendiri bisa dibilang telah lebih dahulu dalam hal inovasi mobil ramah lingkungan. Banyaknya permasalahan-permasalahan terkait pencemaran lingkungan pada akhirnya mendorong para pelaku bisnis untuk melakukan inovasi-inovasi terhadap produknya. Berbagai produk ramah lingkungan atau “eco-labeled products” juga semakin marak dijumpai. Dikutip dari Matsunaga et al., (2020) di Jepang telah terjadi peningkatan permintaan untuk makanan kesehatan dan kebugaran seperti contohnya yoghurt, bahkan hal ini telah mencapai rekor penjualan tertinggi. Produsen menangani peningkatan konsumsi tersebut dengan meluncurkan produk kemasan yang lebih besar. Hal ini tentunya lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan menjual produk-produk dengan ukuran kemasan yang kecil namun dalam jumlah banyak. Penggunaan kemasan yang lebih besar tentunya akan menghemat kemasan sehingga bisa mengurangi sampah limbah konsumsi. Pembatasan aktivitas diluar rumah juga telah mendorong konsumen melakukan pembelian dalam jumlah yang besar, bahkan di awal kemunculan COVID-19 terjadi “Panic Buying” di berbagai negara, tidak terkecuali di Jepang.

Selain itu, masyarakat di Jepang dan dunia saat ini memang kebanyakan melakukan aktivitas sehari-harinya dari rumah tidak terkecuali bekerja (Work from home). Bagi masyarakat Jepang hal ini awalnya dianggap sangat asing karena seperti yang kita ketahui bahwa para pekerja di Jepang terkenal akan etos kerjanya yang tinggi. Adaptasi kebiasaan baru seperti work from home ini juga tentunya telah memberikan dampak positif. Dengan berdiam diri dan melakukan aktivitas di dalam rumah tentunya akan mengurangi polusi udara akibat emisi kendaraan sehingga udara menjadi lebih bersih dan sehat. Penjualan produk pembersih udara di Jepang juga meningkat karena masyarakat lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dan berupaya mencegah patogen dan kontaminasi yang ditularkan melalui udara sehingga diharapkan dapat menyebabkan berkurangnya frekuensi terpapar penyakit.

Perubahan-perubahan tersebut tentunya telah memberikan pengaruh terhadap pengelolaan masalah lingkungan di Jepang. Sebagian besar masyarakat atau konsumen memang memiliki pandangan positif terkait “green recovery” tetapi tidak dipungkiri untuk penerapannya masih banyak yang pasif. Pandemi yang masih melanda dunia sekarang ini diharapkan bisa menjadi tamparan untuk masyarakat internasional agar bisa menciptakan lingkungan yang lebih hijau kedepannya. Pandemi COVID-19 yang melanda saat ini juga dikatakan berasal dari pola perilaku masyarakat yang tidak sehat dan kotor, maka sudah seharusnya kita semua lebih meningkatkan kesadaran akan keberlanjutan dan kebersihan lingkungan. Kita tidak boleh meremehkan lingkungan karena tentunya akan ada dampak buruk baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang.

Referensi

Lim, E., Arita, S., & Joung, S. (2019). Advancing Sustainable Consumption in Korea and Japan-From Re-Orientation of Consumer Behavior to Civic Actions. Sustainability, 11(23), 1-22. https://doi.org/10.3390/su11236683

Qian, K., Javadi, F., & Hiramatsu, M. (2020). Influence of the COVID-19 Pandemic on Household Food Waste Behavior in Japan. Sustainability, 12(23), 1-15. https://doi.org/10.3390/su12239942

Matsunaga, M., Hariya, N., Kimura, S., Kreidler, S., Yamato, T., Kuniyoshi, T., Fujikawa, T., & Gorai, Y. (2020, 22 Juni). The Consumer Impact of Coronavirus in Japan. Euromonitor. https://blog.euromonitor.com/the-consumer-impact-of-coronavirus-in-japan/

Author: Anastasia Leana

Anastasia Leana 2018230063 - Jepang dan Negara Industri C

48 thoughts on “Pengaruh Pandemi COVID-19 Terhadap Pengelolaan Masalah Lingkungan di Jepang

  1. Ternyata pandemi COVID-19 tidak hanya memberikan dampak dalam sektor perekonomian saja ya, melainkan dapat memberikan dampak dalam pengelolaan lingkungan juga. Terima kasih informasinya Anastasia, jadi menambah wawasan baru.

  2. Pengelolaan masalah lingkungan di masa pandemi mengahadapi masalah baru. Limbah medis yang bertambah menjadi persoalan baru di masa pandemi, KLHK bahkan mencatat penambahan 1600 ton limbah medis untuk Indonesia, ini bukan hanya menjadi permasalahan serius untuk Indonesia, namun juga untuk dunia secara keseluruhan

    1. Ya, memang benar. Dibalik dampak positif tentu ada juga dampak negatifnya. Terima kasih Khairy atas tambahan informasinya 👍🏻

  3. COVID-19 is not merely a health problem, but also affects the world economy and the environment. Good article sia! Keep it up!!

  4. This pandemic has changed the way we live and work. The resulting changes to our behavior are already impacting the environment around us. Very informative sia! Good job

  5. Pingback:CHEE TING

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *