Penerapan Belt and Road Initiative (BRI) di Malaysia

Istilah Belt and Road Initiative dicetuskan oleh China pada akhir tahun 2013. Setelah berakhirnya perang dingin, terdapat banyak upaya untuk menghidupkan kembali jalur sutera di darat yang sebelumnya terputus dari sistem global lainnya (Chan, 2018). Belt and Road Initiative (BRI) merupakan salah satu bentuk globalisasi dalam politik internasional, globalisasi mampu meningkatkan hubungan internasional bahkan mampu menciptakan ketergantungan dalam memenuhi kebutuhan tiap negara tersebut. China mencetuskan BRI sebagai upayanya untuk menghidupkan kembali Jalur Sutra pada abad 21. Dalam upayanya, China melakukan investasi dengan pembangunan infrastruktur di berbagai negara. Investasi yang dilakukan oleh China tersebut menyebabkan terjadinya ketergantungan terhadap China.

Pada 1979 Tiongkok menjalankan kebijakan Open door policy, dimana Open door policy merupakan sistem ekonomi terbuka. Adapun langkah strategi yang dilakukan oleh Deng Xiaoping dalam penerapan Open door policy adalah merancang zona ekonomi khusus untuk melakukan ekspor, menarik investasi luar negeri, serta melakukan pelonggaran kontrol valuta asing untuk perusahaan yang dikelola oleh investor luar negeri, serta menerapkan lisensi, kuota atau tarif. Dengan adanya reformasi ini, maka mampu membuat China sebagai negara dengan ekonomi terbesar setelah Amerika. Kemudian pada 2013, China yang pada saat itu dipimpin oleh presiden Xi Jinping mencetuskan Belt and Road Initiative yang memiliki tujuan untuk meningkatkan hubungan melalui investasi melalui pembangunan infrastruktur dan membangun jalur sutera baru pada abad 21. Pertumbuhan ekonomi negara-negara di Asia Tenggara meningkat pesat, dan hal itu membuat Tiongkok mulai berfokus kepada negara-negara di Asia Tenggara. China mulai memperhitungkan negara Asia Tenggara karena negara-negara tersebut memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup menjanjikan dan Asia Tenggara juga merupakan salah satu kawasan yang strategis dalam jalur inisiatif BRI. Implementasi BRI berfokus pada investasi pembangunan infrastruktur dan komoditas ekspor dan impor, Malaysia merupakan negara ASEAN pertama yang menjalin hubungan bilateral dengan Tiongkok.

Implementasi BRI di Tiongkok berupa investasi pembangunan infrastruktur dan ekspor impor. Beberapa jalur rel yang diinvestasikan Tiongkok di Malaysia adalah East Coast Rail Link (ECRL) senilai US$13 miliar dan proyek Kuala Lumpur–Singapore High Speed Rail senilai US$ 16 miliar. Selain itu, Tiongkok juga memiliki suatu dilema yang dinamakan “The Malacca Strait Dilemma”. Dilema ini berkaitan dengan kepentingan Tiongkok di Selat Malaka dan upayanya mengembangkan beberapa rute alternatif baru yang akan mengurangi ketergantungannya pada Selat Malaka (Jaya, et al., 2019). Hal tersebut membuat China tertarik untuk menerapkan Belt and Road Initiative di Malaysia. Tiongkok merupakan salah satu negara yang menggunakan sumber daya minyak terbesar. Tiongkok memiliki strategi dalam upayanya memenuhi kebutuhan minyak yaitu memaksimalkan impor minyak dengan meningkatkan efisiensi dalam konsumsi minyak serta membangun cadangan minyak nasional. Malaysia memiliki posisi yang strategis dalam rencana jalur BRI tersebut. Sebelumnya, pada masa perang dingin Tiongkok dan Malaysia memiliki hubungan yang kurang baik, maka pada tahun 1974 Malaysia membukan hubungan diplomatiknya dengan China untuk memperbaiki hubungan kedua negara tersebut. Kemudian pada tahun 2002 Malaysia menyusul jejak Singapura dengan menjadi mitra dagang terbesar Tiongkok di kawasan ASEAN. Relasi Malaysia dengan Tiongkok dilanjutkan oleh Najib Tun Razak yang menjabat sebagai Perdana Menteri keenam pada bulan April 2009 ketika Razak memilih Tiongkok sebagai negara pertama di luar ASEAN untuk dikunjungi. Proyek infrastruktur yang diinvestasikan berupa jalur kereta api dan pelabuhan maritim yaitu: East Coast Rail Link (ECRL) adalah jalur rel yang diinvestasikan senilai US$ 13 miliar yang menghubungkan pelabuhan Klang di pesisir Barat Semanjung Malaysia hingga ke pelabuhan Kuantan di pesisir Timur Semenanjung Malaysia. Sementara pelabuhan-pelabuhan maritim yang diinvestasikan Tiongkok diantaranya: Pelabuhan Gerbang Malaka senilai US$ 1.96 miliar, Pelabuhan Kuala Linggi senilai US$ 2.8 miliar dan proyek Pelabuhan Penang senilai US$ 1.4 miliar (Jaya, et al., 2019).

Najib Razak menyambut bantuan investasi Tiongkok melalui bantuan pembangunan infrastruktur dengan baik. Dengan adanya pembangunan infrastruktur maka dinilai mampu membantu Malaysia dalam melakukan ekspor produk ke pasar luar negeri. China dan Malaysia fokus pada komoditas ekspor dan impor bahan baku minyak, mesin industri, bahan baku logam dan besi, dan minyak kelapa sawit. Dengan diterimanya bantuan investasi pembangunan infrastruktur yang dilakukan China terhadap Malaysia, maka Malaysia dapat memperlancar ekspornya ke luar negeri, selain itu investasi Tiongkok memiliki peranan penting untuk menyelamatkan pertumbuhan ekonomi Malaysia yang melambat akibat penurunan harga minyak global serta nilai mata uang Ringgit yang mengalami penurunan terhadap US dollar dalam tiga tahun terakhir. Sedangkan China juga menerima kepentingannya yaitu membangun Belt and Road Initiativenya di kawasan Malaysia yang strategis. Bahkan pada konflik sengketa kawasan yang terjadi di kawasan Laut China Selatan, China melakukan langkah provokatif dengan meningkatkan militer di kepulauan Paracel yang berada di pesisir Malaysia, namun Malaysia berusaha untuk menghindari konflik dengan Tiongkok karena Malaysia menganggap bahwa Tiongkok memiliki pengaruh besar dalam menyelamatkan ekonominya. Hal ini juga dimanfaatkan oleh China dalam kerjasamanya dengan Malaysia, yaitu untuk mendapat dukungan dalam konflik sengketa Laut China Selatan.

Referensi

Chan, M. H. T. (2018). The Belt and Road Initiative–the New Silk Road: A Research Agenda. Journal of Contemporary East Asia Studies, 7(2), 104-123. https://doi.org/10.1080/24761028.2019.1580407

Jaya, N. G. M., Priadarsini, N. W. R., & Nugraha, A. B. S. W. (2019). Kepentingan Republik Rakyat Tiongkok Menerapkan Belt and Road Initiative (BRI) Di Malaysia (2013–2017). Jurnal Hubungan Internasional, 1(1), 1-15. https://ojs.unud.ac.id/index.php/hi/article/view/50816

Author: Dyah Ronauly

13 thoughts on “Penerapan Belt and Road Initiative (BRI) di Malaysia

  1. Pingback:fb sign in

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *