Pemerintahan, Teknologi, Serta Perilaku Masyarakat Terhadap Pandemi Covid-19 di Asia Timur

Virus Corona pertama kali dilaporkan di Wuhan, Tiongkok pada Desember 2019 dan diakui oleh otoritas Tiongkok sebagai virus baru. Karakteristik virus corona yaitu tingkat penyebaran yang tinggi karena mobilitas masyarakat didunia tinggi menyebabkan penyebaran virus semakin cepat, masyarakat lanjut usia yang memiliki riwayat penyakit kronis bawaan lainnya dan orang yang memiliki sistem imun tubuh yang rendah rentan terkena, serta tingkat pemulihan disetiap negara yang berbeda-beda jumlahnya. WHO menetapkan virus ini sebagai pandemi dan menamainya Covid-19.


Pada 31 Desember 2019, Taiwan mengumumkan nasihat medis kepada pengunjung yang datang ke Wuhan dan melakukan tes medis. Taiwan melakukan beberapa tindakan untuk mengurangi penyebaran virus yaitu dengan pengenalan kartu pernyataan sehat dititik masuk bandara dan pelabuhan, pernyataan kesehatan elektronik pra-masuk, mengeluarkan peringatan perjalanan ke daratan Cina, Korea dan Jepang, memberikan tunjangan khusus kepada semua staf medis, memberi bantuan keuangan kepada keluarga yang terkena dampak, dan penyediaan perawatan medis gratis bagi orang yang terkena dampak dan tidak memiliki asuransi kesehatan. Hiburan malam serta berkumpul disatu tempat dilarang. Taiwan menunjukkan bahwa identifikasi risiko tingkat awal, pemahaman risiko serta pengendalian dan mitigasi risiko adalah kunci untuk mencegah penyebaran penyakit.


Pada 3 Februari 2020 kapal pesiar “Diamond Princess” tiba dipelabuhan Yokohama dan melaporkan kasus Covid-19. Penumpang diminta untuk tetap dikamar kapal untuk karantina dan menghindari penyebaran virus. DICT melakukan pengujian bersama dengan DMAT. DICT terdiri dari dokter pengendalian infeksi, perawat manajemen infeksi, dan ahli dari rumah sakit universitas serta institusi lain. Awak kapal diberikan alat pelindung diri dan diinstruksikan tentang praktik pencegahan dan pengendalian infeksi yang sesuai. Para penumpang diberi termometer dan diminta untuk mencatat suhu tubuh mereka, dan penumpang yang terkonfirmasi Covid-19 diturunkan dan dipindahkan ke bangsal isolasi fasilitas kesehatan (Shaw, et al., 2020). Jepang melakukan kontrol perbatasan untuk mengendalikan penyebaran virus dengan mengontrol pengunjung yang masuk dan meminta mengisi formulir kesehatan serta karantina selama 14 hari.


Pada 19 Februari 2020, KCDC mengidentifikasi kasus ke-31 yang merupakan wanita Korea berusia 61 tahun, anggota Shincheonji. Setelah itu jumlah kasus yang dikonfirmasi melonjak dan kebanyakan dari mereka berasal dari Shincheonji. Akibatnya, pemerintah Kota Daegu memperoleh 9.336 anggota Shincheonji untuk diuji gejala. Pemerintah kemudian menaikkan tingkat kewaspadaan ke level 4 dan mengambil tindakan proaktif untuk menghindari penularan.


Kementerian Transportasi China mengeluarkan edaran untuk menggunakan teknologi baru untuk mengurangi risiko serta mengembangkan strategi pemulihan. Universitas Fudan dan pemerintah kota Shanghai, bersama dengan CDC (Pusat Pengendalian Penyakit) mengembangkan skrining dan pemeriksaan medis berbasis AI untuk penyumbatan pernapasan yang meningkatkan kecepatan pengambilan keputusan sistem pemindaian. Sistem ini digunakan oleh 93% penduduk China.


Data 5G digunakan secara luas dalam kombinasi dengan berbagai teknologi lain. Kamera termal digunakan untuk pemeriksaan termal masyarakat dan dikirim menggunakan 5G. Kombinasi robotika dan 5G digunakan untuk sanitasi kota pada periode puncak di Wuhan ketika layanan publik juga berisiko. Kombinasi kendaraan otomatis dan 5G digunakan untuk pengiriman barang diarea tertentu yang sangat terkontaminasi (Shaw, et al., 2020). 5G juga digunakan untuk perawatan tele-medis dan nasehat dirumah sakit yang baru dibangun di Wuhan.


Barcode kesehatan yang unik dikembangkan untuk mengidentifikasi orang yang terkena dampak. Aplikasi ini akan memberi tahu apakah mereka berada didekat seseorang yang terinfeksi (Mozur et al., 2020). Sistem kode ini memiliki kode warna yang memungkinkan atau menonaktifkan mereka untuk masuk dari berbagai bangunan umum serta angkutan umum.


Di Korea, pengembangan kit untuk mendiagnosis yang berpotensi terinfeksi dan inovatif seperti pusat skrining drive-thru, memungkinkan ribuan orang untuk diuji setiap hari. Diagnosis ini dapat mendeteksi dan mengkonfirmasi kasus pada tahap awal, sehingga menurunkan tingkat kematian dan mencegah penyebaran secara luas. ‘Walk-Thru Test Booth’ dan ‘Open Walk-Thru Booth’ berevolusi dari metode drive-thru. Dengan metode ini, pasien memasuki bilik, kemudian staf medis akan memeriksa kondisi mereka secara lisan melalui interkom dan mengambil sampel dengan menggunakan stetoskop.


Dampak ekonomi dari pandemi yaitu terjadinya resesi global. Namun, diberbagai negara, dampak sektoral sudah menonjol, terutama disektor pariwisata dan perhotelan. Usaha mikro, kecil dan menengah mungkin yang paling terpukul disemua negara dan membutuhkan paket revitalisasi ekonomi khusus. Berbagai negara memulai budaya kerja yang berbeda, termasuk Asia Timur. Bekerja jarak jauh, rapat dan kelas daring semakin umum. Maka telah terjadi perubahan gaya hidup dibanyak negara yang mungkin memiliki implikasi sosio-psikologis dan perilaku yang relatif lebih lama. 

Referensi


Shaw, R., Kim, Y., & Hua, J. (2020). Governance, technology and citizen behavior in pandemic: Lessons from COVID-19 in East Asia, Progress in Disaster Science, 6, 100090.
https://doi.org/10.1016/j.pdisas.2020.100090


Mozur, P., Zhong, R., & Krolik, A. (2020). In Coronavirus Fight, China Gives Citizens a Color Code, With Red Flags. The New York Times . https://www.nytimes.com/2020/03/01/business/china-coronavirus-surveillance.html

31 thoughts on “Pemerintahan, Teknologi, Serta Perilaku Masyarakat Terhadap Pandemi Covid-19 di Asia Timur

  1. Pingback:MakerDirectory

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *