Pekerja Lansia di Jepang Bekerja Kembali Setelah Pensiun. Bagaimana Bisa?

Modernisasi di Jepang yang menyebabkan perubahan besar-besaran di dalam negeri di mulai pada saat restorasi meiji, di mana hal itu menyebabkan adanya perubahan sektor unggulan dalam menopang perekonomian Jepang, yaitu dari pertanian menjadi industri, untuk itu maka diperlukannya tenaga kerja lebih untuk dapat berkontribusi dalam sektor industri Jepang, hingga akhirnya wanita yang selalu tersisihkan atas adanya budaya patriarki sebelum masa meiji, di masa meiji justru diperbolehkan untuk bekerja dalam sektor industri selayaknya laki-laki. Bahkan terdapat 63% wanita di Jepang yang bekerja pada sektor industri tekstil (Robins, 1983 dalam Widarahesty & Ayu, 2014). Walaupun jepang telah mengalami masa baby boom sebanyak dua kali, yaitu di tahun 1947-1949 dan pada tahun 1971-1974, namun nyatanya, jumlah tenaga kerja di Jepang masih belum bisa untuk memenuhi kebutuhan industri terkait sumber daya manusia. Hal itu disebabkan karena munculnya fenomena Shoushika, yaitu menurunnya tingkat kelahiran secara terus menerus, sehingga hilangnya populasi pengganti antar generasi (Kono, 2007 dalam Widiandari, 2016). Fenomena Shoushika ini terjadi karena beberapa penyebab, diantaranya ialah adanya fenomena bankonka (penundaan untuk melangsungkan pernikahan), hikonka (menolak melakukan pernikahan), dan hitoriko (memilih untuk tidak memiliki anak atau memutuskan untuk hanya memiliki satu anak ketika menikah) (Nakano & Wagatsuma, 2004 dalam Widarahesty & Ayu, 2014).

Hal tersebut pun di sebabkan oleh kesibukan yang dialami oleh para pekerja di Jepang atas pekerjaan mereka, baik pekerja laki-laki maupun pekerja wanita, sehingga hal tersebut mampu merubah pola pikir dari masing-masing individu terkait kehidupan pribadinya. Di mana warga negara Jepang semakin lebih mementingkan karir mereka dibandingkan kehidupan pribadi, seperti menikah ataupun memiliki anak.

Dimuat pula dalam Statistics Bureau of Japan,  pada tahun 1960 populasi Jepang masih berada pada angka yang normal, di mana tingkat populasi berusia 0-14 tahun lebih tinggi dibandingkan yang berusia 65 tahun keatas, yaitu hanya mencapai angka 4,9% dari total populasi. Namun, seiring berjalannya waktu keadaan mulai berbalik. Seperti di tahun 2019, populasi berusia 65 tahun ke atas mencapai angka 28,4%, di mana angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan populasi usia 0-14 tahun yang hanya mencapai angka 12,1%. Hal itu menyatakan bahwa angka kelahiran di Jepang sudah mulai menurun secara drastis, sehingga diprediksi pula pada tahun 2060, piramida populasi di Jepang akan membentuk piramida terbalik, yang mana angka kematian jauh lebih besar dibanding angka kelahiran. Hal itu diperkuat pula dengan penurunan tingkat kelahiran di Jepang yang menurun menjadi 863, 234 jiwa di tahun 2019 dari 918, 400 jiwa di tahun 2018, serta terjadi pula penurunan tingkat fertilitas di Jepang dari 1,42 (2018) menjadi 1,36 (2019) (Statistics Bureau of Japan, 2020).

Sehingga sudah dapat dipastikan bahwa hal tersebut akan mempengaruhi jumlah sumber daya yang dibutuhkan oleh industri. Walaupun wanita telah berkontribusi dalam industri Jepang, namun kontribusi wanita tidaklah begitu berdampak secara signifikan terhadap industri maupun perekonomian Jepang.

Atas dasar hal tersebut, maka pada tahun 2013, melalui program Abenomic, Pemerintah Jepang membuat sebuah peraturan untuk memperpanjang usia bekerja kembali lansia paska pensiun yang resmi diberlakukan mulai April 2013 (Suryadi, 2019). Peraturan untuk memperpanjang usia bekerja kembali lansia paska pensiun pun disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya :

1.     Tingginya Rata-Rata Angka Harapan Hidup Populasi di Jepang

Rata-rata angka harapan hidup di Jepang yang berada pada angka 83,7 tahun, dan untuk wanita ada pada angka 86,8 tahun (Suryadi, 2019). menyebabkan banyak pekerja lansia yang masih memiliki semangat bekerja walaupun telah pensiun di usia 60 tahun, di mana tujuannya ialah untuk memanfaatkan waktu dari sisa waktu yang ada atas rata-rata harapan hidup di Jepang, sehingga pekerja lansia mampu lebih produktif dan masih bisa memberikan kontribusi untuk perekonomian Jepang.

 
2.     Minimnya Jumlah Tenaga Kerja di Jepang

Minimnya jumlah tenaga kerja atau sumber daya manusia yang ada di Jepang membuat sebuah perusahaan misalnya, memilih untuk mempekerjakan kembali lansia yang telah pensiun untuk tetap bekerja seperti masa sebelum pensiun. Walaupun begitu, perusahaan justru akan diuntungkan, sebab para pekerja lansia yang bekerja kembali setelah pensiun tidak menerima gaji sebesar gaji mereka ketika belum pensiun, melainkan gaji mereka dipotong 40%-50%, namun mereka tidak diwajibkan untuk melakukan lembur. Pekerjaan yang diterima bagi pekerja lansia dalam perpanjangan masa kerjanya yang sama seperti pekerjaan sebelum masa pensiun pun membuat perusahaan juga akan lebih diuntungkan lagi ketika pekerja lansia mampu untuk memberikan pengalaman lebihnya atau transfer keahlian kepada pekerja lain yang masih belum memiliki pengalaman lebih, sehingga perusahaan tidak perlu untuk melakukan perekrutan pekerja baru dan trainning terlebih dahulu untuk memastikan produktifitas pekerja mampu berjalan dengan baik. Hal tersebut pula yang menyebabkan produktifitas perusahaan terus berjalan dengan baik dan stabil. Namun perlu diketahui pula, para pekerja lansia tersebut bekerja dengan sistem kontrak pertahun, yaitu ketika pekerja lansia bekerja dengan baik, maka pada tahun berikutnya akan dikontrak kembali, namun bila pekerja lansia tidak mampu bekerja dengan baik, atau kinerjanya menurun, maka pekerja lansia tersebut tidak akan dikomtrak kembali. Serta diperhatikan pula hal-hal penting seperti kondisi kesehatan dan kemampuan bekerja dari para pekerja lansia sebelum memperpanjang masa kerja dari para pekerja lansia tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa, para pekerja lansia mampu bekerja kembali hingga mencapai umur 65 tahun itupun disebabkan oleh beberapa faktor, seperti tingginya minat bekerja dari pekerja lansia karena tingginya rata-rata angkat harapan hidup di Jepang, serta minimnya jumlah tenaga kerja di Jepang yang menyebabkan pemerintah harus menentukan sebuah cara agar kebutuhan terhadap tenaga kerja dalam negeri Jepang tetap terpenuhi, terutama dalam sektor industri. Untuk itu, maka Pemerintah Jepang membuat sebuah kebijakan untuk memperpanjang usia pekerja lansia di Jepang agar mampu memaksimalkan produktifitas dari para lansia maupun industri. Namun tentunya tetap memperhatikan berbagai hal penting seperti kondisi kesehatan maupun kemampuan dari pekerja lansia sebelum memperpanjang masa kerjanya agar produktifitas pekerja maupun industri mampu berjalan dengan baik dan stabil.

 

Referensi

Statistics Bureau of Japan. (2020). Statistical Handbook of Japan 2020. https://www.stat.go.jp/english/data/handbook/index.html

Suryadi. (2019). Kebijakan dan Dukungan Perusahaan dalam Memanfaatkan Keahlian dan Pengalaman Lansia untuk Tetap Bekerja (Studi Kasus pada Negara Jepang). Jurnal Ketenagakerjaan, 14(2). 164-175. http://journals.kemnaker.go.id/index.php/naker/article/view/63

Widarahesty, Y., & Ayu, R. (2014). Fenomena Penurunan Angka Kelahiran di Jepang Pasca Perang Dunia II Sampai 2012. Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Pranata Sosial, 2(3). 177-197. https://jurnal.uai.ac.id/index.php/SPS/article/view/168

Widiandari, A. (2016). Fenomena Shoushika di Jepang: Perubahan Konsep Anak. Izumi 5(1). 32-39. https://doi.org/10.14710/izumi.5.1.32-39

 

Author: Novita Kusuma

36 thoughts on “Pekerja Lansia di Jepang Bekerja Kembali Setelah Pensiun. Bagaimana Bisa?

  1. Salah satu yang aku salut dari Jepang adalah tingginya angka harapan hidup mereka. Meski ntah, bila dikaji dari sisi IR akan jadi positif atau negatif dampaknya. Sistem kontrak pertahun pun solusi yang cerdas menurutku, sebab bila pemerintah memberhentikan lansia dari pekerjaan mereka, pemerintah punya alasan kuat untuk itu (karena performa kerja mereka, dll), jadi pemberhentian dapat diterima secara baik pula. Artikelnya mantap, Novita.

  2. Well written one. Thank you Novita for sharing an interesting article with us. Keep up the good work! Stay healthy, safe, and sane. God Bless🌻

  3. Pingback:HP Servis
  4. Pingback:ruger p89
  5. Pingback:Aer conditionat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *