Partisipasi Jepang dalam Isu Terorisme Global

Isu terorisme bukan merupakan hal baru bagi masyarakat global. Terutama pasca terjadinya serangan teror terhadap menara kembar World Trade Center (WTC) di New York City, Amerika Serikat pada 11 September 2001 yang kemudian disebut dengan “Peristiwa 9/11”. Dalang dibalik aksi teror peristiwa 9/11 ini diketahui yaitu jaringan radikal Al-Qaeda yang dipimpin oleh Osama bin Laden. Akibat serangan teror tersebut, Presiden AS pada saat itu yakni George W. Bush mendeklarasikan perang terhadap teroris dengan mengkampanyekan “War on Terror” kepada masyarakat global untuk ikut serta bersama AS dan AS juga meluncurkan serangan ke Afghanistan dan Iraq dalam rangka war on terror tersebut. Jepang yang merupakan sekutu AS dan juga negara yang bergantung pada sistem keamanan dan pertahanan AS tentu saja merespon kampanye AS tersebut.

Sebelumnya di Jepang sendiri juga pernah mengalami serangan teror yaitu yang terjadi pada 20 Maret 1995, serangan teror saat itu disebut sebagai yang terburuk dalam sejarah Jepang. Serangan teror tersebut bermula dari sekelompok ekstrimis religius yang bernama Aum Shinrikyo yang menyerang sistem transportasi kereta bawah tanah Tokyo dengan melakukan lima serangan yang sangat terstruktur rapih dengan menggunakan gas sarin yang kemudian melukai sejumlah pengguna kereta bawah tanah dan juga membuat 12 orang meninggal. Selain karena Jepang memiliki hubungan yang baik dan kuat dengan AS, sejarah terorisme di Jepang inilah yang juga menjadi salah satu alasan Jepang pada akhirnya secara resmi menyatakan dukungannya terhadap kebijakan kontra terorisme AS di Afghanistan.

Kemudian pada tanggal 23 September 2001, Pemerintah Jepang dan Liberal Demokratic Party (LDP) setuju untuk membuat undang-undang baru yang memungkinkan Self-Defense Force (SDF) untuk bergabung dalam operasi kontra-terorisme. Dengan demikian, tanggapan yang cepat terhadap insiden 9/11 tidak hanya menunjukkan keinginan kuat pemerintah untuk mengatasi “trauma” Perang Teluk pada tahun 1991, tetapi juga komitmennya untuk berkontribusi kepada komunitas internasional dalam krisis ini (Ishizuka, 2012). RUU Anti-terrorism SDF berhasil disahkan pada 29 Oktober 2011. Undang-Undang Anti-terrorism ini melegalkan pengiriman SDF ke Samudra Hindia untuk mendukung pasukan tempur AS di Afghanistan dengan pasokan air dan bahan bakar. Undang-Undang tersebut menempatkan SDF ke dalam area yang mudah berubah meskipun terbatas pada misi logistik dan mengikat Jepang pada “tujuan universal” yakni membasmi teroris. Undang-Undang ini juga menyetujui penggunaan senjata untuk melindungi mereka yang berada di bawah pengawasan SDF termasuk pengungsi dan anggota dinas luar negeri yang terluka. Untuk menambah fleksibilitas pada pembatasan penggunaan kekerasan saat ini, undang-undang ini memiliki batas waktu dua tahun.

Selain membantu AS di Afghanistan, Jepang juga turut serta berpartisipasi saat terjadi penyerangan ke Iraq oleh AS. Jepang mengirimkan SDF ke Iraq untuk bantuan non-combat seperti bantuan logistik tentara AS dan juga untuk rekonstruksi pasca penyerangan. SDF juga memberikan bantuan kemanusiaan seperti pembangunan fasilitas rumah sakit, pendidikan, air dan juga listrik di kawasan Samawah, Iraq. Kemudian Jepang juga berperan dalam memerangi teroris pasca terjadinya serangan teroris di Asia Tenggara seperti serangan yang terjadi di Mindanao, Fillipina pada tahun 2002, bom Bali I & II pada 2002 & 2005, pengeboman J.W. Marriot pada 2003, dan pengeboman Kedutaan Besar Australia pada 2004. Namun Jepang hanya melakukan pendekatan secara halus dalam rangka memerangi teroris tersebut dan tidak ikut mengirimkan pasukan seperti yang sebelumnya Jepang lakukan di Afghanistan dan Iraq. Jepang juga sebelumnya telah bergabung dalam ASEAN Regional Forum (ARF) yang diprakarsai oleh ASEAN pada tahun 1994, forum ini bertujuan untuk saling tukar pandangan dan informasi bagi negara-negara Asia-Pasifik mengenai masalah-masalah politik dan keamanan termasuk juga masalah Terorisme, baik regional maupun internasional (Sudirman & Sari, 2017).

Meskipun Jepang belum menjadi target utama gerakan terorisme global, namun terjadinya pembunuhan jurnalis Jepang Kenji Goto dan Haruna Yukawa oleh ISIS (kelompok militan ekstrimis) pada tahun 2015 menjadi pengingat akan ancaman terorisme yang tragis bagi Jepang dan membuat Jepang lebih waspada bahwa Jepang bisa saja menjadi sasaran dan terpengaruh oleh terorisme global meskipun memiliki identitas pasifis yang kuat.  Adanya pembunuhan ini pada akhirnya membuat Jepang mengimplementasikan berbagai prosedur yang dibuat pada tahun yang sama dengan terjadinya pembunuhan jurnalis Jepang oleh ISIS yang kemudian menjadi “Kebijakan Luar Negeri 3 Pilar Jepang” yang salah satu isinya yaitu agar memperkuat aksi pencegahan terorisme. Aksi pencegahan terorisme yang dilakukan oleh Jepang yaitu berbentuk dilakukannya  kerja sama internasional baik bilateral, trilateral maupun multilateral. Jepang juga memproteksi negaranya sendiri dengan membuat unit untuk mencegah terorisme serta memberikan perintah kepada kementerian-kementerian terkait agar dapat menerapkan prosedur untuk pencegahan terorisme (Ministry of Foreign Affairs of Japan, 2016).

Referensi

Ishizuka, K. (2012). Japan’s Policy Towards the War on Terror in Afghanistan (Working Paper Series Studies on Multicultural Societies No. 3). Afrasian Research Centre Ryukoku University. https://afrasia.ryukoku.ac.jp/phase2/publication/upfile/WP003.pdf 

Ministry of Foreign Affairs of Japan. (2016). Japan’s Counter-Terrorism Measures. https://www.mofa.go.jp/policy/terrorism/index.html 

Sudirman, A., & Sari, D. S. (2017). Membangun Keamanan Regional Di ASEAN Dalam Menanggulangi Ancaman Terorisme. Jurnal Wacana Politik, 2(1), 22-32. https://doi.org/10.24198/jwp.v2i1.11276  

Author: Zhafira Anandita

Jepang dan Negara Industri

106 thoughts on “Partisipasi Jepang dalam Isu Terorisme Global

    1. Artikel ini sangat luar biasa, tetap semangat berkarya

      Semoga menjadi amalan yang bermanfaat buat oranglain

  1. Sejarah kelam serangan teroris berdampak global dengan perencanaan yang sangat terstruktur…jangan sampai terulang kembali sehingga diperlukan kerjasama yang solid dengan negara-negara lain untuk selalu waspada dalam menjaga dan memelihara pardamain dunia dari ancaman teroris

  2. artikelnya sangat menarik karena membahas isu terkini, hebat authornya good job👍🏻👍🏻
    Terus berkarya gue suka banget baca artikel soalnya hehe

  3. Keren banget kk Vira 😁🙏…terima kasih kk vira…bisa menambah wawasan saya…semoga sukses selalu KK😇🙏

  4. Artikelnya sangat menarik sekali dan sangat mudah di pahami sehingga kami para pembaca bisa menambah pengetahuan. thankyou japiraaaa mantap jiwo👍👍👍

  5. Aku kira membaca manga itu sangat menarik, ternyata membaca artikel ini lebih menarik loh, terus memberikan informasi yang bermanfaat dan juga menarik ya

  6. Selain pengalaman masa lalu, hubungan Jepang dengan AS menjadi faktor pendukung keputusan Jepang dalam melawan terorisme. Semoga saja hal ini tidak dimanfaatkan pihak tertentu untuk menghancurkan beberapa pihak yg dijadikan kambing hitam sumber terorisme

  7. Artikel yang bagusss, kata katanya gampang dimengerti, bermanfaat buat yang baca. Good job Zhafira sukses teruusss♥

  8. Baru dpt link dri teman untuk membaca artikel ini sejenak sambil mengopi, okey isinya bagus, tpi perlu diketahui juga, asal muasal ekstrimis terrorism Al-Qeda awal mula muncul setelah serangkaian Uni Soviet menginvansi Afghan, dgn ini US memainkan proxy war dgn membentuk sjenis Al-Qeda/Mujahedeen yg di training dan supplied senjata, dan serangkaian ini trs2san gingga aksi 9/11 WTC yg mengakibatkannya George Bush menyatakan war dgn Afghanistan dgn membabi buta

  9. Pingback:shop cvv online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *