Organisasi Anti-Trafficking Apne Aap di India Dalam Menangani Human Trafficking

Perdagangan manusia atau Human Trafficking merupakan salah satu kejahatan yang sangat melanggar HAM. Menurut Nuraeny (2018) Trafficking in Persons (TIPs) telah menjadi masalah global dalam penegakan hukum dan harus mendapatkan perhatian internasional karena dampaknya sangat mengganggu dan berbahaya. Ini telah menjadi ancaman serius bagi masyarakat, bangsa, dan negara di seluruh dunia karena sangat melanggar norma hak asasi manusia dan melanggar martabat manusia. TIP dapat dikategorikan sebagai kejahatan terorganisir dan kejahatan transnasional karena ruang lingkup dan dimensinya telah mengglobal selama berabad-abad Praktik ini sudah ada sejak jaman dahulu kala, terlihat dari praktik perbudakan dan berkembang dari waktu ke waktu. Seperti dilansir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), TIPs adalah kejahatan terbesar ketiga dan salah satu industri kejahatan paling menguntungkan di dunia (perkiraan keuntungan gelap melebihi US $ 150 miliar per tahun). Laporan yang dirilis oleh Organisasi Buruh Internasional (ILO) dan Walk Free Foundation memperkirakan ada 40,3 juta korban perbudakan pada tahun 2016 dengan satu dari setiap empat korban adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun 

Seperti halnya yang di jelaskan oleh PBB melalui kongres di Mesir pada 29 April hingga 8 Mei 1995 mengenai kejahatan lintas batas. Isu perdagangan manusia ini menjadi suatu ancaman serius untuk dibahas oleh organisasi organisasi global untuk mengurangi serta mencegah perdagangan manusia supaya tidak bertambah terus menerus. Seperti yang akan penulis bahas pada artikel ini yaitu mengenai peran organisasi perempuan anti Trafficking Apne Aap di India. 

Penyebab tingginya angka perdagangan manusia di India akibat dari posisi India sebagai Negara asal, transit dan tujuan dari perdagangan manusia. Disaat yang bersamaan India juga merupakan salah satu Negara yang memiliki rakyat miskin terbanyak di dunia, sekitar 32% rakyat India hidup dalam kemiskinan dan keterpurukan. Bahkan menurut laporan dari bank dunia bahwa sekitar 68% warga India hidup dengan penghasilan di bawah US$2 perharinya.  

Perdagangan manusia sudah menjadi masalah yang sangat memperhatinkan di India, diperkirakan 378   dari   593   distrik India banyak Industry perdagangan manusianya. Sebagian besar perdagangan manusia di India dilakukan di wilayah wilayah sekitar India, korban perdagangan sebagian besar untuk tenaga kerja paksa yang di upah rendah.  

Menurut Priyali (2013) Anak-anak dieksploitasi  dengan  berbagai  cara,  diantaranya  adalah dipekerjakan  di  pabrik,  menjadi  pembantu  rumah  tangga,  dan  pengemis. Sementara    itu,    kaum    perempuan    biasanya    sangat    rentan    terhadap perdagangan  untuk  tujuan  kawin  paksa  dan  eksploitasi  seksual  komersial. The 2013 Global Slavery Index menemukan bahwa hampir setengah dari 30 juta “budak modern” di dunia ternyata berasal dari India 

Munculnya organisasi Apne Aap merupakan sebuah organisasi anti Trafficking yang lahir dari masyarakat kelas bawah atau grassroot. Apne Aap didirikan oleh seorang jurnalis bernama Ruchira Gupta dan 20 orang temannya yang memiliki sebuah visi yang sama dimana tidak ada lagi perempuan dan anak yang di perjualbelikan.  

Apne Aap menggunakan 3 buah pendekatan yang dinilai efektif, yaitu pertama dengan pemberdayaan perempuan agar para perempuan dapat menjauhi perdagangan manusia dan mendapatkan hak pendidikan serta perlindungan hukum. Kedua melalui kampanye lelaki sejati tidak membeli perdagangan prostitusi, guna menghentikan Industry perdagangan manusia ini, bila peminatnya tidak ada maka Industry perdagangan manusia tidak akan ada lagi. Yang terakhir membangun sebuah gerakan bersama seperti menggabungkan kelompok kelompok untuk mendirikan gerakan anti human trafficking.  

Faktor faktor yang dapat menyebabkan para perempuan terjebak dalam perdagangan manusia yaitu; faktor ekonomi dan pengangguran merupakan yang terbesar sehingga mereka membutuhkan mata pencaharian guna menyambung kehidupan, kekerasan dalam rumah tangga juga merupakan pengaruh yang membuat mereka memasuki dunia perdagangan manusia dan juga karena tertipu oleh pernikahan yang setelah menikah dijual oleh suaminya bahkan ada yang di jual oleh orang tuanya sendiri. 

Menurut Firmaliza (2015) cara yang paling tepat untuk menanggulangi perdagangan manusia di India bukan hanya dengan menangkap para pelaku kejahatan ini lalu permasalahan selesai. Namun, yang seharusnya di fokuskan adalah adanya ketiga aspek pendekatan tersebut sehingga perdagangan manusia dapat di tuntaskan hingga ke akar akarnya. Apne Aap memberikan model tata cara memberantas dari akarnya hingga berpengaruh ke puncaknya. Peran pemerintahan juga sangat penting terhadap kebijakan dan regulasi untuk mengatur perdagangan manusia dapat di selesaikan, serta peran masyarakat Internasional terhadap kepedulian bersama tentu harus memberikan dukungan yang besar untuk penyelesaian perdagangan manusia di setiap Negara. 

Referensi 

Firmaliza, C., A. (2015). Strategi Organisasi Perempuan Anti Trafficking Apne Aap dalam Penanggulangan Isu Perdagangan Manusia Di India. Andalas Journal of International Studies (AJIS), 3(2), 192-208. https://doi.org/10.25077/ajis.3.2.192-208.2014 

Nuraeny, H. (2018). Tindak pidana perdagangan orang: kebijakan hukum pidana dan pencegahannya. Sinar Grafika.

Priyali. (2013, 30 Desember). Silent slaves: Stories of human trafficking in India. WMC. https://www.womensmediacenter.com/women-under-siege/silent-slaves-stories-of-human-trafficking-in-india

Author: Fahmi Abyan

2 thoughts on “Organisasi Anti-Trafficking Apne Aap di India Dalam Menangani Human Trafficking

  1. Pingback:sendvic panel
  2. Pingback:Darknet Links

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *