Mengintip Sisi Gelap dari Development State di Singapura

Singapura merupakan negara yang luasnya tidak jauh berbeda dengan Ibukota Indonesia, namun singapura berhasil menjadi negara yang mencetak banyak keberhasilan dalam berbagai bidang. Singapura tumbuh sebagai negara kecil yang berhasil meraih kesuksesannya sebagai negara yang bebas dan tidak terikat. Jika dilihat dari beberapa dekade setelah kemerdekaanya, Singapura sukses menjadi negara maju yang juga disegani oleh negara-negara di dunia. Hal ini terbukti dengan hanya melihat perkembangan ekonomi. Singapura berambisi melihat Jepang untuk mengubah negaranya menjadi Development State. Bahkan, Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew memposisikan Jepang sebagai salah satu role model bagi Singapura.

Singapura yang berhasil bersaing dengan negara-negara yang memegang posisi tinggi dalam bidang ekonomi. Singapura dinyatakan sebagai negara maju ketika Business Environtment Risk Intelligence (BERI) melakukan riset secara langsung dan mendapatkan hasil bahwa pembangunan ekonomi Singapura sudah menjadikan Singapura sebagai negara maju. Masih banyak prestasi lainnya yang dicapai oleh Singapura, misalnya pada tahun 2016. Singapura menempati posisi kedua dalam bidang ekonomi dalam data World Economic Forum. Tidak hanya dalam bidang ekonomi, Singapura juga menjadi negara yang memiliki pendidikan yang berhasil sehinga melahirkan masyarakat yang ber-edukasi dengan baik (Afriansyah, 2019). Namun, Keberhasilan yang dicapai oleh Singapura menimbulkan banyak pertanyaan sebab Singapura bukanlah negara besar yang artinya baik Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki tidak begitu banyak. Singapura menjadi negara yang membuktikan keberhasilannya kepada dunia sebagai negara pembangunan.

Sebelum itu tidak ada keberhasilan tanpa usaha yang maksimal, berlaku pula dengan bagaimana perjuangan Singapura dalam meraih keberhasilan dalam pembangunan negaranya. Setelah berhasil meraih kemerdekaan, Singapura dihadapkan pada situasi yang pelik dimana banyak permasalahan dalam negeri seperti krisis ekonomi, kerusuhan rasial, pemogokan, dan penyelundupan yang merupakan masalah serius untuk dihadapi sebuah negara setelah kemerdekaannya. Pada tahun 1980, Singapura dihadapkan dengan resesi yang besar-besaran. Jika kita lihat dari luar, Singapura bisa dibilang sangat sukses menjadi negara yang maju, keadaan ekonomi politik yang luar biasa berkembang, lingkungan dan pembangunan yang bagus. Namun, hanya sedikit orang yang melihat melihat “kedalam” Singapura. Lantas mari kita bahas tentang “the dark side of Singapore”.

Singapura selalu dipuji atas kesuksesannya dalam hampir segala bidang, khususnya bidang ekonomi. Terlepas hebatnya kemajuan ekonomi Singapura, ada beberapa ketimpangan masalah yang menyebabkan pertanyaan apakah Singapura sudah cukup layak menyandang gelar Development State. Konsep development atau perkembangan sendiri dimaknai sebagai proses dalam meningkatkan kapasitas di bidang ekonomi dan politik. Maka selain melakukan pembenahan terhadap banyak persoalan demi meraih pendapatan besar dalam ekonomi nasional, Singapura juga menggunakan strategi politik yang digerakkan oleh People’s Action Party (PAP) atau Partai Aksi Rakyat. Partai Aksi Rakyat bahkan sudah bergerak sebelum Singapura meraih kemerdekaannya, partai ini merupakan partai yang mengatur pihak-pihak yang berkontribusi dalam bidang politik. Mungkin secara politik dan ekonomi Singapura sudah layak menyandang sebagai development state, namun tidak di sisi lainnya (Huff, 1999).

Dibalik kesuksesan suatu negara, pasti ada sisi gelap yang publik tidak tau. Seperti dilema yang dihadapi Singapura ini. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak sejalan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. Terjadi ketimpangan di sebagian sisi yaitu isu ketidaksetaraan, kesehatan, aging society, tech, dan lingkungan di negaranya. Banyak lansia yang diatas 65 tahun masih bekerja untuk mencukupi hidupnya namun tidak di perhatikan oleh pemerintah Singapura. Mereka hanya memberi pekerjaan untuk lansia agar mereka tetap mempunyai aktivitas, tapi tidak sejalan dengan fasilitas yang diberikan untuk para lansia tersebut. Tren pernikahan juga mulai memudar ditambah kasus perceraian makin meningkat. Kurangnya fasilitas perawatan dan kesehatan tidak sejalan dengan banyaknya penduduk dan masalah kesehatan yang terjadi si Singapura. Masalah ketidaksetaraan gender juga menjadi masalah utama di negara ini, bahkan menjadi peringkat negara terburuk dalam hal kesetaraan gender. Dimana perbedaan ini sangat terlihat. Misal gaji yang diperoleh perempuan 20% lebih kecil dibanding gaji laki-laki. Perempuan Singapura juga memiliki tabungan pensiun 17% lebih sedikit dari pada laki-laki.

Selain masalah domestik, tantangan eksternal juga dihadapi oleh Singapura. Tantangan eksternal yang dapat mengancam posisinya sebagai pusat ekonomi global dan regional utama. Saat ini Singapura telah mengungguli negara dengan ekonomi terbesar abad-21. Sebagai pusat regional yang terintegrasi dengan baik dengan dinamo ekonomi ini, terdapat peluang yang dapat dimanfaatkan Singapura. Namun, banyak terjadi di banyak bidang termasuk kecerdasan buatan, robotika, dan inovasi manufaktur canggih lainnya seperti energi terbarukan; teknologi digital; dan kemajuan biomedis revolusioner seperti terapi baru dan revolusi genomik lainnya. Tentu saja hal ini merupakan hal baru bagi pekerja Singapura. Mereka dipaksa harus memahami pembelajaran yang baru. Singapura mencoba merespons adanya globalisasi ini dan berusaha bersaing dengan negara lain.

Implikasinya bagi singapura ini berlaku tidak hanya untuk pembangunan Singapura di masa depan tetapi juga penting untuk negara-negara berkembang lainnya yang menghadapi dilema sosial ekonomi yang serupa dan negara-negara berkembang yang menginginkan Singapura sebagai role modelnya. Kedua, hal itu menyerukan penyelarasan yang lebih besar dari kebijakan ekonomi dan sosial Singapura mengingat bahwa pertumbuhan yang kuat belum sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang sepadan.

Referensi

Afriansyah, A. (2018). Jatuh Bangun Singapura Membangun Bangsa: Suatu Perbandingan. Masyarakat Indonesia42(2), 289-295. http://jmi.ipsk.lipi.go.id/index.php/jmiipsk/article/download/721/497

Huff, W. G. (1999). Turning the Corner in Singapore’s Developmental State. Asian Survey, 39(2), 218-220. https://doi.org/10.2307/2645453

35 thoughts on “Mengintip Sisi Gelap dari Development State di Singapura

  1. Salah satu potensi yang baik di miliki mahasiswa IISIP dalam menulis artikel. Pertahankan dan kembangkan! Well done,mate.. 👍🏻👌🏻

  2. Pingback:vice city market

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *