Kerjasama Turki dan Russia dalam Turkish Stream Pipeline Tahun 2014-2016

Kemitraan dan kerja sama Turki dan Rusia terbilang sudah berjalan cukup lama. Kedua negara tersebut adalah mitra kerja sama yang bergerak di berbagai bidang, yang salah satunya adalah kerja sama energi.  Turki merupakan negara yang bisa dikatakan baik dalam peningkatan pertumbuhan dalam segi ekonominya, Ketika Uni Eropa mulai jatuh dalam krisis hutang, perekonomian Turki mengalami peningkatan. Dengan adanya peningkatan perekonomian Turki ini, maka bisa dikatakan tingkat pemakaian energi pun juga meningkat dalam 10 tahun terakhir. Adanya peningkatan pemakaian energi tersebut bertolak belakang dengan kesanggupan produksi energi di Turki. Kesanggupan Turki memenuhi kebutuhan energi hanyalah sebesar 26%, sementara 74% sisanya dikirim dari impor. Dengan adanya jumlah ketergantungan yang sangat melonjak terhadap energi impor terutama gas alam, khususnya ketergantungan terhadap impor energi dari Rusia, maka bisa dikatakan Turki harus melakukan kerja sama energi dengan Rusia. Dengan adanya beberapa kerja sama sebelumnya diketahui bahwa Turki telah melakukan kesepakatan kerja sama dengan Rusia melalui perantaranya yaitu perusahaan gas kepunyaan Turki yaitu Botas, dengan salah satu perusahaan terbesar milik negara Rusia, yaitu Gazprom. Sekiranya satu dekade terakhir pemakaian gas alam di negara Turki mengalami peningkatan dua kali lipat dan karena itu Turki lebih menguntungkan dan menarik bagi negara Rusia untuk dijadikan mitra kerja sama di bidang impor gas alam, dan semua itu dilihat dari terjadinya kerja sama dalam pembangunan jalur pipa Turkish Stream. Kesepakatan pembangunan Turkish Stream yang terjalin antara Pemerintah Turki dengan Pemerintah Rusia diawali pada 1 Desember 2014, dan ketika kunjungan kenegaraan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Ankara bersama Gazprom dan Korporasi Botas  telah menandatangani kesepakatan Memorandum tentang pembangunan jaringan pipa gas dilepas pantai negara Rusia ke  Turki yang melalui Laut Hitam. Setelah itu pada 22 Juni 2015,  Turki mengeluarkan izin untuk melakukan survei teknik untuk bagian luar negerinya dari Turkish stream (Angelika, 2017). Kesepakatan kerja sama pembangunan Turkish Stream yang terjalin antara Pemerintah Rusia dengan Pemerintah Turki telah disepakati pada 10 Oktober 2016 saat 23rd World Energy Congress di wilayah Istanbul. Pada kesepakatan tersebut berisi tentang seputar pembangunan dan  konstruksi kedua rangkaian pipa gas dari negara Rusia ke Turki yang melewati Laut Hitam (Amalia, 2017).

Kebutuhan geostrategi negara Turki terbilang terdapat terutama di bidang energi gas dan minyak bumi. Meskipun Turki bukanlah negara pengekspor gas, posisi geografisnya yang terbilang strategis ini bisa menguntungkan Turki untuk bisa menjadi penghubung energi bagi negara-negara dieropa yang merupakan pemakai terbesar bagi pasar gas alam turki, serta selain itu juga untuk menjaga dan mempertahankan ketahanan energi bagi dalam negeri Turki yang setiap tahunnya mengalami peningkatan. Ketika sebuah negara mempunyai kendali atas aset jalur gas serta minyak sama pentingnya dengan mempunyai kendali atas penyediaan gas serta minyak itu sendiri. Dengan adanya kapasitas sekitar 31 miliar meter kubik gas alam diTurkish Stream,  Turki bisa menjadi  pemeran utama yang penting bagi negara yang membutuhan gas alam tersebut. Turki mempunyai peranan sebagai jalur masuk minyak dan gas yang masuk ke negara-negara Uni Eropa dan itu menjadikan peranan Turki semakin penting di mata Uni Eropa menangani masalah yang keterkaitan dalam memastikan adanya keamanan energi serta penyuplaian pasokan energi dari berbagai sumber dengan harga yang terbilang relatif bisa berkompetitif dengan negara-negara lain penyuplai pasokan energi. Maka bisa dikatakan Turkish Stream akan membukakan kesempatan bagi Turki untuk bisa mendominasi dalam penyuplaian gas alam di Uni Eropa (Angelika, 2017). Untuk melanjutkan perjanjian yang telah disepakati antar kedua negara tersebut, pada tanggal 8 Desember 2016 telah ditandatangani kontrak untuk proyek pembangunan rangkaian pertama jalur pipa gas offshore dalam proyek Turkish Stream, serta didalam pembangunan Turkish Stream tersebut mereka membuat suatu rangkaian khusus yang diperuntukan untuk mencukupkan kebutuhan suplai gas alam diTurki. Di dalam rangkaian itu nanti akan bisa menyalurkan gas sebanyak 15,75 bcm/tahun. Turki merupakan pemasok gas yang utama disana, maka dapat dibilang bahwa Turki nantinya akan bergantung oleh gas Rusia lebih dari sekitar 70%. Oleh karena itu,  Turki akan lebih memilih untuk tetap menggantungkan energi gasnya pada Rusia karena Turki bisa menerima langsung persediaan energi gas alam dari Rusia. Maka dapat dilihat bahwa didalam proyek Turkish Stream Pipeline Project kedua negara tersebut yaitu Turki dan Rusia mempunyai kepentingan masing-masing yang sama besar. Pembangunan inipun juga bisa memunculkan sikap interdependensi antara Turki dan juga Rusia di mana Turki bisa dikatakan menggantungkan pada suplai energi gas dari Rusia serta sebaliknya Rusia juga menggantungkan energi gasnya pada jalur-jalur pipa Turki yang bisa menyalurkan energi gasnya Rusia ke negara-negara Eropa yang jalur pipanya melewati wilayah Turki (Angelika, 2017).

Referensi

Amalia, R., & Yamin, M. (2017). Kepentingan Rusia dalam Proyek Pembangunan Pipa Gas Turkish Stream tahun 2014-2016. Insignia: Journal of International Relations4(01), 27-35. https://doi.org/10.20884/1.ins.2017.4.01.481

Angelika, Y. (2017). Motif Kerjasama Energi Turki dan Russia Dalam Turkish Stream Pipeline Project. Jurnal Demokrasi Dan Otonomi Daerah17(1), 25-30. https://jdod.ejournal.unri.ac.id/index.php/JDOD/article/viewFile/7385/6472

Author: Muhammad Rizaldi

Politik Internasional B

One thought on “Kerjasama Turki dan Russia dalam Turkish Stream Pipeline Tahun 2014-2016

  1. Pingback:ASAP Market Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *