Kerjasama Indonesia dan Tiongkok Melalui Belt and Road Intiative

Seperti yang kita ketahui The Rise of China atau kebangkitan negara Tiongkok di abad 21 diwarnai dengan perubahan sistem dunia internasional yang tadinya bersifat bepolar dan unipolar dan sekarang semakin multipolar. Pada era ini juga Tiongkok bisa dikatakan sebagai harapan bagi negara-negara berkembang dalam mewujudkan pembangunan nasional. Tiongkok juga menunjukan kemampuannya sebagai regional power di wilayah asia yang dimana mampu menyaingi kekuatan hegemoni Amerika Serikat di abad 21. Kemampuan Tiongkok dapat dilihat ketika Presiden Xi Jinping mengeluarkan kebijakan tentang Belt and Road Intiative (BRI). Program kebijakan ini muncul untuk meningkatkan hubungan global antara negara-negara di dunia khususnya Negara berkembang. Fokus utama dari BRI ini ialah membentuk sebuah aliran perdagangan bebas yang efisien, produktif dan mempunyai integritas yang kuat di pasar internasional. Jalur sutra menjadi tujuan utama dalam program BRI, dikarenakan jalur sutra dianggap sebagai jalur lintas ekonomi terbesar yang dimana dapat menghubungkan lebih dari 65 negara dengan jumlah populasi terbesar di dunia sekitar 62%, dan juga menjadi wilayah aktivitas perdagangan internasional. Menurut Brown (2018) BRI sendiri mempunyai lima tujuan utama, yaitu (1) Koordinasi Kebijakan; (2) Pertukaran Budaya; (3) Integrasi Ekonomi; (4) Investasi dan Perdagangan; dan (5) Konektivitas fasilitas.

Salah satu yang menjadi tujuan utama ialah posisi laut dan darat Indonesia berada dalam wilayah jalur sutra yang memungkinkan adanya peningkatan kerjasama dengan Tiongkok. Pada perayaan 65 tahun hubungan bilateral antar kedua negara, pada tanggal 25-28 Maret 2015 Presiden Jokowi mengadakan kunjungan kepada Presiden Xi Jinping untuk membicarakan beberapa hal khusus untuk mempererat kerjasama antara kedua negara. Hal khusus yang menjadi pembahasan utama antar kedua Presiden tersebut, yaitu memperkuat sektor perdagangan, infrastruktur, industri pariwisata, sampai hubungan antara warga kedua negara, untuk memperkuat hubungan diplomatik, dan juga ekonomi politik. (Andika & Aisyah, 2017).

Persahabatan Indonesia dan Tiongkok semakin kuat sejak adanya kerjasama jalur sutra BRI. Hubungan antara Indonesia dan Tiongkok mengalami kemajuan yang signifikan dalam bidang strategis. Tak diragukan lagi kedua Negara meningkatkan kerjasama ekonomi dalam kepentingan investasi, perdagangan dan pendidikan yang menjadi daya tarik antar masyarakat kedua Negara. Faktor meningkatnya lalu lintas manusia antar kedua negara, dibutuhkan pengelolaan kerjasama yang baik antar kedua negara. Secara teknis-nya hubungan antar kedua negara di berbagai bidang akan menjadi sebuah dinamika yang diharapkan semua permasalahan bisa diselesaikan mengunakan cara-cara yang damai dan saling menguntungkan antar pihak. kalau dilihat dari sisi Indonesia, momen ini bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kepentingan nasional-nya yang dimana Tiongkok akan menjadi mitra dagang dan juga mendorong Tiongkok untuk berinvestasi di Indonesia dalam meningkatkan kerjasama ekonomi yang akan terjalin antar kedua negara tersebut. Indonesia berupaya untuk mendorong Tiongkok dalam master plan untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi Indonesia dan juga berupaya untuk memajukan liberalisasi ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan penjualan produk-produk Indonesia di dalam negara Tiongkok.

Di era Presiden Joko Widodo, hubungan kerjasama antara Indonesia dengan Tiongkok semakin mengalami penguatan yang berarti, Fokus utama dalam proyek pembangunan infrastruktur yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo mendorong adanya kepentingan Indonesia untuk semakin mempererat kerjasama dengan Tiongkok. Bagi Indonesia, saat ini Tiongkok memiliki nilai yang strategis sebagai mitra kerjasama dan sebagai negara yang harus ditingkatkan dalam menjalin hubungan bilateral. Terdapat dua faktor utama dalam penerapan kebijakan Presiden Joko Widodo dalam membangun hubungan yang serius dengan Tiongkok, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. (Soviyaningsih, 2019)

Urgensi faktor internal yang dimiliki oleh Indonesia dalam menjalin kerjasama dengan Tiongkok, yaitu kebutuhan dari Indonesia untuk pembangunan infrastruktur yang bisa didapatkan dari bantuan investasi Tiongkok melalui Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB). Investasi tersebut didapatkan melalui keikutsertaan Indonesia dalam kebijakan proyek One belt one road (OBOR). Selain itu, faktor eksternal yang mendasari hubungan kerjasama Indonesia dengan Tiongkok yaitu menguat-nya perekonomian. Negara tersebut melalui kebijakan Open Door Policy, agenda OBOR yang menghubungkan Asia dengan Eropa dalam pembangunan jalur perdagangan darat dan laut, serta Tiongkok menjadi pilihan rasional dibandingkan dengan Amerika Serikat karena posisi Tiongkok yang lebih menguntungkan. (Soviyaningsih, 2019)

Infrastruktur Indonesia yang kurang memadai berdampak pada kurangnya ketertarikan untuk menarik investor asing dan mendukung perdagangan internasional, yang mengakibatkan laju ekonomi yang lambat dan juga kurang mendukung jalannya investor asing untuk melakukan investasi di Indonesia. Seperti yang kita ketahui setiap tahun Indonesia mengeluarkan 24% dari PDB-nya untuk logistik saja. Pembangunan infrastruktur sangat penting untuk kebangkitan ekonomi nasional Indonesia. Kendala anggaran menjadi faktor utama Indonesia dalam membangun infrastruktur. Kemampuan pemerintah untuk menaikkan dana melalui penerbitan utang juga dibatasi oleh hukum. Sementara itu, jumlah investasi yang dibutuhkan untuk mempertahankan pembangunan ekonomi negara sangat besar. pemerintah Indonesia sangat terbuka dengan inisiatif yang bisa mempromosikan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Tujuan kerjasama belt and road intiative (BRI) ini untuk mendukung perkembangan pembangunan infrastruktur untuk mendukung laju investasi dan perekonomian Indonesia.

Seperti yang di jelaskan bahwa kebijakan ini sebagai tahapan Indonesia mewujudkan kebijakan Global Maritime fulcrum pada tahun 2014, yang dimana pembangunan kembali jalur sutra dikatakan menjadi salah satu tujuan utama Tiongkok untuk menjalankan kepentingannya dalam segi ekonomi politik, untuk mempererat hubungan antar negara yang wilayahnya berada dalam kawasan jalur sutra. Indonesia membutuhkan Tiongkok untuk berinvestasi untuk membangun pendanaan infrastruktur Poros Maritim Global dalam meningkatkan jalur perdagangan yang akan mendukung kekuatan ekonomi Indonesia, bisa dikatakan bahwa kerjasama antar  kedua negara tersebut saling memiliki ketergantungan (Interdependence).

Referensi

Brown, L. (2018). The Belt and Road Initiatives. Lehmanbrown International Accountants.

Andika, T. M., & Aisyah, N. (2017). Indonesia-China di Era Presiden Joko Widodo: Benturan Kepentingan Ekonomi dan Kedaulatan?. Indonesian Perspective, 2(2), 161-179. https://doi.org/10.14710/ip.v2i2.18477

Soviyaningsih, N. K. (2019). Kepentingan Indonesia Terhadap One Belt One Road (OBOR) Dalam Upaya Mewujudkan Poros Maritim Dunia. International Relations Journal, 2(2), 83-97. http://dx.doi.org/10.23969/transborders.v2i2.1521

Author: norman ely

34 thoughts on “Kerjasama Indonesia dan Tiongkok Melalui Belt and Road Intiative

  1. Pingback:sbobet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *