Kebijakan Womenomics: Strategi Shinzo Abe Untuk Menghadapi Aging Society

Saat ini hampir semua negara sedang mengalami masalah populasi yang dimana tingkat populasi pada negara-negara maju mengalami penurunan hal ini disebabkan karena rendahnya usia produktif untuk membentuk keluarga yang berdampak pada rendahnya tingkat kelahiran yang bersamaan dengan meningkatnya jumlah usia tua peristiwa ini disebut dengan Aging Society atau Aging Population. Jepang juga saat ini tengah menghadapi tantangan meningkatnya populasi yang menua hal ini disebabkan karena menurunnya tingkat kelahiran. Pada zaman modern kini warga di Jepang tidak banyak memiliki suatu hubungan untuk membentuk keluarga mereka lebih mementingkan kehidupan mereka sendiri karena menurut mereka biaya hidup yang tinggi, biaya pendidikan yang tidak murah serta mahalnya biaya kesehatan menjadi salah satu penyebab menurunnya tingkat kelahiran yang berdampak pada tingkat produktivitas tenaga kerja. Sehingga dapat berdampak pada menurunnya perekonomian jepang secara langsung.

Penurunan tingkat lahiran ini diprediksi oleh biro statistik Jepang memperkirakan bahwa penduduk jepang akan mengalami penurunan sebanyak 100 juta pada tahun 2050 saat ini jumlah penduduk jepang sekitar 126 juta jiwa (Worldometer, 2020). Jika penurunan ini akan terus berlanjut ini akan menjadi musibah bagi Jepang seperti kekurangan tenaga kerja yang berdampak kepada pertumbuhan ekonomi Jepang. Hingga pada masa pemerintahan Shinzo Abe mengeluarkan tiga kebijakan yang dimaksudkan untuk menarik investasi swasta salah satunya memperbolehkan wanita ikut berpartisipasi terhadap pembanguanan ekonomi atau bisa disebut sebagai kebijakan womenomics dimana para wanita diJepang diberikan akses secara luas dalam bidang ekonomi, sosial dan politik yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja di Jepang. Kegiatan yang dilakukan oleh seorang pekerja perempuan dimaksudkan untuk memperluas angakatan kerja serta dapat meningkatkan tingkat kesuburan. Hal itu diperlukan untuk mengamankan sumber daya manusia yang mulai menipis, menjadi persaingan dipasar dunia serta mengaktifkan kembali angkatan kerja perempuan yang selama ini kurang dimanfaatkan. 

Pada masa pemerintahan Shinzo Abe mulai membahas dengan serius isu kesetaraan gender. Laki-laki di Jepang cenderung meremehkan peran seorang perempuan contohnya beberapa perusahaan membuat suatu kebijakan dimana laki-laki bisa menempatkan porsi kedudukan yang lebih banyak dibandingkan dengan perempuan. Permasalahkan akan terus berlajut dimana jika seorang perempuan yang sudah menikah dan kemudian berpisah dengan pasangannya maka perempuan tersebut akan memiliki masalah finansial karena mereka memiliki kesempatan yang terbatas untuk mengembangkan dirinya (Takeda, 2018).

Setelah adanya kebijakan womenomics angka tenaga kerja perempuan usia 25-44 tahun meningkat sebanyak 70% untuk mencapai kebijakan yang maksimal pemerintah berinisiatif memberikan cuti untuk mengasuh anak, memberi izin pembantu rumah tangga asing, mendorong promosi cuti laki-laki untuk mengasuh anak, serta memperbaiki kode pajak (Beriashi,  2014). Melalui kebijakan womenomics pemerintah Jepang terus mempromosikan pengunaan tenaga kerja perempuan agar dapat meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi Jepang. Pada negara maju yang lain angka tenaga kerja perempuan tinggi seimbang dengan angka kelahiran yang tinggi, dengan terus mempromosikan kebijakan womenomics dapat membantu perempuan berperan lebih aktif dalam masyarakat dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang positif di saat Jepang sedang berjuang dengan angka kelahiran yang rendah dan aging society.

Dibawah kebijakan ini perempuan didorong untuk berpartisipasi dalam pemerintahan dengan menduduki posisi penting di dalam parlemen. Pemerintah Jepang memprediksi pada tahun 2025 mendatang 35% anggota parlemen adalah adalah perempuan. Hal ini diharapkan dapat memajukan kesetaraan gender dalam bidang politik. Adanya perempuan dalam dunia kerja menjadi salah satu bentuk berkembangnya kesetaraan gender dan pembangunan. 

Referensi

Takeda, H. (2018). Between Reproduction and Production: Womenomics and the Japanese Government’s Approach to Women and Gender Policies. Nagoya University. 49-70. http ://www2.igs.ocha.ac.jp/wp-content/uploads/2018/07/5-Takeda.pdf  

Beriashi, M (2014). A Social, Economic and Comparative Analysis of Womenomics..The Roosevelt Institute Center on National Development of Yale University. 1-5.http://static1.squarespace.com/static/549b9425e4b07bee0353cf88/t/57068642356fb0a622887608/1460045379047/JapanWomenomics.pdf


Worldometer. (2020). Current World Population .https://www.worldometers.info/world-population/

Author: Dwi Handayani

38 thoughts on “Kebijakan Womenomics: Strategi Shinzo Abe Untuk Menghadapi Aging Society

  1. inisiatif kebijakan yang digagas oleh shinzo abe memang sangat menarik untuk dibahas, namun apakah kebijakan ini benar-benar bisa berpengaruh untuk masalah aging society di Jepang? semoga saja di bawah kepemimpinan PM suga masalah aging society Jepang dapat teratasi. Nice article dwi!

  2. Artikel yang bagus! kebijakan ini diharapkan dapat berlangsung terus kedepannya agar mempengaruhi bertambahnya laju penduduk dan usia produktif

  3. Pingback:쿠쿠티비

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *