Kebijakan Abenomics Setelah Terjadinya Bubble Economy di Jepang

Jepang merupakan salah satu negara di Asia yang sukses dalam membangun perekonomian negaranya, yang dimana terbukti dari perjalanan sejarah pembangunan dalam ekonomi Jepang yang terbagi menjadi dua yaitu pada zaman restorasi Meiji dan sampai awal Perang Dunia II. Namun, pasca terjadinya Perang Dunia II, Jepang mengalami keterpurukan terutama pasca terjadinya bom di kota Hiroshima dan Nagasaki karena seperti yang diketahui bahwa hampir semua kota di Jepang tersebut mengalami dampak dari bom yang terjadi di Hiroshima dan Nagasaki termasuk kota-kota besar yaitu Tokyo. Maka dari itu, akibat adanya peristiwa tersebut membuat Jepang mengalami kerugian ekonomi yaitu dengan tingginya angka pengangguran, persediaan makanan menjadi terbatas, merosotnya produksi pertanian, dan juga kegiatan ekspornya terhadap luar negeri.

Pada tahun 1980-an merupakan momen yang bersemangat dalam sejarah Jepang namun, kemakmuran Jepang hanya dibangun diatas fondasi finansial. Setelah Perjanjian Plaza tahun 1985 yang dilakukan sebagai usaha untuk memperbaiki surplus perdagangan Jepang dengan melemahkan dolar dan memperkuat Yen dan Bank of Japan (BOJ) sendiri melakukan kebijakan moneter ekspansif. Keruntuhan Bubble Economy atau bisa disebut dengan gelembung ekonomi sangatlah tiba-tiba yang dimana bursa efek Tokyo, yakni indeks Nikkei telah melonjak menjadi 39.000 pada saat akhir tahun 1980-an dan mencapai puncaknya pada masa hari terakhir perdagangan di tahun 1989 telah melemah menjadi 14.000 (Tsutsui & Mazotta, 2015).

Oleh karena itu, banyak karyawan dari perusahaan-perusahaan yang di PHK, merumahkan pekerja-pekerja secara massal dan memindahkan produksi berbiaya tinggi terhadap luar negeri terutama di China dan juga Asia Tenggara dan pada tahun 2003, tingkat pengangguran resmi mencapai 5,5% (Tsutsui & Mazotta, 2015). Bagi pemerintah maupun masyarakat Jepang dengan terjadinya Bubble Economy membuat mereka merasakan terpukul oleh kesengsaraan terhadap ekonomi Jepang, namun peristiwa penggelembungan ekonomi ini dapat dikatakan bahwa ketidakmampuan pemerintah yang kemudian berpengaruh pada ketidakmampuan Jepang untuk memperbaiki dirinya sendiri secara ekonomi.

Setelah terjadinya Bubble Economy yang melanda Jepang, pertumbuhan perekonomian Jepang terlihat mengalami pergerakan secara lambat. Selain itu juga, pada tahun 2011 Jepang mengalami bencana yaitu gempa bumi dan tsunami yang menyebabkan kebocoran nuklir di Fukushima, karena berbagai masalah yang terjadi inilah membuat negara Jepang mengalami dan melewati masa-masa yang sulit. Kemudian, ditahun 2012 Shinzo Abe terpilih untuk menjadi Perdana Menteri yang kedua kalinya dan ketika terpilih Shinzo Abe segera mengeluarkan kebijakan ekonomi baru yang disebut sebagai Abenomics (Grabowiecki & Dabrowski, 2017) yang berguna untuk mengatasi permasalahan ekonomi yang terjadi.

Kebijakan Abenomics ini bertujuan untuk meningkatkan PDB Jepang dan tingkat inflasi hingga mencapai 2% dan menurut Rehesa (2015) kebijakan ini ada tiga pokok yang pertama adalah langkah pelonggaran moneter, maksudnya adalah kebijakan pelonggaran moneter Bank Sentral didasarkan untuk memasok dana dalam jumlah yang besar untuk memicu investasi. Kedua, kebijakan fiskal yang fleksibel ditujukan untuk membantu revitalisasi aktifitas perekonomian dengan menyediakan dana di sektor bisnis. Ketiga, reformasi struktural sebagai sarana strategi pertumbuhan yang berkelanjutan supaya pemerintah mengambil gagasan untuk membantu perkembangan industri. Salah satu pilar utama dari Abenomics adalah kebijakan moneter yang menjadi terlihat terutama pada pergantian kuartal pertama dan kuartal kedua tahun 2013, ketika Haruhiko Kuroda terpilih sebagai gubernur Bank Jepang dan pada tanggal 04 April 2013, gubernur Bank of Japan (BOJ) mengumumkan bahwa dalam dua tahun akan terjadi inflasi pada level 2% dalam perspektif tahunan (Grabowiecki & Dabrowski, 2017).

Beberapa kebijakan ekonomi yang dibuat oleh Shinzo Abe terbilang sukses, seperti salah satunya saat Abe membuat kesepakatan dengan Bank of Japan (BOJ) dan kebijakan BOJ ini membantu memperkuat daya saing eksportir Jepang dengan melemahkan Yen dan perekonomian Jepang pun secara bertahap menjadi pulih dan harga pun perlahan-lahan meningkat. Upaya BOJ yang dipasangkan dengan stimulus dalam bentuk belanja pemerintah ini merupakan kebijakan kedua dari tiga kebijakan Abenomics (“Mengenal Abenomics, Jurus Ekonomi Eks PM Shinzo Abe”, 2020). Ratusan miliar dolar dihabiskan sejak tahun 2013 dan pengeluaran tersebut meningkatkan pendapatan dan investasi untuk bisnis, meningkatkan pasar keuangan dan real estate untuk membantu mendukung pertumbuhan negara Jepang selama beberapa tahun. Abenomics ini pada intinya bertujuan untuk stimulasi ekonomi jangka pendek dan strategi jangka panjang untuk mendukung pengembangan industri modernisasi pertanian dan juga perluasan ekspor seiring dengan pasar tenaga kerja, pengembangan inovasi dan juga sumber daya manusia serta peningkatan standar hidup masyarakat (Grabowiecki & Dabrowski, 2017) dan perekonomian Jepang ini didasarkan pada pengetahuan dan kesadaran yang cukup besar mengenai perubahan yang terjadi pada dunia kontemporer yang dimana disebut sebagai revolusi industri baru atau bisa juga disebut dengan revolusi industri 4.0.

Referensi

Tsutsui, W. M. & Mazotta, S. (2015). The Bubble Economy and The Lost Decade: Learning From The Japanese Economic Experience. Journal of Global Initiatives: Policy, Pedagogy, Perspective, 9(6), 57-54. https://digitalcommons.kennesaw.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1164&context=jgi

Grabowiecki, J., & Dabrowski, M. (2017). Abenomics and Its Impact on The Economy of Japan. Optimum Studia Ekonomiczne, 5(89), 23-35. https://doi.org/10.15290/ose.2017.05.89.02

Rehesa. (2015). Kepentingan Jepang Bekerja Sama dengan Tiongkok dalam Abenomics Tahun 2013. Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau, 2(1), 1-13. https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/view/5000

Mengenal Abenomics, Jurus Ekonomi Eks PM Jepang Shinzo Abe. (2020, 28 Agustus). CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200828161302-532-540397/mengenal-abenomics-jurus-ekonomi-eks-pm-jepang-shinzo-abe

Author: Riny Marchelawati

International Relation Student

36 thoughts on “Kebijakan Abenomics Setelah Terjadinya Bubble Economy di Jepang

  1. Pingback:우리카지노
  2. Pingback:article source

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *