Kebijakan Abenomics dalam Mengatasi Masalah Ekonomi Jepang

Perekonomian Jepang dapat dikatakan sebagai salah satu perekonomian terbesar di dunia. Sebelumnya Jepang sempat mengalami keterpurukan akibat kekalahannya dalam Perang Dunia ke II dan akibat peristiwa tersebut Jepang mengalami kerugian ekonomi sehingga Jepang mulai memfokuskan kebijakannya terhadap ekonomi guna membangun kembali negaranya. Pada tahun 1950, situasi Jepang mulai stabil walaupun pemulihannya dapat dikatakan lambat tetapi Jepang berhasil mengalami kemajuan yang cukup signifikan dalam menstabilkan ekonominya dimana saat itu pendapatan nasional Jepang telah tumbuh pada tingkat rata-rata lebih dari 9 persen per tahun.

Pada tahun 1980an perekonomian Jepang melonjak naik serta adanya kestabilan nilai tukar mata uang Jepang terhadap dolar AS. Menurut Grabowiecki & Dabrowski (2017), Jepang menyetujui Perjanjian Plaza dimana dalam kerangka perjanjian tersebut terdapat perubahan kebijakan terkait pertukaran mata uang yang mengakibatkan penurunan daya saing ekspor di pasar dan juga terjadinya deflasi perekonomian Jepang yang disebabkan berkurangnya investasi di industri dalam negeri hal ini kemudian timbul penurunan pada tingkat bunga serta daya tarik investasi modal Jepang di luar negeri yang lebih besar. Peningkatan modal di luar negeri disertai dengan peningkatan pesat pada bursa saham menyebabkan ledakan “gelembung ekonomi” atau bubble economy secara tiba-tiba, hal ini dapat dilihat dari nilai indeks pasar saham Nikkei 225 berjumlah 10.000 pada tahun 1984, kemudian tahun 1986 meningkat ke level 12.000 hingga terus melonjak naik menjadi 39.000 pada akhir tahun 1989 sehingga Bank of Japan (BOJ) memberlakukan peraturan tambahan mengenai pinjaman untuk real estate dan akibatnya pada tahun 1990 nilai indeks Nikkei 225 mengalami penurunan sekitar 50 persen. Penurunan cepat pada harga aset-aset mengakibatkan berkurangnya cadangan modal yang akhirnya menyebabkan krisis ekonomi. Selain krisis ekonomi, penurunan tingkat perekonomian Jepang disebabkan adanya peningkatan persaingan dengan China dan Korea Selatan serta adanya peristiwa gempa bumi dan tsunami yang menyebabkan kebocoran terhadap tiga reaktor Fukushima tahun 2011.

Sebelumnya, setiap pemerintahan Jepang telah berusaha menerapkan kebijakan untuk mengatasi kelesuan ekonomi namun upaya tersebut belum cukup berhasil, sehingga pada akhir tahun 2012 Partai Demokrat Liberal (LDP) memenangkan pemilihan umum dan menjadikan Shinzo Abe sebagai Perdana Menteri Jepang kembali dimana sebelumnya Shinzo Abe telah menjadi Perdana Menteri pada tahun 2006-2007 namun saat masa pemerintahannya Shinzo Abe memutuskan mengundurkan diri dengan alasan masalah kesehatan serta adanya penurunan popularitas Abe. Setelah terpilihnya kembali menjadi Perdana Menteri, Shinzo Abe mengeluarkan kebijakan yang disebut Abenomics. Dalam kebijakan Abenomics ini terdiri dari tiga bagian utama atau “tiga panah”, yaitu kebijakan moneter, kebijakan fiskal dan strategi pertumbuhan ekonomi serta kebijakan ini memiliki tujuan untuk meningkatkan permintaan dan mencapai target inflasi sebesar 2 persen dan kebijakan ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan persaingan, memperluas perdagangan dan menaikkan tingkat lapangan kerja dalam perekonomian.

Pada tahun 2013, Pemerintah dan Bank of Japan (BOJ) menyampaikan pernyataan terkait mengatasi deflasi dan juga mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pemerintah saat itu membujuk Bank of Japan (BOJ) supaya menerapkan pelonggaran moneter yang agresif untuk mencapai target tingkat inflasi sebesar 2 persen dan gubernur Bank of Japan (BOJ) Kuroda menerima saran tersebut sehingga Bank of Japan (BOJ) dalam hal ini mengejar tujuannya dengan membeli obligasi pemerintah jangka panjang dan meningkatkan basis moneter hal ini berbeda dengan kebijakan moneter sebelumnya yang mana saat itu berfokus pada pembelian obligasi pemerintah jangka pendek (Yoshino & Taghizadeh-Hesary, 2014).

Panah kedua Abenomics yaitu kebijakan fiskal, dalam kebijakan ini pemerintah menerbitkan “Rencana Fiskal Jangka Menengah” yang bertujuan untuk mengurangi defisit anggaran hingga setengahnya pada tahun 2015 dan menghilangkan defisit pada anggaran tahun 2020, pemerintah juga menerbitkan “Kalkulasi Uji Coba Perekonomian dan Keuangan Publik dalam Jangka Menengah hingga Panjang” yang di dalamnya terdapat kajian mengenai rencana fiskal dengan skenario perhitungan dengan mengasumsikan tarif pajak konsumsi akan dinaikkan dari 5 persen menjadi 8 persen pada tahun 2014 kemudian naik menjadi 10 persen pada tahun 2015, hal ini pun dapat tercapai apabila tingkat pertumbuhan riil Jepang mencapai rata-rata 3,4 persen maka pemerintah Jepang dapat mengurangi defisit anggaran hingga setengahnya pada tahun 2015.

Pada panah ketiga Abenomics, yaitu strategi pertumbuhan. Pemerintah Jepang telah berjanji bahwa dalam jangka menengah dan jangka panjang, pemerintah akan mengambil langkah-langkah dalam mengidentifikasikan sepuluh aspek utama dari strategi pertumbuhan Jepang yaitu, pemerintah mendorong kenaikan upah untuk mendorong peningkatan konsumsi dalam negeri; pemerintah akan menaikkan pajak guna menutupi peningkatan belanja jaminan sosial; pemerintah menargetkan pada tahun 2015 rasio defisit anggaran harus melebihi PDB; biaya perawatan medis untuk lansia ditingkatkan; adanya penuaan populasi Jepang maka pemerintah akan mendorong para pensiunan untuk terus bekerja; pemerintah juga memastikan adanya kesiapan dana untuk antisipasi bencana; pemerintah Jepang akan meningkatkan pengeluaran untuk pendidikan, penelitian dan pengembangan; pemerintah juga akan menyediakan dana yang cukup untuk memperbaiki infrastruktur yang sudah tua; pemerintah akan membiayai bisnis usaha kecil dan menengah; pemerintah akan menyediakan dana yang cukup untuk memastikan sektor pertanian tetap efisien dan kompetitif (Yoshino & Taghizadeh-Hesary, 2014).

Menurut Fukuda (2015), kebijakan Abenomics ini bereaksi cukup baik dalam bursa saham dan valuta asing dimana pada tahun 2012 indeks saham berada di level 9.000 kemudian naik menjadi 10.688 dan pada pertengahan 2013 mencapai 15.000. Kebijakan Abenomics ini juga berhasil mencapai depresiasi yen yang mana saat itu kurs yen terhadap dolar AS sekitar 80 yen kemudian pada tahun 2013 meningkat menjadi 88 yen dan melonjak kembali hingga mencapai 102 yen. Keberhasilan kebijakan Abenomics juga dapat dilihat dari tingkat pengangguran di Jepang dimana menurut Grabowiecki & Dabrowski (2017), ketika Perdana Menteri Shinzo Abe mengumumkan untuk membentuk 600.000 tempat kerja baru, tingkat pengangguran saat itu sebesar 4,3 persen namun setelah adanya kebijakan Abenomics tingkat pengangguran menurun menjadi 3,1 persen. Adanya pengumuman mengenai kebijakan Abenomics oleh Perdana Menteri Shinzo Abe membuat PDB riil Jepang mengalami peningkatan hingga 5,4 persen dimana peningkatan perekonomian Jepang ini sejak triwulan I 2009, yaitu sejak resesi akibat krisis keuangan global.

Referensi

Fukuda, S. I. (2015). Abenomics: Why was it so Successful in Changing Market Expectations?. Journal of the Japanese and International Economics, 37, 1-20. https://doi.org/10.1016/j.jjie.2015.05.006

Grabowiecki, J., & Dabrowski, M. (2017). Abenomics and Its Impact on The Economy of Japan. Optimum Studia Ekonomiczne, 5(89), 23-35. https://doi.org/10.15290/ose.2017.05.89.02

Yoshino, N., & Taghizadeh-Hesary, F. (2014). An Analysis of Challenges Faced by Japan’s Economy and Abenomics. The Japanese Political Economy, 40(3-4), 37-62. https://doi.org/10.1080/2329194x.2014.998591

Author: Rina Marchelawati

Jepang dan Negara Industri/B

46 thoughts on “Kebijakan Abenomics dalam Mengatasi Masalah Ekonomi Jepang

  1. Abenomics memang sangat menarik dibahas, mengingat Presiden Shinzo Abe memang suka mengeluarkan kebijakan yg baru untuk Jepang Bagus sekali, artikelnya menambah wawasan good Job

  2. Wahh makasih kak, jadi tau apa yg menyebabkan orang Jepang tuh cenderung banyak yg ‘ga punya rumah’ pribadi dalam artian lebih memilih kebutuhan lainnya gitu. Beda banget sama pasar Indonesia yaa. Informatif bangettt pokoknya artikelnya. Keep on hardworking kak

  3. Pingback:benelli r1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *