Kawasan Asia Timur Dalam Melakukan Manajemen Konflik

Kawasan Asia Timur dapat dikatakan adalah sebuah kawasan yang memiliki kemajuan yang pesat dan berkembang secara dinamis, salah satunya dalam hal ekonomi. Negara-negara di kawasan Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, dan China merupakan negara yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. Hal ini membuat negara-negara maju tersebut akan sulit untuk bekerja sama karena memiliki tujuan yang berbeda sehingga dapat menimbulkan konflik akibat rasa khawatir atau tidak aman antara satu sama lain. Konflik yang terjadi di Asia Timur bukan hanya terjadi di dalam kawasan itu sendiri, namun juga terjadi di luar kawasan Asia Timur. Terdapat 3 konflik yang besar dan berkepanjangan di kawasan Asia Timur, yaitu: Semenanjung Korea, Selat Taiwan, dan Laut China Selatan (Oishi, 2014). Oishi mengatakan bahwa manajemen konflik untuk ketiga konflik tersebut dapat diselesaikan dengan sebuah mediasi rezim. Jika sudah dapat memahami rezim internasional, maka negara-negara yang berselisih akan dapat juga membantu para aktor yang terlibat perselisihan untuk mencapai pemahaman dan definisi bersama terhadap masalah yang terjadi (Oishi, 2014). Konsep dalam mediasi rezim ini juga mampu dibangun dengan menggunakan rezim internasional sebagai fungsi dari manajemen konflik dan mediasi yang lebih jelas lagi agar nantinya dapat menjadi sebuah dasar untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertentangan atau tidak cocok untuk integrasi dan koeksistensi (Oishi, 2014).

Selain itu, sudah jelas bahwa manajemen konflik yang dilakukan dari satu negara ke negara lain, satu regional ke regional lain akan bervariasi dan bisa menimbulkan masalah terutama dalam menangani perselisihan ekonomi dan konflik politik (Swanstrom, 2008). Perbedaan antara nasional dan regional bisa menimbulkan perbedaan juga dalam cara negosiasi dan manajemen konflik. Saat Asia Timur menjadi kawasan yang semakin berpengaruh baik secara ekonomi maupun politik, ada hal yang harus dipahami dalam bagaimana cara Asia Timur mengelola sebuah konflik keamanan. Hal ini sangat penting karena seperti yang sudah disebutkan bahwa kawasan Asia Timur memiliki banyak konflik yang nyata dan berkepenjangan serta ketegangan antara negara kawasan seperti China dan Jepang (Swanstrom, 2008). Konflik merupakan hal yang sangat tidak bisa dihindari dan tidak hanya dapat didefinisikan sebagai kekerasan atau permusuhan, tapi juga dapat diartikan sebagai ketidakcocokan dalam permasalahan seperti perbedaan posisi atau tujuan. Kebanyakan konflik di Asia Timur hanya sebatas konflik politik dan tidak melibatkan militer, namun dari konflik politik tersebut dapat berisiko meningkat menjadi konflik yang melibatkan militer apabila dibiarkan begitu saja (Swanstrom, 2008).

Saat potensi mengadakan resolusi konflik sangat sedikit akibat permusuhan dan kurangnya rasa percaya, maka pendekatan manajemen konflik yang lebih sederhana lagi akan dapat digunakan untuk menghasilkan sebuah hasil yang baik (Swanstrom, 2008). Manajemen konflik dilakukan untuk menangani konflik yang tidak dapat diselesaikan dalam jangka waktu yang pendek, namun konflik yang terbuka dan berlanjut terus menerus juga akan berdampak menggangu hubungan antara negara yang terlibat (Swanstrom, 2008). Manajemen konflik dinilai merupakan hal yang paling efisien untuk menangani konflik yang terjadi di Asia Timur. Namun, kawasan Asia Timur sangat menghindari manajemen konflik secara regional. Sangat sedikit keinginan negara Asia Timur untuk menciptakan struktur yang lebih teratur dan formal agar dapat menangani sebuah konflik (Swanstrom, 2008). Hal ini dikarenakan dalam penyelesaian konflik secara formal akan sangat bersifat permusuhan dan hanya menghasilkan siapa pemenang dan pecundangnya tanpa memfokuskan sebuah kepentingan dan kebutuhan yang lebih berdasarkan istilah hukum (Swanstrom, 2008). Keengganan dalam melakukan manajemen konflik regional juga didukung oleh beberapa hal yang mendasar seperti contohnya kurangnya rasa percaya antara negara-negara di kawasan Asia Timur karena negara-negara di kawasan tersebut merupakan negara kuat dan maju yang pastinya memiliki tujuan yang berbeda. Akan sangat susah apabila ingin menyatukan negara-negara maju di kawasan Asia Timur. Maka dari itu, negara-negara di kawasan Asia Timur dalam menangani sebuah konflik akan selalu melibatkan negara aliansinya seperti Korea Selatan yang beraliansi dengan Amerika Serikat dan China yang beraliansi dengan Korea Utara.

Referensi

Oishi, M. (2014). In Search of an East Asian Way of Conflict Management: Three Regional Cases. International Jurnal of China Studies5(3), 705-731. https://www.researchgate.net/publication/290775377_In_Search_of_an_East_Asian_Way_of_conflict_Management_Three_regional_cases 

Swanstrom, N. (2008). Security and Conflict Management in East Asia. The Korean Journal of Defense Analysis20(3), 187-198. https://doi.org/10.1080/10163270802309048 

6 thoughts on “Kawasan Asia Timur Dalam Melakukan Manajemen Konflik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *