Jepang Mengalami Bubble Economy, Apa Penyebabnya?

Sejak munculnya Jepang sebagai salah satu kekuatan ekonomi global setelah kehancurannya dalam Perang dunia II, perekonomian negara tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Japanese Miracle, yaitu sebuah istilah untuk pertumbuhan ekonomi luar biasa yang dialami oleh Jepang setelah kekalahannya dalam Perang Dunia II. Jepang memiliki pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) yang menempati urutan kedua terbesar di dunia dengan merk dagang seperti Toyota, Sony, Panasonic, dan lainnya yang terkenal di seluruh penjuru dunia. Jepang tidak memiliki sumber daya alam yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya, namun berhasil meredam hal tersebut dengan mengembangkan industri manufaktur seperti mobil dan barang elektronik, sehingga Jepang berhasil berperan sebagai pusat ekonomi dunia. Fenomena kesuksesan ekonomi Jepang ini dapat dikatakan tidak tertandingi dan bertahan hingga tahun 1980-an. Japanese Miracle ini berlangsung hingga krisis finansial Jepang dimulai, yaitu saat memasuki awal dekade 1990-an, perekonomian Jepang mulai mengalami penurunan yang ditandai dengan pecahnya Bubble Economy, yang mana hal tersebut mengantar Jepang memasuki masa krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Apa itu Bubble Economy?

Bubble Economy atau gelembung ekonomi adalah suatu kondisi ekonomi yang ditandai oleh perdagangan dalam volume tinggi dengan harga yang sangat berbeda dari nilai-nilai intrinsik (Girdzijauskas et al., 2009). Istilah bubble digunakan secara berbeda sesuai dengan makna dalam penggunaannya, berdasarkan pengalaman ekonomi Jepang pada akhir 1980-an, istilah bubble dalam hal ini dapat dijelaskan dengan tiga faktor, yaitu kenaikan harga aset yang cepat, aktivitas ekonomi yang berlebihan, dan peningkatan yang cukup besar dalam jumlah uang beredar dan kredit.

Apa faktor penyebabnya?

Perekonomian Jepang mulai menarik perhatian dunia sejak tahun 1970-an. Setelah pusaran ketegangan domestik dan internasional pada tahun 1970-an, indeks mata uang yen menguat dan Jepang mulai mendominasi perekonomian dunia. Tahun 1980-an terbukti saat yang menggembirakan bagi Jepang. Ketika perekonomian Jepang melonjak naik, terutama setelah 1985, kemajuan bangsa Jepang menuju keunggulan ekonomi global tampaknya tidak dapat dihindari. Jepang secara luas dikenal sebagai orang terkaya, berpendidikan, dan berumur paling lama di dunia (Tsutsui & Mazzotta, 2015). Hal tersebut didukung oleh pasar saham, real estate, dan perusahaan Jepang. Namun, kemakmuran dari masa-masa indah ini dibangun di atas fondasi keuangan yang rapuh.

Muncul dan pecahnya Bubble Economy di negara Jepang pada akhir 1980-an sebagian besar diwarnai dengan perilaku agresif bank-bank komersial, runtuhnya beberapa bank, dan perusahaan debitur dengan beban kredit macet yang sangat besar (Hossain, 2011). Perekonomian Jepang telah mengalami fluktuasi yang substansial sejak paruh kedua tahun 1980-an. Dari paruh kedua 1980-an hingga awal 1990-an ketika gelembung ekonomi muncul dan berkembang, terdapat lonjakan harga aset, peningkatan yang cukup besar dalam jumlah uang beredar dan kredit, serta perluasan kegiatan ekonomi yang berlebihan. Pada tahun 1980-an, perekonomian Jepang terbukti meningkat begitu pesat. Pada pertengahan tahun 1980, meningkatnya perekonomian Jepang ini menyebabkan naiknya harga saham dan harga tanah berlipat ganda. Hal ini ditimbulkan oleh tingkat konsumsi masyarakat Jepang terhadap suatu barang yang meningkat. Keadaan ini yang menjadikan Jepang mengalami Bubble Economy.

Deregulasi keuangan sebagai salah satu faktor dalam menciptakan lingkungan yang mendukung terjadinya Bubble Economy, yang memungkinkan perusahaan untuk meminjam banyak untuk berinvestasi pada real estate, lapangan golf, tanah pribadi, dan klub golf keanggotaan untuk rumah tangga. Deregulasi keuangan mendorong perolehan berbagai opsi pembiayaan untuk perusahaan, mengurangi ketergantungan pada bank untuk pendanaan. Pada 1980-an, banyak bank Jepang menggeser target utama mereka dalam penyediaan kredit dari industri manufaktur ke industri barang non traded seperti real estate, keuangan, dan layanan lainnya.

Liberalisasi keuangan dan regulasi yang tidak memadai berperan dalam meningkatnya harga aset. Pada paruh pertama 1980-an, kontrol atas pergerakan modal dibongkar, suku bunga deposito ditinjau kembali dan lembaga keuangan baru diberlakukan. Karena bank kehilangan perusahaan besar ke pasar modal internasional dan pasar sekuritas domestik, mereka menemukan prospek pinjaman alternatif di perusahaan berukuran kecil dan menengah. Perusahaan ini dapat meminjam untuk proyek berisiko atau pengembalian rendah hanya berdasarkan agunan real estate.

Setelah adanya Plaza Accords tahun 1985, yang berusaha untuk mengoreksi surplus perdagangan Jepang dengan melemahkan dolar dan memperkuat yen, Bank of Japan (BOJ) mengejar kebijakan moneter ekspansif untuk mencegah resesi. Kebijakan ekspansif ini menyebabkan ledakan spekulatif dalam real estate dan ekuitas yang menimbulkan persaingan ketat di sektor perbankan, yang pada gilirannya memicu persaingan praktik pemberian pinjaman yang ceroboh. Sistem keuangan Jepang sebagian besar berbasis bank. Setelah perang, sistem keuangan sangat diatur dan bank sangat bergantung pada Bank of Japan (BOJ) dan pinjaman kelompok perusahaan. Karakteristik model sistem keuangan Jepang setelah perang termasuk rasio hutang/ekuitas yang tinggi, ketergantungan yang lebih besar pada pinjaman bank daripada sekuritas pasar, hubungan yang lebih dekat antara bank dan peminjam, perusahaan yang luas kepemilikan silang, panduan yang lebih besar dari pemerintah dalam alokasi kredit, dan lainnya. Sistem ini dikenal sebagai sistem “bank utama” yang terbukti memberikan kontribusi besar pada pertumbuhan ekonomi Jepang setelah perang.

Pada tahun 1986, gelembung ekonomi kian bertambah besar yang disebabkan oleh komoditi ekspor Jepang yang mencapai puncak dan menyebar hampir ke seluruh dunia. Hal ini disebabkan oleh terjadinya gelombang ekspor kendaraan dan barang elektronik bermodal kecil hampir ke seluruh penjuru dunia. Banyak perusahaan Jepang membeli banyak perusahaan dan properti serta berinvestasi dalam berbagai macam jenis proyek pembangunan. Dalam pembengkakan gelembung ekonomi, keserakahan adalah faktor yang tidak dapat disangkal, menutup mata ketika keuntungan besar dipertaruhkan.

Perekonomian Jepang telah stagnan kurang lebih selama lebih dari satu dekade, dan tingkat pertumbuhan ekonomi Jepang selama periode Bubble Economy adalah yang terendah di antara negara-negara industri besar di dunia. Perilaku bank yang agresif, perpajakan dan peraturan yang mempercepat kenaikan harga tanah, mekanisme yang lemah, dan efek terlalu percaya diri bagi Jepang. Faktor-faktor tersebut saling terkait satu sama lain yang memang dianggap faktor awal yang menyebabkan kemunculan Bubble Economy di negara Jepang.

Referensi

Girdzijauskas, S., Štreimikienė, D., Čepinskis, J., Moskaliova, V., Jurkonytė, E., & Mackevičius, R. (2009). Formation of Economic Bubbles: Causes and Possible Preventions. Technological and Economic Development of Economy15(2), 267-280. https://doi.org/10.3846/1392-8619.2009.15.267-280

Hossain, M., & Rafiq, F. (2011). Asset Price Bubble and Banks: The Case of Japan. Bangladesh Development Studies, 34(1), 23-38. https://www.jstor.org/stable/23342762 

Tsutsui, W. M., & Mazzotta, S. (2015). The Bubble Economy and the Lost Decade: Learning from the Japanese Economic Experience. Journal of Global Initiatives: Policy, Pedagogy, Perspective, 9(1), 57-74. https://digitalcommons.kennesaw.edu/jgi/vol9/iss1/6

Author: Ghina Rahmah Ufairah

Jepang dan Negara Industri Klp C

65 thoughts on “Jepang Mengalami Bubble Economy, Apa Penyebabnya?

  1. Such a great article, thank you author that’s very informatif and so helpful..keep up the good work author
    And keep it up too

  2. Pingback:block screenshot

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *