Jepang Memilih Menjaga Hubungan Dengan Afghanistan: Sikap Pro atau Kontra Terorisme ?

Standarisasi keamanan internasional sudah memasuki era kontemporer. Hal yang menyangkut keamanan tradisional seperti ancaman dan perebutan wilayah kedaulatan sudah mulai tergeser dengan isu kejahatan kontemporer yang lebih krusial. Karena aktornya tidak lagi hanya negara namun juga non negara yang pergerakan kejahatannya sulit terdeteksi karena sifatnya yang terselubung. Seperti sebuah agen-agen yang menjembatani para imigran ilegal (people smuggling), penjualan manusia (human trafficking) ataupun sekumpulan pasukan pemberontak yang muncul secara ekstrim di dunia internasional yaitu terorisme. Pembahasan kali ini berfokus kepada salah satu isu kejahatan yang mengancam keamanan internasional kontemporer yaitu terorisme. Terorisme merupakan jaringan kelompok radikal, diketahui awal keberadaannya berasal dari kawasan Timur Tengah, salah satunya Afghanistan. Istilah ini pertama kali mengacu pada gerakan radikal bernama Al-Qaeda, yang booming setelah perencanaan serangan jatuh pesawat bunuh diri kelompoknya berhasil hancurkan gedung WTC pada tanggal 9 September 2001 di Amerika Serikat (AS). Amerika Serikat akhirnya menunjukan sikap perlawanannya dengan mengeluarkan kebijakan pengaruh war on terror.  

Jepang sebagai negara mitra yang sebagian besar berlindung kepada keamanan negara Amerika Serikat. Atas dasar solidaritasnya merespon kebijakan war on terror dengan memberikan dukungan penuh sikap kontra terorisme . Jepang mengeluarkan undang-undang anti-terorisme yang didalamnya berguna untuk mempermudah Jepang untuk berkontribusi dalam memberikan bantuan non-tempur, dukungan finansial, dan kemanusiaan kepada sekutunya.Sadar bahwa dukungan finansial saja belum tentu cukup, kemudian Jepang mengeluarkan pasukan self defense force-nya (SDF) untuk menambah dukungan kegiatan kebijakan anti-terorisme. SDF telah menjembatani bantuan logistik, transportasi, serta medis kepada pasukan AS saat melawan terorisme di Afghanistan (Walia, 2020).  

Tahun 2001 pada masa pemerintahan Koizumi, dukungan bertambah dengan mengirimkan armada kapal Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) ke Samudra Hindia, Jepang memastikan bahwa penempatan kapal JMSDF ini sebagai bentuk bantuan non-tempur yang bertujuan untuk mendukung perdamaian di Afghanistan. Selain itu Jepang juga aktif pada upaya pencegahan pendanaan teroris di PBB. Upaya kontra-terorisme ini ditunjukan sebagai perannya untuk mencapai keamanan global, termasuk pada perdamaian di negara-negara yang ditempati oleh pasukan teroris seperti Afghanistan. Selain itu untuk menunjukan sikap solidaritas aliansinya dengan AS (Walia, 2020).

Bantuan  Jepang Kepada Afghanistan 

Pasca serangan 9/11, AS bersama pasukan multinasional asuhannya segera melakukan serangan udara secara bertubi-tubi terhadap Taliban di Afghanistan, aksi balas dendam berhasil dengan jatuhnya masa pemerintahan Afghanistan yang dipimpin oleh Taliban. Kemudian Afghanistan memasuki babak pembangunan masa pemerintahan yang baru, Afghanistan memutuskan untuk menerapkan pemerintahan yang demokratis. Jepang yang sempat menyatakan keprihatinannya terhadap apa yang terjadi di Afghanistan dan sadar akan kebutuhan Afghanistan untuk mendapatkan dukungan dari negara internasional. Sebagai upaya  kontra terorisme jepang terhadap negara yang menjadi tempat sekaligus korban dari adanya kelompok teroris memutuskan untuk memberikan dukungan yaitu, dengan menurunkan bantuan kepada pemerintah Afghanistan. Jepang mengirimkan ahli hukum ke Afghanistan, untuk memberikan bimbingan pada perumusan Konstitusi baru. Tujuan dari perumusan Konstitusi baru yaitu supaya Afghanistan tidak lagi terjebak oleh adanya keberadaan terorisme yang merajalela di negaranya. Selain itu Jepang juga memberikan dukungan finansial menjelang pemilihan parlemen dan presiden. Dukungan Jepang terus berlanjut khususnya yang sangat dominan yaitu pada sektor pemberdayaan perdamaian, mengamankan kerjasama, rekonstruksi dan bantuan kemanusiaan (Walia. 2020) 

Sempat terjadi hambatan ketika Jepang ingin bekerjasama pada sektor keamanan. Pengiriman pasukan ke Afghanistan sempat tertahan, lantaran hukum pasal 9 Konstitusi 1947 yang tidak memperbolehkan Jepang untuk menggunakan kekuatan militernya dalam menyelesaikan suatu konflik. Telah menjadi pembelajaran bagi Jepang, hingga pada Tahun 2014 Jepang melakukan reinterpretasi pasal 9 Konstitusi ini dengan memperbolehkan SDF untuk berpartisipasi dalam operasi-operasi militer di luar wilayah Jepang. Tujuan adanya reinterpretasi ini juga berguna untuk menjaga stabilitas kawasan Asia Timur. Meskipun masih harus dibawah naungan PBB sebagai Peacekeeping Operation (Wredhanto, 2018).

Setelah sempat AS menarik pasukannya dari Afghanistan. Jepang segera memanfaatkan kesempatan penuh pada perannya di Afghanistan. Seperti pepatah yang sangat terkenal dalam dunia internasional “There no ain’t such thing as a free lunch” yang jika diartikan bahwa tidak ada hal sesuatu yang telah dilakukan dan diterima secara cuma-cuma di dunia ini. Semua secara otomatis akan tertuju pada kaitan politik internasional dan berujung pada pemenuhan kepentingan nasional negara. Tak terkecuali bagi Jepang, yang turut andil memanfaatkan kesempatan yang didapat dari hubungan geopolitiknya yaitu Afghanistan yang memiliki potensi kuat di bidang perminyakan. Karena selama ini Jepang hanya bergantungkan sumber minyaknya di negara Asia Barat (Walia, 2020). 

Kesimpulan 

Pada kenyataannya memang Afghanistan sangat memerlukan bantuan negara lain. Pasalnya Negara tersebut telah berpuluh-puluh tahun mengalami gejolak konflik yang tak kunjung usai yang disebabkan oleh faktor krusial, karena telah menyangkut hal domestik dan internasional. Karena konflik yang berkepanjangan serta semakin teririsnya faktor kesejahteraan yang dialami oleh warga negaranya, membuat Afghanistan kelelahan. Oleh karena itu, Afghanistan pada akhirnya menerima, bahkan memburu bantuan kepada negara-negara yang dipercayanya demi membangun kembali kehidupan sejahtera yang sudah cukup lama dirindukan oleh masyarakat di negaranya.

Jepang memiliki sikap kontra terhadap bentuk terorisme. Termasuk terorisme yang berada di negara Afghanistan. Kerjasama yang dilayangkan oleh Jepang kepada Afghanistan adalah sebagai bentuk partisipasi Jepang terhadap isu yang cukup mengancam stabilitas negara ataupun hubungan geopolitik negaranya di dunia internasional. Namun semua pada akhirnya memang tidak terlepas dalam memenuhi kepentingan nasionalnya.

Referensi 

Walia, S. (2020). Securing peace in Afghanistan: A primer on Japan’s role (ORF Issue Brief No. 347). Observer Research Foundation. https://www.orfonline.org/research/securing-peace-in-afghanistan-a-primer-on-japans-role-63634/ 

Wredhanto, D. M. (2018). Reinterpretasi pasal 9 konstitusi 1947 Jepang: Potensi ancaman dalam komitmen Jepang pada war on terror. Journal of International Relations, 4(4), 660-667. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jihi/article/view/21883/20153

Author: Syifa Ramadhani

43 thoughts on “Jepang Memilih Menjaga Hubungan Dengan Afghanistan: Sikap Pro atau Kontra Terorisme ?

    1. artikelnya sangat bagus, mudah dipahami dan juga sangat bermanfaat untuk orang-orang yg belum begitu paham antara jepang dan juga afghanistan

  1. Artikel yg menarik dan informatif baru tahu Jepang tertarik juga dengan isu terorisme wah, semangat menulisnya and good job author

  2. Hello

    YOU NEED QUALITY VISITORS FOR YOUR: iirs-center.com ?

    WE PROVIDE HIGH-QUALITY VISITORS WITH:
    – 100% safe for your site
    – real visitors with unique IPs. No bots, proxies, or datacenters
    – visitors from Search Engine (by keyword)
    – visitors from Social Media Sites (referrals)
    – visitors from any country you want (USA/UK/CA/EU…)
    – very low bounce rate
    – very long visit duration
    – multiple pages visited
    – tractable in google analytics
    – custom URL tracking provided
    – boost ranking in SERP, SEO, profit from CPM

    CLAIM YOUR 24 HOURS FREE TEST HERE=> ventfara@mail.com

    Thanks, Nicolas Romeo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *