Jepang, Korea Selatan dan Korea Utara: Hubungan Diantara Trauma Luka Lama

Jepang merupakan kekuatan yang paling dominan di kawasan Asia Timur pada masa Perang Dunia I hingga akhir Perang Dunia II, sehingga Jepang dapat dikatakan sebagai jagoan di kawasan ini yang kekuatannya banyak disegani oleh negara lain. Penguasaan semenanjung korea oleh Jepang merupakan salah satu bukti nyata yang menunjukkan betapa kuatnya Jepang pada saat itu, namun ternyata penguasaan ini menyebabkan luka yang mendalam bagi Korea Selatan maupun Korea Utara.

Penguasaan Semenanjung Korea oleh Jepang
Pada tahun 1910-1945, Jepang sebagai kekuatan yang dominan berhasil menguasai semenanjung korea dan seperti penjajahan pada umumnya, pendudukan Jepang atas semenanjung ini menyebabkan luka yang mendalam bagi rakyat korea. Menurut Lisbet (2019), selama penjajahan ada banyak kebijakan yang merugikan warga korea, seperti melarang penggunaan bahasa Korea, memaksa warga Korea menerima sistem penamaan Jepang, dan merekrut secara paksa wanita Korea untuk menjadi budak seks bagi tentara Jepang, atau yang biasa disebut dengan comfort women.

Rakyat semenanjung korea harus merasakan penderitaan masa penjajahan Jepang selama lebih dari 35 tahun lamanya, hingga akhirnya Jepang mengalami kekalahan yang sekaligus menandakan berakhirnya Perang Dunia II. Kekalahan ini menyebabkan kekuatan Jepang menurun secara signifikan, yang membuat rakyat Korea semakin bersemangat untuk berjuang agar dapat bebas dari penjajahan Jepang. Oleh karena pengaruh Jepang yang semakin lemah, semenanjung ini kemudian terbagi menjadi dua setelah terjadinya Perang Korea, yaitu Korea Selatan yang menganut paham liberalis demokrasi dibawah naungan Amerika Serikat, dan Korea Utara yang menganut ideologi komunisme yang sejalan dengan Uni Soviet.

Jepang dan Korea Selatan
Menurut Adityani (2018), Jepang dan Korea Selatan adalah negara yang memiliki kedekatan geograifs, dan berbagai persamaan nilai dan budaya, namun hubungan kedua negara tersebut sering mengalami ketegangan yang disebabkan oleh faktor sejarah. Normalisasi hubungan antara Jepang dan Korea Selatan sebenarnya sudah sering diinisiai oleh Amerika Serikat, yang mana dalam hal ini AS juga memiliki kepentingan untuk membendung paham komunis di kawasan tersebut. Namun, usaha AS tidak berjalan dengan mulus, Jepang masih bersikeras atau enggan untuk mengakui Korea Selatan sebagai pemerintahan yang sah, dan tuntutan kompensasi atau ganti rugi atas apa yang terjadi selama masa penjajahan seolah tidak dipedulikan oleh Jepang.

Singkat cerita, dengan berbagai peristiwa yang terjadi, pada tahun 1965 akhirnya Jepang menandatangani perjanjian yang menjadi titik balik bagi Korea Selatan. Dimana perjanjian tersebut berisikan bahwa Jepang mengakui pemerintahan Korea Selatan sebagai pemerintahan yang sah, sesuai dengan resolusi yang dikeluarkan oleh PBB. Selain itu, dalam perjanjian lain juga mencantumkan bahwa Jepang bersedia untuk memberikan bantuan yang diperlukan oleh Korea Selatan. Serangkaian penandatangan perjanjian ini, sebagai salah satu bentuk normalisasi hubugan antara Jepang dengan Korea Selatan. (Hook, 2005, Chapter 9)

Sejak saat itu, hubungan antara Jepang dan Korea Selatan mulai membaik, kerjasama yang dilakukan antar kedua negara juga berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan normalisasi hubungan ini sebagai bentuk pengaruh dari Amerika Serikat yang menjadi ”rekan kerja” kedua negara tersebut.

Jepang dan Korea Utara
Berbeda dengan Korea Selatan yang masuk dalam pengaruh Amerika Serikat, Korea Utara justru lebih dekat dengan Uni Soviet, yang mana menyebabkan negara ini menganut paham yang sama dengan Uni Soviet, yaitu komunisme. Perbedaan paham antara Jepang dan Korea Utara tentu menjadi hambatan bagi kedua negara ini untuk dapat melakukan normalisasi hubungan.

Pemulihan hubugan diplomatik Uni Soviet dengan Jepang pada tahun 1956, merupakan salah satu faktor yang mendorong terjadinya kontak antara Jepang dengan Korea Utara. Dimana hal ini juga sekaligus menandakan bahwa melemahnya tingkat struktur bipolar dari sistem internasional. Kontak yang terjadi antara Jepang-Korea Utara tersebut memberikan hasil, yang mana dimulainya perdagangan bilateral berskala kecil, serta mengizinkan warga Korea di Jepang untuk kembali pulang ke tanah air mereka di Korea Utara. (Hook, 2005, Chapter 9)

Namun, perbedaan paham yang dianut antara Jepang dan Korea Utara menyebabkan hubungan kedua negara ini tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Bahkan, hubungan diplomatik ini cenderung menurun dibandingkan dengan hubungan Jepang dengan Korea Selatan, yang mana pada akhir abad 20, Jepang-Korea Selatan berhasil mencapai kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan.

Hubungan Diantara Trauma Luka Lama
Penjajahan yang dilakukan Jepang terhadap semenanjung korea menyisakan luka dan trauma tersendiri bagi rakyat Korea, terutama bagi setiap individu yang merasakan sendiri kepedihan pada saat itu. Tetapi tidak hanya bagi individu yang hidup saat itu, generasi penerus khususnya di Korea Selatan, juga kurang lebih dapat merasakan atau setidaknya membayangkan kondisi dan situasi masa penjajahan Jepang melalui berbagai seumber, seperti buku pelajaran, artikel pendidikan, dan lainlain. Selama lebih dari 35 tahun, rakyat Korea seolah berada dibawah telapak kaki bangsa Jepang.

Sejarah kelam masa penjajahan Jepang secara tidak langsung mempengaruhi hubungan yang terjalin antara Jepang-Korea Selatan maupun Jepang-Korea Utara. Meskipun hubungan Jepang dan Korea Selatan saat ini cenderung berjalan sebagaimana mestinya, tetapi seringkali trauma akan luka lama yang timbul menyebabkan hubungan ini menjadi dinamis. Menurut Rafie (2020), Korea Selatan beberapa waktu lalu ingin menyita aset-aset peninggalan penjajahan Jepang, yang mana Jepang menggambarkan hal ini sebagai pelanggaran hukum internasional.

Sedangkan seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, hubungan Jepang dengan Korea Utara tidak mengalami pertumbuhan atau peningkatan yang signifikan hingga saat ini. Ditambah lagi, Korea Utara yang seolah menutup diri bagi bangsa lain mempersulit Jepang untuk dapat melakukan normalisasi hubungan dengan negara ini. Jika melihat kondisi yang terjadi saat ini, hubungan Jepang-Korea Utara untuk kedepannya mungkin masih sulit untuk mencapai hubungan baik layaknya hubungan Jepang-Korea Selatan. Maka dari itu, sampai sekarang belum ada hubugan diplomatik resmi yang dijalin antara Jepang dengan Korea Utara.

Dapat disimpulkan bahwa sejarah kelam masa penjajahan Jepang terhadap semenanjung Korea menimbulkan luka yang mendalam bagi rakyat Korea itu sendiri. Luka ini yang seringkali menganggu hubungan diplomatik yang terjalin antara Jepang dengan Korea, khususnya Korea Selatan. Tuntutan kompensasi akan masa lalu seolah menjadi “momok” bagi hubungan antar negara ini. Namun, penggalan sejarah yang kelam tersebut kemungkinan hanya akan menjadi bagian dari dinamika dalam hubungan yang terjalin antara Jepang dengan Korea Selatan, kecil potensinya untuk dapat benar-benar merusak hubungan tersebut. Oleh karena itu, hubungan ini cocok untuk digambarkan sebagai hubungan diantara trauma luka lama.

Demikian, semoga artikel singkat ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan bagi para pembaca, maupun penulis. Terima kasih.

Referensi
Hook, G. D. (2005). Japan East-Asia Political Relations. Dalam G. D. Hook, J. Gilson, C. W. Hughes, & H. Dobson (Eds.), Japan’s Internatonal Relations: Politics, Economics, and Security (eds. 2, 178-192). Routledge.

Adityani, F. D. (2018). Memori dan Trauma dalam Hubungan Internasional: Pengaruh Isu “Comfort Women” terhadap Kerjasama Keamanan Jepang dan Korea Selatan. Journal of International Relations, 4(1), 22-30. http://ejournal-sl.undip.ac.id/index.php/jihi

Lisbet. (2019). Ketegangan Hubungan Jepang-Korea Selatan dan Implikasinya. Kajian Singkat terhadap Isu Aktual dan Strategis, IX(14), 7-12. http://berkas.dpr.go.id/puslit/files/Info%Singkat-XI-14-II-P3DI-Juli-2019-238.pdf

Rafie, B. T. (2020, 4 Agustus). Hubungan Jepang dan Korea Selatan Memburuk Gara-gara Masa Lalu. Kontan.co.id. https://internasional.kontan.co.id/news/hubungan-jepang-dan-korea-selatan-memburuk-gara-gara-masa-lalu

Author: Mohammad Diego Ar-Rasyid

Kelas Jepang dan Negara Industri - C

23 thoughts on “Jepang, Korea Selatan dan Korea Utara: Hubungan Diantara Trauma Luka Lama

  1. Kolonialisasi yang dilakukan oleh Jepang tentu meninggalkan luka lama bagi kedua negara di Semenanjung Korea yang menyebabkan sulitnya untuk menjalin hubungan diantara negara tersebut. Artikel yang menarik Diego, ditunggu artikel selanjutnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *