Jepang dan Perkembangan Anime di Asia Tenggara

Dikenal dengan perkembangan ekonominya yang sangat pesat, Jepang berada pada first place di Asia berhubungan dengan masalah government-related sampai budaya nya pun berpengaruh tinggi di Asia Tenggara. Pasca Jepang Bubble Economy, Jepang mengalami masa perubahan sosiokultural dan ekonomi (Daliot-Bul, 2009). Perubahan yang paling mencolok yaitu, disaat perkembangan industri lain menurun, pelayanan dan produk playful teen-centric; fashion, telekomunikasi, entertainmen, dan budaya multimedia dari anime, manga, komputer dan video game, termasuk semua barang dagangan terkait, barang koleksi dan mainan menjadi komponen yang tumbuh paling cepat dan menjadi industri ekspor paling sukses dari ekonomi Jepang yang dilanda resesi.

Anime simpelnya diartikan sebagai animasi, lebih tepatnya dalam Bahasa Jepang merupakan アニメ atau animated cartoon (Bond, 2020). Hanya karena anime merupakan animasi, tidak berarti untuk anak-anak. Untuk konten anime yang ditonton anak-anak, periksa rating dan cari istilah spesifiknya. クールジャパン atau Cool Japan telah menggantikan posisi dan gambaran Jepang yang sebelumnya merupakan Kigyō shakai diartikan dengan a work-oriented enterprise society. Transformasi dalam pencitraan budaya ini melebih-lebihkan pergeseran kekuasaan dengan mengabaikan kompleksitas yang melekat pada heterogenitas sosiokultural.

Policy makers Jepang memandang anime sebagai ujung tombak Cool Japan, yang secara luas mendefinisikan upaya bangsa untuk mengelola dan memanfaatkan pertumbuhan industri konten (kontentsu sangyô, yang di tempat lain dikenal sebagai industri hiburan, industri media, atau industri budaya) (Condry, 2009). Pada tahun 2002, ketika perkembangan ekonomi Jepang kembali meningkat, seorang jurnalis bernama Douglas McGray menerbitkan sebuah artikel dalam majalah Foreign Policy yang menarik perhatian dan disebut dengan Japan’s Gross National Cool. McGray (2002; Condry, 2009) berargumen bahwa Jepang menciptakan kembali negara adidaya melalui ekspor barang-barang budaya dan gaya yang tidak hanya menjadi bukti nyata relevansi internasional Jepang, tetapi juga kekuatan komersial yang kuat.

Pemerintah Jepang memandang industri konten menjanjikan, karena mereka berpikir bahwa Jepang belum mengeksploitasi properti budayanya secara memadai. Berbeda dengan angka yang sering dikutip bahwa 60% dari semua acara TV kartun yang disiarkan di seluruh dunia dibuat di Jepang, Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri juga menemukan bahwa pendapatan yang terkait dengan industri konten Jepang sebagai persentase dari PDB relatif rendah (2%) dibandingkan dengan AS (5%) dan dibandingkan dengan rata-rata dunia (3%) (Condry, 2009). Dalam upaya untuk berbuat lebih banyak, Kantor Perdana Menteri telah membentuk satuan tugas untuk mendorong perkembangan Jepang sebagai nation founded on intellectual property.

Wacana intelektual yang euforia tentang keberhasilan global budaya populer Jepang telah mendorong para sarjana Jepang untuk menghubungkan budaya populer dengan kekuatan ekonomi, politik dan diplomatik. Tak lama setelah pergantian abad ini, budaya populer Jepang dirujuk secara luas di media, di lingkungan akademis dan di lembaga pemerintah sebagai sumber daya nasional yang oleh Joseph Nye disebut soft power (Daliot-Bul, 2009). Dalam pergeseran besar dari struktur kekuasaan yang lebih tradisional, kekuatan ‘lunak’ sebagian besar berasal dari sumber daya tak berwujud seperti budaya dan ideologi daripada dari tindakan militer atau insentif ekonomi.

Upaya pemerintah Jepang untuk memanfaatkan keberhasilan global budaya populer Jepang untuk mengintensifkan kekuatan lunak global Jepang dan menciptakan citra budaya yang menarik bagi Jepang telah menarik perhatian para ekonom dan ilmuwan politik dalam beberapa tahun terakhir. Dengan perspektif para petinggi Jepang terhadap anime, membuat Jepang menjadikan anime sebagai salah satu alat diplomasi publik. Menurut saya hal ini merupakan keberhasilan besar, karena anime maupun manga memberikan dampak yang sangat besar dalam perubahan kebudayaan di wilayah Asia Tenggara.

Salah satu perubahan yang sangat mencolok adalah meningkatnya antusias akan interest dengan bahasa Jepang. Anime merupakan manga yang dianimasikan. Manga sendiri berbentuk komik yang ditulis oleh artis-artis Jepang. semenjak pengenalan anime dan manga, selain perkembangan peminat pembelajar bahasa Jepang, juga terjadi peningkatan dalam penerbitan komik Jepang. Selain itu, merchandise yang diproduksi oleh Jepang, di ekspor worldwide. Meskipun pada tahun-tahun terakhir ini Hallyu atau Korean Wave mendominasi perubahan budaya di dunia, pengaruh anime tetap tidak hilang. Beberapa yang sangat terkenal yaitu Pokemon, One Piece, Naruto, Dr. Conan, dan masih banyak lagi.

Pasar dan komunitas di Asia Timur dan Tenggara berkumpul sebagai akibat dari kekuatan ekonomi, sosial, dan budaya. Di seluruh kota di wilayah ini, khususnya, pasar untuk budaya populer dan mekanisme kerja sama sedang dibangun, proses yang meletakkan kerangka diskursif dan konseptual yang kokoh untuk pertemuan budaya daerah. Secara bersamaan, perusahaan, produsen, dan pengusaha telah menciptakan apa yang disebut platform di mana orang-orang yang berbeda dari komunitas perkotaan yang berbeda di Asia Timur dan Tenggara dapat mengakses keragaman budaya populer yang sama. Ini adalah ruang di mana produksi dan inisiatif budaya bersama dapat direalisasikan, termasuk untuk platform Japanisation dan Hallyu.

Jepang merupakan sebuah “manga superpower”, menggantikan posisi Amerika sebagai eksportir komik dan animasi terbesar di dunia (Wai-ming, 2002). Di Asia sendiri, komik dan animasi Jepang sudah popular sejak tahun 1980an. Belakangan ini, hampir semua negara di Asia memiliki edisi komik Jepang mereka sendiri dan televisi mereka menayangkan serial animasi Jepang setiap hari. Berbagai bentuk budaya komik dan animasi Jepang, seperti kafe komik (manga kissha), rental komik, dojinshi (manga amatir) dan cosplay (costume play), telah merambah budaya konsumen di kota-kota besar Asia.

Negara-negara Asia Tenggara, terutama Thailand, Singapura, Malaysia, Indonesia dan Vietnam, juga terpesona dengan komik dan animasi Jepang. Negara-negara Asia Tenggara jarang menghasilkan animasi komersial dan dengan demikian pengaruh Jepang dapat dilihat terutama dalam produksi komik. Banyak komikus Asia Tenggara meniru gambar, cerita, suasana, teknik, dan gaya komik Jepang. Komik dan animasi Jepang memiliki pengaruh yang kuat pada budaya populer dan industri hiburan Asia.

Thailand menempati peringkat nomor 1 di antara negara-negara Asia Tenggara untuk tingkat keterlibatan yang tinggi dalam bisnis terkait animasi dari Jepang, menurut Organisasi Perdagangan Eksternal Jepang (Jetro) (“Thailand the Top Market in Southeast Asia for Animated Content From Japan”, 2016). Dampak terbesar terlihat dari tingginya demand untuk animasi Jepang serta merchandise yang dijual. Selain itu peminat masyarakat Asia Tenggara untuk mengunjungi dan mempelajari all about Japan meningkat drastis. Bahkan, event-event besar contoh cosplay memiliki peminat yang tinggi, dan banyak juga pemuda yang mengubah kebiasaan dan preferensi kesukaan kriteria terhadap lawan jenis disesuaikan dengan apa yang mereka lihat di manga.

Referensi

Condry, I. (2009). Anime Creativity: Characters and Premises in the Quest for Cool Japan. Theory, Culture & Society, 26(2–3), 139–163. https://doi.org/10.1177/0263276409103111

Daliot-Bul, M. (2009). Japan brand strategy: The taming of ‘Cool Japan’ and the challenges of cultural planning in a postmodern age. Social science Japan journal, 12(2), 247-266. https://doi.org/10.1093/ssjj/jyp037

Wai-ming, Ng. (2002). The impact of Japanese comics and animation in Asia. Journal of Japanese Trade & Industry: July/August, 2, 1-4. http://www.cuhk.edu.hk/jas/staff/benng/publications/anime1.pdf

Bond, J. (2020, 26 Agustus). Why anime is more popular now than ever. Dailydot. https://www.dailydot.com/parsec/what-is-anime/

Thailand the Top Market in Southeast Asia for Animated Content From Japan, (2016, 19 Agustus). Nation Thailand. https://www.nationthailand.com/business/30293371.

Author:

36 thoughts on “Jepang dan Perkembangan Anime di Asia Tenggara

  1. Tiap negara punya “indentitas” nya masing Jepang sejak lama terkenal karna manga/cosplayer .. mengekor Jepang skrg korea boombing dengan darkor dan kpopnya
    Semoga Indonesia menyusul menjadi salah satu negara yang maju dan terkenal karna hal positif seperti Jepang

  2. Sangat informatif 👍👍

    Berkaitan dengan drama korea gimana tu? Agresifitas Jepang dengan Anime nya sudah se agresif korea belum sii? 😁

  3. Informatif banget artikelnyaa
    Emang siii pecinta anime di asia tenggara tuh banyak, terutama Indonesia yaa

    Terimakasih yaa artikelnya sangat menambah wawasan saya 🙂

  4. Artikel yang sangat menarik untuk dibaca, menambah wawasan mengenai sektor anime dalam hubungan Indonesia dengan Jepang

  5. Pingback:World Market URL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *