Jepang dan Isu Lingkungan

Permasalahan lingkungan sudah menjadi sebuah masalah yang tidak hanya diperhatikan oleh masyarakat namun juga diperhatikan oleh negara-negara yang ada di dunia ini, salah satunya adalah negara Jepang. Jepang merupakan negara yang penuh dengan sektor industri yang di mana sektor industri merupakan penyumbang masalah lingkungan terbesar, terutama masalah akibat limbah industri. Namun hal tersebut bukan berarti membuat Jepang tidak perduli dengan masalah lingkungan. Jepang melakukan kerja sama baik secara bilateral maupun multilateral untuk mengatasi masalah lingkungan yang sering terjadi. Kerja sama lingkungan Jepang secara bilateral dilakukan dengan China. Kerja sama lingkungan yang dilakukan oleh Jepang dengan China awalnya adalah sebuah tanggapan atas permintaan Jepang dengan China yang membuat Jepang memberikan banyak kontribusi besar di bidang kebijakan lingkungan, pengembangan sumber daya manusia, sistem manajamen lingkungan, dan pembangunan infrastruktur fisik (Hirono, 2007).

Jepang yang bekerja sama dengan China sangat terlibat dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan yang terjadi di negara China dan kontribusi ini jelas menjadi sebuah kontribusi yang akan terus dimainkan oleh Jepang sebagai peran penting dalam meningkatkan lingkungan China di tahun-tahun yang akan datang (Hirono, 2007). Jepang juga membantu masyarakat-masyarakat di China meningkatkan kesadaran mereka terhadap lingkungan dan memberdayakan kelompok warga lingkungan di China. Bantuan lainnya yang diberikan oleh Jepang untuk menyelesaikan masalah lingkungan di China berupa sebuah pinjaman uang dan juga kerja sama teknis dengan pemerintah China dalam menyediakan banyak konsep serta mekanisme baru dalam kebijakan di bidang lingkungan (Hirono, 2007). Kerja sama ini sangat membantu China karena banyak sekali bantuan yang diberikan Jepang untuk negara tersebut. Jepang juga membantu China untuk memberikan landasan bagi pengembangan industri lingkungan di China melalui transfer teknologi serta pengembangan sumber daya manusia (Hirono, 2007). Dapat dikatakan dalam kerja sama ini Jepang sangat memainkan peran penting dalam melindungi lingkungan di China dengan banyak memberikan bantuan serta fasilitas. Program kerja sama Jepang dan China ini juga melibatkan organisasi non-internasional yang dimana Jepang memberikan bantuan berupa dana untuk lingkungan global dan telah menjadi sebuah faktor yang signifikan dalam menyelesaikan masalah lingkungan yang muncul di China (Hirono, 2007). Kerja sama yang dilakukan oleh Jepang dan China tidak hanya dapat memperbaiki masalah lingkungan di China, namun juga dapat meningkatkan hubungan kedua negara tersebut.

Dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan Jepang juga bekerja sama secara multilateral dengan negara-negara yang ada di kawasan Asia Timur Laut. Negara-negara yang berada di kawasan Asia Timur Laut adalah Republik Rakyat China, Republik China (Taiwan), Jepang, Republik Korea, Republik Demokratik Rakyat Korea, Mongolia, dan Timur Jauh Rusia. Kerja sama yang terjadi di Asia Timur Laut bermula pada tahun 1988 dan The Japan-Korea Environmental Symposium yang diselenggarakan oleh masing-masing badan lingkungan yang ada di Jepang dan Korea Selatan (Takahashi & Kato, 2001). Pada saat itu China hadir sebagai partisipan dan Uni Soviet serta Mongolia hadir sebagai pengamat. Forum tersebut kemudian berkembang menjadi forum untuk saling bertukar informasi dan juga memberi kemungkinan untuk melakukan kerja sama regional antar lima negara tersebut. Pada saat KTT Rio tahun 1992, simposium tersebut berganti nama menjadi Northeast Asian Conference on Environmental Cooperation (NEAC) (Takahashi & Kato, 2001). NEAC memberikan kesempatan kepada kementerian atau lembaga lingkungan dari lima negara di Asia Timur Laut termasuk Jepang, Korea Selatan, China, dan Rusia serta organisasi-organisasi seperti United Nations Environment Programme (UNEP) dan United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UN/ESCAP) untuk bertemu agar dapat bertukar informasi dan mendiskusikan tindakan apa yang akan diambil di masa depan untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan yang terjadi (Takahashi & Kato, 2001). Sudah banyak isu yang diperhatikan dan menjadi agenda oleh NEAC, baik isu lingkungan secara global maupun lokal. Status lingkungan dari negara yang bergabung dengan NEAC memiliki status lingkungan yang sangat mengkhawatirkan seperti contohnya polusi udara, polusi air, penebangan hutan, bahan kimia berbahaya, bencana alam, dan lainnya (Myungjin, 2004). Selain NEAC, terdapat juga North-East Asian Subregional Program on Environmental Cooperation (NEASPEC). Jika NEAC adalah sebuah forum kerja sama lingkungan antara organisasi lingkungan pemerintah, pemerintah daerah, dan spesialis, NEASPEC mewakili kerja sama lingkungan melalui kementrian luar negeri (Takahasi & Kato, 2001). Dari banyaknya kerja sama yang diikuti oleh Jepang secara bilateral maupun bilateral dapat memperlihatkan bahwa Jepang termasuk ke dalam negara yang sangat peduli terhadap lingkungan meskipun permasalahan lingkungan di negara Jepang sendiri masih harus diselesaikan juga.

Referensi

Hirono, R. (2007). Japan’s Enviromental Cooperation with China During the Last Two Decades. Asia-Pacific Review, 14(2), 1-16. https://doi.org/10.1080/13439000701733226

Myungjin, K. (2004). Enviromental Cooperation in Northeast Asia. Impact Assessment and Project Appraisal, 22(3), 191-203. https://doi.org/10.3152/147154604781765897

Takahashi, W., & Kato, K. (2001). Regional / Subregional Environmental Cooperation in Asia. Institute for Global Environmental Strategies. http://www.jstor.org/stable/resrep00849.8

4 thoughts on “Jepang dan Isu Lingkungan

  1. Pingback:seo agency
  2. Pingback:benelli guns

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *